16 October, 2019

Tanggerang Selatan, perkebunannews.com – Suka tidak suka harus diakui bahwa subsector perkebunan sebagai salah satu komoditas non migas penyumbang ekspor terbesar. Tapi yang terpenting adalah suatu ekspor harus dilakukan secara kontinuitas atau berkesinambungan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kasdi Subagyono, Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, dalam penandatanganan memorandum of understanding (mou) dengan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan di sela-sela acara Trade Ekspor Indonesia (TEI) 2019, di Tanggerang Selatan.

“Kerjasama ini sebagai langkah untuk mendorong ekspor lebih besar lagi. Tapi yang terpenting adalah sustainable (berkelanjutan), ramah lingkungan dan ekspor kali ini adalah organik,” kata Kasdi.

Ekspor kali ini dalam bentu organik, karena menurut Kasdi memang saat ini pasar dunia sedang mengarah ke produk-produk organik. Bahkan pasar dalam negeri untuk masyarakat menengah keatas juga sedang mengarah pada produk-produk organik.

Salah satu pasar dalam negeri yang meminta produk-produk organik yaitu hotel restoran dan catering (horeka) dan supermarket. Artinya jika permintaan organik terus bertambah maka diharapkan pendapatan petani akan ikut bertambah

Adapun yang akan diekspor kali ini ada 5 produk yaitu kopi, gula aren, gula kelapa, teh dan pala. Semuanya dalam bentuk organik.

“Untuk itu kita dari memberikan bantuan kepada petani dalam bentuk pembinaan dan untuk awalnya kita membantu dalam melakukan sertifikasi. Sebab kedepannya petani pasti akan bisa melakukan serifikasi sendiri,” terang Kasdi.

Disisi lain, Kasdi mengakui, hal yang tidak kalah penting yaitu pihaknya akan menghubungkan antara eksportir dengan kelompok petani selaku yang memproduksi komoditas organik. Sehingga jika eksportir bertemu langsung dengan kelompok petani maka bisa meotong rantai dagang. “Dengan begitu diharapkan akan ada nilai tambah untuk petani,” pungkas Kasdi. YIN

(Visited 42 times, 1 visits today)