2nd T-POMI
2023, 12 Oktober
Share berita:

Jambi, Mediaperkebunan.id

Program-program pemerintah untuk meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat selama ini hanya ditujukan kepada pemilik kebun. Kebun kelapa sawit di Jambi saat ini didominasi oleh pekebun swadaya. “Kondisinya kebunnya bermacam-macam dan kita selama ini  mencoba membina pemiliknya lewat pelatihan-pelatihan” kata Kepala Dinas Perkebunan Jambi, Agusrizal.

Agusrizal menyatakan hal ini dalam pertemuan dengan Pahala Sibuea dan Hendra Purba dari POPSI (Perkumpulan Forum Petani Kelapa Sawit Jaya Indonesia) sehubungan dengan akan diadakanya Indonesian Palm Oil Smallholers Conference and Expo ketiga  di Jambi tanggal 28-29 November.

Kebun dikelola sesuai selera pemilik kebun. Tenaga kerja untuk perawatan panen juga mereka cari sendiri. Akhirnya kondisi kebun tidak seragam. Bisa dikatakan saat ini berbagai jenis pupuk masuk ke kebun kelapa sawit petani, ada yang non subsidi ada yang subsidi. Ada yang dari merek teruji ada juga dari merek yang tidak jelas. Pemupukan ada yang setahun sekali, ada yang dua kali ada yang tiga kali.

Panen juga tidak standar. Buah dengan berbagai kualitas dan umur tanaman yang berbeda dicampur jadi satu. Pedagang pengumpul ada yang melakukan seleksi lagi sebelum dikirim ke PKS ada yang tidak. Harga TBS menjadi satu harga sehingga petani dirugikan, beda dengan harga penetapan pemerintah berdasarkan umur tanaman. Beda harga bisa sampai Rp400/kg sehingga petani rugi.

“Selama ini kami membina pemilik kebun. Tetapi di lapangan ternyata pemilik kebun banyak yang menyerahkan pengelolaan kebunnya pada pekerjanya. Jadi apa yang kami sampaikan pada pemilik kebun ternyata tidak diterapkan oleh pekerjanya. Sehingga kondisi kebun sawit seperti sekarang,” kata Agusrizal lagi.

Satu sisi Gubernur Jambi visi misi dengan nama dumi sake atau dua miliar satu kecamatan untuk mengentaskan kemiskinan. Sasaranya adalah masyarakat miskin. Semua  unit kerja provinsi harus berpartisipasi  bisa masuk program ini termasuk dinas perkebunan.

Baca Juga:  Perdagangan Tidak Mengenal Pertemanan

Dumi sake merupakan jawaban untuk mengatasi kemiskinan ekstrim di Jambi. Hampir 50% orang miskin Jambi bergerak di sektor pertanian. Pertanian di Jambi luasnya mencapai 1 juta ha, sektor tanaman pangan hanya 68.000 ha ditambah hortikultura sekitar 100.000 ha. Sisanya sekitar 900.000 ha merupakan perkebunan dengan dominasi sawit, karet kemudian kelapa, kayu manis dan lain-lain.

Dengan perkebunan yang mendominasi berarti penduduk miskin juga paling banyak diperkebunan. Karena itu memanfaatkan dumi sake Dinas Perkebunan Jambi akan melatih masyarakat yang tinggal disekitar kebun kelapa sawit baik milik petani atau perusahaan, good agricultural practises sehingga mereka bisa membuka jasa pengelola kebun kelapa sawit.

Agusrizal pernah melakukan studibanding pada Felda di Malaysia. Disana kebun petani tidak dikelola sendiri tetapi manajemen satu atap oleh Felda. Disini sebenarnya bisa diterapkan dalam skala kecil yaitu KUD mengelola kebun aggotanya dengan sistim satu atap.

“Koperasi petani kita masih terbatas jual beli TBSnya dan mereka mendapat fee. Sedang kebun dikelola oleh petani masing-masing. Satu sisi pemilik kebun banyak yang sudah tua, anaknya tidak mau meneruskan usahanya sehingga kebun tidak ada yang mengelola. Satu sisi banyak orang pedesaan yang tidak lahan menganggur. Karena itu ide ini lahir,” katanya.

Satu desa dibentuk satu kelompok terdiri dari 20 orang. Mereka dilatih dengan spesialisasi masing-masing, ada yang menjadi tukang dodos, pemupukan, penyemprot, pengendali rumput dan lain-lain. Pemda juga memberi bantuan alat mesin seperti mesin pemotong rumput, alat dodos, gerobak sorong, sprayer, kendaraan roda tiga  dan lain-lain.

Saat ini sedang dalam proses pembentukan, tahap awal ada 21 kelompok. Selain teknis mereka juga dilatih manajemen kebun. Dengan cara ini maka pengangguran pedesaan bisa diatasi, kebun petani dikelola dengan baik dengan penerapan GAP.

Baca Juga:  PPKS : DARI SISI PENGGUNAAN AIR, KELAPA SAWIT LEBIH RAMAH LINGKUNGAN