Wamentan Alim Setiawan Targetkan 90 Persen Ekspor Perkebunan Jadi Produk Turunan, Genjot Hilirisasi Kelapa hingga Sawit

Wamentan Alim Setiawan Targetkan 90 Persen Ekspor Perkebunan Jadi Produk Turunan, Genjot Hilirisasi Kelapa hingga Sawit

Jakarta, mediaperkebunan.id  – Kementerian Pertanian menegaskan komitmennya untuk mengubah arah industri perkebunan nasional dari ketergantungan bahan mentah menuju era industrialisasi hilirisasi bernilai tambah tinggi. Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Alim Setiawan Slamet secara tegas mendorong agar lebih dari 90 persen ekspor produk perkebunan Indonesia ke depan berbentuk barang olahan atau turunan.

Dilansir dari laman resmi Kementan, langkah strategis ini tidak hanya bertujuan mendongkrak devisa negara dan kesejahteraan para pekebun, tetapi juga menjadi pilar utama dalam menopang agenda swasembada pangan, kemandirian energi, serta industrialisasi nasional yang selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Hal tersebut diungkapkan Wamentan Alim saat membuka International Conference and Expo on Palm Oil and Others (ICExPO) 2026 di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (4/11/2026).

Saat ini, sekitar 20 hingga 30 persen ekspor perkebunan Indonesia masih didominasi oleh bentuk bahan mentah (raw materials). Pemerintah menargetkan pembalikan struktur drastis agar porsi ekspor produk turunan bisa menembus angka di atas 90 persen.

Sebagai contoh konkret, Wamentan Alim membeberkan potensi fantastis dari komoditas kelapa. Jika dijual dalam bentuk butiran mentah, harganya berkisar Rp1.350 per kilogram. Namun, apabila diolah menjadi minyak kelapa, nilainya melonjak hingga Rp60.000 per liter, bahkan menembus Rp145.000 per liter jika diproses menjadi Virgin Coconut Oil (VCO)—sebuah lonjakan nilai ekonomi hingga lebih dari 100 kali lipat.

"Ini bukan sekadar hitungan di atas kertas. Pada Oktober tahun lalu, produk hilirisasi kelapa dari Maluku Utara bahkan sudah sukses diekspor langsung ke Tiongkok," ujar Wamentan Alim di hadapan para pemangku kepentingan.

Fokus Hilirisasi 7 Komoditas Unggulan dan Hulu-Hilir

Sejak tahun 2025, pemerintah telah mencanangkan program hilirisasi komprehensif pada tujuh komoditas perkebunan unggulan, meliputi:

  1. Tebu
  2. Kelapa
  3. Kopi
  4. Kakao
  5. Jambu Mete
  6. Lada
  7. Pala

Dari sisi hulu, program ini mencakup perluasan, peremajaan (replanting), hingga rehabilitasi perkebunan seluas total kurang lebih 870.000 hektare. Khusus pada tahun 2026, pemerintah memfokuskan pengembangan kawasan kakao seluas 174.000 hektare serta kawasan kelapa seluas 151.554 hektare.

Tidak hanya kelapa dan kakao, pemerintah juga serius menggenjot produksi tebu lewat program bongkar ratoon demi memangkas ketergantungan impor gula konsumsi yang rata-rata menyedot anggaran hingga Rp44 triliun setiap tahunnya.

Perkebunan sebagai Tulang Punggung Swasembada Energi

Di tengah dinamika ketidakpastian geopolitik global dan gangguan pasokan energi dunia, sektor perkebunan memegang peran vital dalam memperkuat ketahanan energi nasional berbasis energi terbarukan.

Pemerintah secara progresif mendorong implementasi mandatori biodiesel B50 serta menyiapkan pengembangan bioetanol E10 secara bertahap. Bahan baku bioenergi ini disuplai dari integrasi komoditas sawit (seluas 2 hingga 5 juta hektare untuk bioenergi), tebu, jagung, ubi kayu, sorgum, hingga jambu mete.

Wamentan Alim menekankan bahwa seluruh transformasi besar ini harus disokong penuh oleh riset, inovasi teknologi, mekanisasi modern, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) guna mengubah keunggulan komparatif Indonesia menjadi keunggulan kompetitif di kancah global.