Jakarta, mediaperkebunan.id - Pertemuan Nasional Petani Kelapa Sawit Indonesia (Penas ) III diselenggarakan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia menghasilkan 5 deklarasi yang diserahkan pada Menteri Pertanian. Deklarasi dibacakan oleh Ketua Umum Apksindo Gulat Medali Emas Manurung yaitu:
Perlindungan harga TBS dan perbaikan tata niaga. Penetapan harga TBS di seluruh provinsi penghasil sawit Indonesia guna mewujudkan keadilan harga, transparansi, untuk memberikan perlindungan bagu petani sawit Indonesia.
Kepastian hukum atas legalitas lahan. Petani sawit mendorong penyelesaian legalitas lahan perkebunan sawit rakyat baik yang berada dalam dan di luar kawasan hutan guna memberikan kepastian hukum untuk mendukung program Presiden Prabowo khusunya Proyek Strategis Nasional Sawit Rakyat di Kementerian PPN/Bappenas.
Percepatan PSR dan penyederhanaan persyaratan sarana dan prasarana. Petani sawit mendorong pelaksanaan PSR sebagai program prioritas dan dimandatorikan. Penyederhaan dan harmonisasi persyaratan bantuan sarpras perkebunan sawtit rakyat di lintas kementerian, terkait legalitas dan perzinan lainnya.
Penguatan kelembagaan melalui koperasi. Petani sawit mendorong pembentukan dan penguatan koperasi sebagai basis kelembagaan ekonomi perkebunan sawit rakyat sebagai amanat UUD psal 33 adan arahan Presden Prabowo untuk koperasi Indonesia. Petani sawit mendukung PKS komersil dmandatorikan bermtra dengan petani sawit swadaya.
Petani sawit mendukung PT Agrinas Palma Nusantara melalui keitraan degan koperasi sawit rakyat.
Penas III dilaksanakan ditengah tudingan negatif netizen kepada sawit berkaitan dengan kebakaran lahan dan hutan. “Sawit dicaci maki netizen gara-gara asap. Dimana ada api disitu ada sawit. Itu yang tidak bisa saya terima. Banyak pihak menyatakan Penas tidak tepat dilaksanakan saat ini , tetapi dengan penjelasan yang baik dari humas Apkasindi , bisa berjalan dengan baik,” kata Gulat.
Kebakaran lahan dan hutan terjadi salah satu adalah karena mengutamakan pengendalian bukan pencegahan. Kalau sawit menjadi penyebab kenapa di Jawa juga banyak kebakaran hutan padahal tidak ada sawit. Ketua BNBP hadir untuk memberikan penjelasan mengenai pengedalian kebakaran hutan dan lahan.
Apkasindo juga sudah bertemu dengan PT Agrinas Palma yang mengelola lahan hasil sitaan satgas PKH. Tahun 2027 diharapkan Agrinas dalam mengelola kebun tidak ada lagi KSO dengan perusahaan lain, tetapi kerjasama dengan koperasi petani.
Apkasindo juga hadir menjadi perekat antara Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang terintegrasi dengan kebun dan ada petani plasma dengan PKS tanpa kebun (komersil). “Kedua jenis PKS ini jangan dibenturkan seolah-olah berlawanan dan PKS komersil menganggu PKS terintegrasi. Masing-masing sudah ada pasarnya. PKS terintegrasi menampung TBS dari kebun inti dan petani plasma, sedang PKS komersil dari petani swadaya ,” katanya.
Gulat juga menyatakan keberatan dan akan bertanya kepada Direktur Hilirisasi Perkebunan yang mengeluarkan surat edaran supaya minimal 30% TBS yang masuk ke PKS dari kebun yang sudah bersertifikat ISPO. Saat ini petani yang sudah bersertifikat ISPO baru 3,4% jadi 30% ini tidak mungkin dilaksanakan.
Penas III dilaksanakan selain masih adanya masalah asap juga harga TBS sedang turun sedang CPO juga hanya begitu-begitu saja. Tetapi petani anggotanya tetap semangat hadir meskipun tidak diberi fasilitas tiket pesawat. Ada yang diperjuangkan petani sawit.
Mengenai kemitraan Gulat berharap tidak ada lagi petani plasma yang meskipun sudah puluhan tahun tetap berutang kepada inti dan masih sangat besar. Masalah ini harus segera diselesaikan.