Jakarta, mediaperkebunan.id - Pasar karbon dunia tahun 2030 diperkirakan mencapai USD162 miliar. Pertumbuhan tahunan tahun 2024-2030 diperkirakan 14,5%, sebagian besar oleh perusahaan dengan komitmen emisi nol dan pasar karbon wajib.
“Saya menghadiri event perdagangan karbon di Malaysia. Peserta 2.000 orang dari seluruh dunia. Sebagian besar pembeli yang siap membeli nilai ekonomi karbon dari penurunan emisi baik karena komitmen nol emisi maupun diwajbkan sesuai regulasi,” kata Tony Liwang dari P3PI (Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia) pada Carbon Conference & Training “Greenhouse Gas Inventory Accounting in Oil Palm Plantations” yang diselenggarakan P3PI dan Media Perkebunan.
Ada tiga sekor yang potensinya sangat tinggi untuk perdagangan karbon yaitu kelapa sawit, kehutanan, mangrove dan karbon biru. Kelapa sawit terutama dari POME, biomassa dan biochar. Industri sawit sangat besar, infrastruktur sudah tersedia sehingga perubahan dari limbah jadi bernilai tambah tinggi bisa mencapai skala ekonomi.
Tony merasa tidak cocok dengan istilah kredit karbon kelapa sawit sehingga lebih suka menyebutkan bioekonomi kelapa sawit atau palm bioeconomy. Terjadi perubahan palm bioeconomy 1 yaitu tahun 2015-2024 yang mengejar volume menjadi palm bioeconomy 2 mengejar nilai.
Pada palm bioeconomy 1.0 ukuran sukses adalah maksimalisasi produksi CPO dan penyerapan FAME untuk pasar dalam negeri. Sumber pembiayaan satu-satunya dari pungutan pajak eskspor BPDP. Modelnya linier, tbs dari kebun masuk ke PKS, CPO dari PKS masuk ke refinery menjadi macam-macam produksi dan ada limbah yang dihasilkan. Titik kritisnya adalah batas deforestasi, trilemma koflik antara pangan vs bahan bakar dan keterbatasan pembiayaan sampai pada titik tertentu.
Sedang palm bioeconomy 2.0 . dimulai sejak 2025 ukuran suksesnya adalah meningkatkan nilai sirkular, penurunan emisi karbon dan produktivitas per ha. Sumber pembiayaan dari reformasi pajak ekspor BPDP, pendapatan dari bursa karbon IDX dan pembiayaa dari berbagai lembaga keuangan.
Modelnya sirkular , meningkatkan nilai limbah, dari UCO (minyak jelantah) jadi SAF (sustainable aviation fuel), dari Pome jadi Bio-Cng dan lain-lain. Peluangnya besar sebab benar-benar dekarbonisasi secara sistemik , pemimpin produk SAF, meningkatkan kesejahteraan petani.
“Saya melihat pembeli benar-benar banyak dan siap membeli karbon dari sawit. Mereka siap biayai asal kredit karbonnnya buat mereka. Sekarang pasar karbon kita masih sedikit, uangnya juga kecil, tetapi ke depan diperkirakan akan berubah,” katanya.
Empat aktivitas yang meningkatkan nilai pada palm bioeconomy 2.0 adalah:
- Methane capture, menangkap methan dari kolam limbah untuk diubah jadi listrik atau bio-cng, sehingga emisi methan ke udara benar-benar berkurang.
- Pemanfaatan biomassa, menggunakan tankos, cangkang, fiber sebagai bahan bakar boiler -terbaruka; bahan baku co-firing atau biochar; optimalisasi peremajaan menggunakan varietas produktivitas tinggi sehingga meningkatkan efisiensi penggunaan lahan, mengurangi emisi per ton produksi minyak; memadukan kawasan bernilai konservasi tinggi dengan perkebunan sawit meningkatkan keanekaragaman hayati dan penyimpanan karbon. Dari Pabrik Kelapa Sawit ada tiga produk yang masuk dalam palm bioeconomy 2 yaitu : POME jadi listrik atau bio CNG untuk bahan bakar truk (kerjasama BRIN, ITB dan PTPN IV).
- Penggunaan UCO untuk SAF, limbah rumah tangga menjadi bahan bakar pesawat untuk mencapai target SAF global.
- Coprosesing jadi HVO (Hydro Vegetable Oil) , green biodiesel yang bisa langsung digunakan 100% karena komposisi hidrokarbon sama dengan bahan bakar fosil.
Pembiayaan sawit tidak lagi hanya mengandalkan pajak ekspor yang dihimpun BPDP jug dari perdagangan karbon di bursa kabon. Upaya penurunan emisi karbon punyai nilai ekonomi yang dijual lewat bursa. Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup, BLU dibawah Kemenkeu sebagai penyalur dana dari lembaga internasional langsung ke lanskap untuk pengurangan emisi gas rmah kaca. Sukuk hijau yang dikeluarkan pemerintah untuk mencari pendanaan pengembangan bioenergi negara.