2nd T-POMI
2023, 25 September
Share berita:

Jakarta, Mediaperkebunan.id

Industri hasil perkebunan memiliki peran penting bagi industri agro. Tahun 2022 total ekspor industri hasil perkebunan USD36,54 miliar . Penyumbang terbesarnya adalah industri kelapa sawit USD28,59 miliar atau 81,4% dari total ekspor hasil perkebunan.  Merrijantij Punguan Pintaria, Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan, Ditjen Industri Agro, Kementerian Perindustrian, menyatakan hal ini.

“Hal ini karena Indonesia merupakan produksen terbesar kelapa sawit. Kelapa sawit menjadi model hilirisasi industri yang mendorong ekspor produk bernilai tambah hasil kegiatan usaha pengolahan di dalam negeri,” kata Merri.

Terbesar kedua adalah industri karet asap dan remah dengan nilai ekspor USD3,53 miliar, kemudian industri kelapa USD1,17 miliar, industri kakao USD997,26 juta, industri pengolahan kopi USD584,24 juta, industri minyak atsiri USD405,38 juta dan industri pengolahan teh USD98,44 juta.

Industri kelapa sawit tahun 2022 menghasilkan 179 jenis produk, 88,4% ekspor sudah dalam bentuk hilir. Tantanganya adalah teknologi pengolahan CPO tidak banyak berubah, sehingga perlu direvitalisasi. Pemerintah akan mempromosikan teknologi baru produksi minyak sawit mentah yang lebih efisien.

Karet saat ini produktivitasnya  semakin menurun sehingga pabrik kekurangan bahan baku. Sudah 46 pabrik crumb rubber tutup. Industri karet tanpa intervensi akan jadi industri sunset. “Jangan sampai Indonesia seperti Brasil , karet berasal dari negara ini tetapi sekarang bukan eksportir karena tinggal sedikit karet yang tersisa,” katanya.

Dengan kapasitas terpasang 6,06 juta ton, produksi karet hulu tahun 2022 3,135 juta ton dengan komposisi 97% SIR dan produk lain 3%. Indonesia masih mengimpor lateks pekat 19,2 ribu ton dengan nilai USD28,4 juta.  Impor bokar juga semakin besar tahun 2021 59,2 ribu ton sedang 2022 76,9 ribu ton.

Baca Juga:  PRODUKSI SAWIT BELUM MEMBAIK, HARGA MASIH BERTAHAN

Industri pengolahan kelapa ada 133 perusahaan dengan tenaga kerja 70.000 orang di industri menengah dan besar, 6.000 orang di industri kecil. Ekspor terbesar berupa desicatted coconut, kemudian crude coconut oil, refined coconut oil, fractioned coconut oil dan kopra.

Industri olahan kakao ada 11 perusahaan dengan 2.443 tenaga kerja, kapasitas terpasang 739.250 ton/tahun dengan utilisisasi 51%, investasi USD587 juta, neraca perdagangan surplus USD980 juta. Produk yang dihasilkan cocoa liquor, cocoa cake, cocoa butter, cocoa powder, sekitar 84% diekspor dan 16% dikonsumsi dalam negeri. Nilai ekspor USD1,08 miliar dan konsumsi dalam negeri 0,39 kg/kapita/tahun.

Tantanganya adalah trend suply biji kakao dalam negeri turun berkompetisi dengan ekspor, jaminan pasokan bahan baku industri dalam negeri masih rendah. Tahun 2021 ekspor biji kakao 22.280 ton, biji lokal digunakan industri dalam negeri 148.361 ton dan biji kakao impor 252.141 ton. Pemerintah mendorong industri bermitra dengan petani.

Indonesia merupakan negara peringkat ke 6 produsen biji kakao dunia setelah Pantai Gading, Ghana, Ekuador, Nigeria dan Kamerun. Peringkat ke 3 industri pengolahan kakao dunia setelah Belanda dan Pantai Gading. Posisi nomor 2 eksportir cocoa butter setelah Belanda.

Industri olahan kopi ada 141 unit usaha, kapasitas terpasang 782 ribu ton, realisasi produksi 644 ribu ton, utilisasi 86%, nilai investasi Rp11,72 triliun, tenaga kerja 32.000 orang, konsumsi 1,3 kg/kapita/tahun, volume ekspor 197,9 ribu ton, nilai ekspor USD604,4 juta. Sekitar 51% produksi kopi Indonesia diserap industri kopi nasional.