17 November, 2019

Jakarta, perkebunannews.com – Sehat. Tidak sedikit masayakat Indonesia yang saat ini mulai mengurangi konsumsi nasi. Hal ini lantaran, nasi tinggi akan kadar gula.

Alhasil, dengan kadar gula yang tinggi maka akan berpotensi terkena serangan penyakit diabetes. Atas dasar itulah saat ini tidak sedikit masyarakat Indonesia yang mulai mengurani konsumsi beras, dengan harapan agar terhindar dari penyakit diabetes.

Terbukti, data dari International Diabetes Federation pada 2017 menyebutkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-6 negara dengan jumlah orang dengan diabetes. “Jadi sagu ini bisa menjadi bahan makanan pengganti beras,” kata Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian Antarjo Dikin.

Lebih dari itu, menurut Antarjo, makanan sagu dapat menggantikan makanan pokok lainnya. Sebab, di dunia ini memang ada kecenderungan kelangakaan pangan. Sebab sumber daya alam mulai terbatas.

Melihat hal tersebut, maka sagu bisa juga dijadikan sebagai sumber pangan lainnya. Sehingga dengan membuka atau menciptakan pasar sagu, sama saja dengan mengangkat potensi petani dan membuka pasar ekonomi baru ke luar negeri.

5 Negara Pasar Sagu Indonesia
Terbukti, berdasarkan catatan Badan Pusat Satitstik (BPS) pasar sagu Indonesia terbesar ada di lima negara. Pertama Malaysia dengan volume ekspor 7.138.000 kilogram dengan nilai US$ 873.604. Kedua, Jepang dengan volume ekspor 4.122.000 kilogram dengan nilai US$ 2.008.748. Ketiga, Cina dengan volume ekspor 208.305 kilogram dengan nilai US$ 110.601. Keempat, Singapur dengan volume ekspor 7.175 kilogram dengan nilai 23.096. Kelima, Amerika Serikat dengan volume ekspor 4.615 kilogram dengan nilai US$ 68.227.

Sehingga, mengingat sagu memiliki kandungan serat yang tinggi, namun karbohidratnya rendah. Jadi sangat dianjurkan bagi penderita diabetes dan mencegah datangnya penyakit tersbut. “Maka
semoga negara belum banyak yang tau manfaatnya, harus terus sosialisasikan untuk mendorong pasar luar negeri,” himbau Antarjo.

Sebab, Antarjo mengakui dengan terus mensosialisasikan manfaat sagu otomatis akan membuka pasar lebih besar lagi. Adapun daerah sentra penghasil sagu terbesar di Indonesia ini ada 5 daerah juga.

Pertama, Papua dengan total produksi 66.593 ton dengan luas 155.675 hektar. Kedua, Maluku dengan total produksi 8.134 ton, dengan luas 36.478 hektar. Ketiga, Kalimantan Selatan dengan total produksi 4.130 ton dengan nilai 6.511 hektar. Keempat, Aceh dengan total produksi 1.711 ton seluas 6.946 hektar. Kelima, Riau dengan total produksi 338.726 ton seluas 73.587 hektar.

Melihat angka tersebut maka sagu berpotensi untuk dikembangkan, tinggal memnciptakan pasar-pasar baru baik didalam negeri ataupu luar negeri. Ini karena sagu saat ini bisa dikembangkan untuk aneka makanan.

Contohnya di Sumatera Selatan, bisa dijadikan sebagai bahan baku (makanan) pempek. Jadi sagu bisa dicampur dengan tepung sagu baru digoreng.Bayangkan jika sagu diolah masal atau dijadikan pempek maka konsumsi sagu bisa meningkat. Belum lagi jika dijadikan mie. Sebab saat ini mie sagu juga sedang berkembang.

“Artinya jika konsumsi sagu dalam negeri juga meningkat maka otomatis akan meningkatkan harga sagu ditingkat petani,” harap Antarjo.

Sekedar catatan, pemerintah Indonesia sendiri telah memberikan perhatian yang cukup besar terhadap pengembangan penganekaragaman pangan yang berbasis pada sumber daya lokal. Di antaranya dengan adanya Undang-undang nomor 18 tahun 2012 tentang pangan dan peraturan pemerintah nomor 17 tahun 2015 tentang ketahanan pangan dan gizi. YIN

(Visited 100 times, 1 visits today)