16 July, 2018

Komitmen perusahaaan kelapa sawit untuk menjaga kelestarian orangutan tidaklah main-main, diantaranya PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS) dengan membangun Pulau Salat dan terbukti di pulau tersebut populasi orangutan kian bertambah.

Dunia bukan hanya untuk manusia saja tapi haruslah berbagi dengan makhluk hidup lainnya, itulah hidup agar keanekaragaman hayati bisa tetap ada. Tekad itulah yang dilakukan oleh PT SawitSumbermasSarana Tbk. (SSMS) sebagai salah satu perusahaan kelapa sawit yang berkomitmen melestarikan orangutan.

Orangutan tidak hanya berbagi 97% DNA yang sama dengan manusia, namun mereka juga memiliki fungsi penting sebagai spesies payung dimana keberadaannya menjadi indikator dari baik-buruknya keanekaragaman hayati Indonesia khususnya hutan Kalimantan.

Tapi melestarikan orangutan tidaklah semudah membalikan tangan, sebab orangutan mempunyai kebutuhan yang tidak berbeda dengan manusia, yaitu rumah.

“Jadi bukan hanya manusia saja yang butuh rumah, orangutan pun juga butuh rumah,” kata Kinanti Alif, salah satu perwakilan sustainability SSMS.

Karena berbagai faktor, Kinanti menjelaskan yang menyebabkan kerusakan lingkungan khususnya hutan banyak orangutan yang harus terusir. Bahkan pada usia sangat dini, banyak bayi orangutan yang sudah kehilangan induknya dan berakhir di tangan manusia sebagai hewan peliharaan.

Padahal sesuai dengan UUD no 5 tahun 1990 bahwa hewan langka wajib dilindungi dan tidak boleh diperlihara oleh warga agar bisa dilestarikan.

orangutan dilepas dipulau salat


Atas dasar itulah maka SSMS bersama mitranya Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) serta menggandeng Pemerintah Daerah Kabupaten Pulang Pisau bersama-sama mengelola Pulau Salat untuk proses reintroduksi orangutan agar dikembalikan kehutan liar.

“Setelah disetujui oleh BKSDA, orangutan, yang diselamatkan dibawa ke Nyaru Menteng tempat reintroduksi orangutan yang jika sudah waktunya akan dipindah ke Pulau Salat untuk melanjutkan proses reintroduksi ke tahap pra pelepasliaran. Salah satu orangutan yang menghuni Pulau Salat bernama Buntok (betina), yang diselamatkan dari Kota Buntok, Kabupaten Barito Selatan,” ucap Kinanti.

Di Nyaru Menteng tersebut, menurut Kinanti, setiap orangutan yang dibawa diajarkan kembali karakter alaminya dan disiapkan agar bisa mandiri saat dilepas sebagai spesies payung serta bisa menjalankan fungsinya.

Kelas Orangutan
Namun, lagi-lagi untuk menumbuhkan kembali karakter alaminya tidaklah mudah dan butuh proses beberapa tahapan. Sehingga dalam reintroduksi terdapat beberapa tahapan. Pertama baby school (kelas balita) dengan usia 0-4 tahun.

Di baby school ini orangutan balita yang sudah tidak mempunyai orang tua diajarkan keterampilan dasar seperti menghabiskan waku di pohon, mencari makanannya dan membuat sarang sendiri, mengenali dan menghindari bahaya seperti ular serta bagaimana berpindah tempat dari satu pohon ke pohon lainnya.

Dalam hal itu maka tanaman yang ada di baby school tingginya pun tidak lebih dari 10 meter. Ini penting karena tulang-tulang dari orangutan masih sangat muda, dengan tanaman yang tidak terlalu tinggi maka jika orangutan itu terjatuh tidak akan berbahaya bagi orangutan muda.

Setelah itu, di usia 4 tahun orangutan masuk ke forest school (sekolah hutan). Disana orangutan diajarkan kemapuan dasar tapi tingkatannya lebih tinggi lagi.

Contohnya tanaman yang ada di forest school jauh lebih tinggi daripada yang di baby school. Ini dilakukan agar saat dilepas di alam liar orangutan sudah beradaptasi, dan biasanya tanaman yang di forest school diameternya lebih besar karena orangutan mempunyai lengan yang kuat dan dapat dengan mudah untuk merobahkan pohon.

Walaupun forest school diperuntukkan bagi orangutan dengan usia 4-9 tahun, tapi tidak menutup kemungkinan untuk orangutan yang lebih muda tapi sudah cukup terampil dapat langsung masuk forest school.

buntok menggendong anaknya yang bernama borneo


Setelah melewati tahap forest school barulah orangutan masuk tahap pra pelepasan seperti Pulau Salat. Di pulau seluas 2.085 hektar yang diupayakan dan dikelola oleh SSMS bersama seluruh mitranya ini memiliki tutupan hutan yang masih asli dan sangat baik bagi orangutan untuk belajar hidup di alam liar sebelum dilepaslilarkan di habitat aslinya.

“Di Pulau Salat orangutan tidak diberimakan sebanyak seperti di NyaruMenteng. Ini dilakukan untuk mendorong mereka agar bisa memenuhi kebutuhan pakannya sendiri agar saat dilepas di hutan alami orangutan tersebu tbisa menjadi mandiri,” tambah Mas Untung Deputy Manager untuk Program Pra Pelepasliaran BOSF.

Sebab, Untung mengakui, di Pulau Salat tersebut, orangutan benar-benar dilepas dalam satu area yang hutannya masih asli dan petugas hanya mengawasi perkembangannya saja. Tapi khusus di pra pelepasliaran, orangutan betina akan dipasangi implant KB.

“Tujuannya agar orangutan tersebut focus untuk mempersiapkan diri menghadapi alam liar dan diharapkan bisa mengandung anak dan melahirkan di alam liar,” harap Untung.

Tapi, Untung mengakui, tidak menutup kemungkinan jika ada juga orangutan yang mengandung atau hamil duluan pada saat di pra pelepasliaran. Contohnya Buntok yang hamil dan melahirkan saat berada dilokasi sebelum dapat dipindah ke habitatnya.

“Jadi jika ada orangutan yang hamil dan melahirkan di area pra pelepasan ini maka kita berikan waktu beberapa bulan dahulu sampai benar-benar siap dilepas di alam liar. Sebab bayi orangutan saat lahir masih riskan (rentan) terhadap bahaya di luar,” ucap Untung.

Sebagai catatan, Buntok sendiri dipindahkan ke Pulau Salatpada bulan Mei tahun 2017, dan melahirkan anak pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki bulan Februari tahun 2018. SSMS memberi nama Borneo untuk bayi orangutan ini sebagai penghargaan pada alam dimana bayi orangutan ini dilahirkan dan dimana seluruh unit kerja SSMS berada yaitu di Pulau Borneo.

Namun tidak lama setelah dilahirkan, Borneo terkena peyakit gatal-gatal dari getah pohon Rangas. Atas dasar itulah Borneo dan Buntok ditarik kembalike Nyaru Menteng untuk mendapatkan perawatan.

“Namun, setelah penyakit gatal-gatalnya hilang Buntok bersama anaknya Borneo dikekembalikan ke Pulau Salat untuk persiapan menghadapi pelepasan ke alam liar,” tutur Untung.

Desi Kusumadewi, Head Sustainability SSMS menambahkan, bukan sekedar untuk melestarikan orangutan yang ada di wilayahnya, tapi juga memang dilihat areal untuk orangutan semakin berkurang sehingga diperlukan penambahan lahan khusus untuk reintrioduksi.

“Bahkan rencananya untuk orangutan yang sudah tua ataupun yang cacat akibat ulah oknum akan tinggal menetap di Pulau Salat yang sebagian akan dijadikan suaka bagi orangutan yang tidak dapat dikembalikan ke alam liar,” janji Desi.

buntok duduk bersama nanaknya bernama borneo


Disisi lain, Desi mengatakan, pihaknya tidak hanya menjaga orangutan agar tetap lestari tapi juga komitmen untuk membantu masyarakat di sekitar Pulau Salat lewat program-program pemberdayaan ekonomi dan sosial.

“Masyarakat juga dilibatkan dalam proyek ini sejak awal supaya ada kesadaran semua pihak akan pentingnya kelestarian lingkungan termasuk orangutan di dalamnya dan agar tumbuh rasa memiliki akan proyek ini. Bahkan petani plasma dari SSMS pun dibantu dalam melakukan sertifikasi sustainable, baik sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) ataupun Rountable Sustainable Pal Oil,” pungkas Desi. YIN

(Visited 185 times, 1 visits today)