18 January, 2017

Saat ini dunia tengah menghadapi ancaman pemanasan global akibat akumulasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfir termasuk di antaranya CO2 (karbondioksida). Beruntung, 25 persen dari emisi karbon dari dampak aktivitas manusia diserap oleh tanaman.

Sebagaimana diketahui jika tanaman menyerap karbondioksida dari udara air, dan dengan kombinasi air serta sinar matahari, menggerakkan proses fotositesis untuk menghasilkan O2 (oksigen). Artinya jika saat ini karbondioksida meningkat maka untuk mengurangi emisi karbon harus meningkatkan proses fotosintesis melalui peningkatan penanaman.

Dalam konteks itu Pengamat Perkebunan, Gamal Nasir betrpendapat maka solusinya adalah perperbesar populasi tanaman perkebunan. Artinya dalam hal ini sektor perkebunan merupakan penyelamat masa depan dunia.

“Bahkan tanaman perkebunan tidak hanya dapat menyerap karbondioksida tapi juga memiliki nilai ekonomi yang cukup besar bagi masyarakat,” kata Gamal kepada perkebunannews.com.

Lebih dari itu, menurut Gamal, perkebunan juga bisa dikatakan sebagai tanaman yang memperbaiki kondisi lahan yang telah rusak akibat penambangan.

Memang benar, industri tambang juga telah memberikan nilai ekonomi, tapi dampak setelah penambangan justru dapat merusak kondisi alam dan hal itu justru akan semakin mempertipis atmosfir.

“Tapi berbeda dengan tanaman perkebunan seperti kelapa sawit, karet, kakao, kopi, tebu, tembakau, cengkeh ataupun lainnya. Tanaman tersebut tidak hanya bernilai ekonomi tinggi tapi juga memberikan manfaat terhadap lingkungan,” ucap Gamal.

Hal yang lebih menarik, Gamal menerangkan, bahwa kehadiran perkebunan tidak hanya merombak tatanan masyarakat melainkan menguatkannya. Terbukti dibeberapa daerah perkebunan nilai-nilai sosial, gotong royong dan budaya tetap terjaga. Hal tersebut berbeda kondisinya jika berada di kawasan industri.

“Jadi kalau Indonesia menempatkan basis ekonomi pada perkebunan adalah suatu kebanggaan dan tentu saja harus terus dijaga,” ucap Gamal.

Tapi, Gamal menyayangkan, meski perkebunan sudah memberikan dampak kepada masyakarat dan dunia, perkebunan mulai kurang menjadi prioritas, karena dianggap sudah mapan. Padahal perkebunan sebagian besar dikelola oleh masyarakat dan negara mendapatkan manfaat yang besar dari sektor perkebunan secara ekonomi.

Artinya jika memmang perkbunan sudah memberikan dampak ekonomi kepada masyakarat dan dunia maka seharusnya perkebunan menjadi perioritas dan harus dikembalikan secara proporsional untuk menjaga produktivitas dan mutu.

“Jadi yang namanya aset nasional, dalam hal ini perkebunan jika tidak dipelihara bisa saja rusak, hilang atau dikuasai orang lain, karena pihak lain lebih menyadari bahwa perkebunan sangat berpotnesi menguasai dunia,” papar Gamal.

Lebih lanjut, menurut Gamal, membangun perkebunan juga sudah sesuai dengan nawacita Presiden RI, Joko Widodo yang menyebutkan bahwa membangun perkebunan berarti membangun pedesaan dan masyakat dari daerah terpencil. YIN

(Visited 101 times, 1 visits today)