8 February, 2020

Jakarta, mediaperkebunan.id – Indonesia adalah mitra dagang yang strategis bagi Turki, bahkan Turki merupakan salah satu prioritas utama bagi Indonesia. Atas dasar itulah Kementerian Perdagangan (Kemendag) menjaga perdagangan Indonesia ke Turki, seperti komoditas perkebunan.

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga menyambut baik kerjasama yang telah terjalin dengan Pemerintahan Turki. “Dengan berbagai upaya yang telah dilakukan, kini Indonesia memiliki reputasi yang sangat baik di kancah ekonomi global. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai mitra bisnis yang strategis bagi Turki,” jelas Jerry saat pertemuan menyambut sekitar 30 pelaku usaha Turki di Kayseri. Turut hadir Duta Besar RI untuk Turki Lalu Muhammad Iqbal, Konsul Kehormatan Turki untuk RI Tahir Nursacan, serta Atase Perdagangan di Turki Eric Nababan.

Jerry juga menyampaikan, penting bagi kedua negara untuk terus memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi termasuk pariwisata karena Turki lebih dari sekedar ‘teman’dalam sejarah dan politik. Indonesia dan Turki merupakan negara yang besar di masing-masing kawasan. Kedua negara juga masuk dalam 20 negara dengan ekonomi terbesar di dunia dan merupakan anggota D8 dan G-20.

Bahkan, dalam 10 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata sebesar 5,3 persen per tahun. Selain itu, populasi di Indonesia pada 2025 akan mencapai 300 juta jiwa dengan pendapatan per kapita sebesar US$ 15.000.

Dari total populasi tersebut, setengahnya adalah penduduk usia produktif. Tidak kalah penting, kondisi geo-strategis kedua negara. Bagi Indonesia, Turki adalah hub untuk masuk ke pasar kawasan Timur Tengah, Afrika, dan Eropa. Sementara bagi Turki, selain pasar yang besar, Indonesia juga menjadi hub untuk masuk ke pasar Asia Tenggara/ASEAN dengan potensi pasar 600 juta jiwa.

“Dari potensi yang besar itu, perdagangan baik barang maupun jasa serta investasi kedua negara saat ini masih terbilang sangat kecil. Masih banyak potensi yang bisa terus digali untuk meningkatkan perdagangan dan investasi kedua negara,” kata Jerry.

Sehingga Jerry mengatakan dengan besarnya potensi ekonomi kedua negara, sudah seharusnya Indonesia dan Turki berkolaborasi bersama. Apalagi, kedua Kepala Negara telah menetapkan target perdagangan sebesar USD 10 miliar pada 2023.

Salah satu cara mencapai target tersebut, lanjut Wamendag, yaitu melalui Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Turki (IT CEPA) yang dimulai dengan perjanjian perdagangan barang. Perundingan IT CEPA putaran ke-4 baru saja selesai.

“Saya percaya, sangat penting bagi kedua negara untuk mengakselerasi negosiasi agar IT CEPA dapat diselesaikan tahun ini. IT CEPA bukan semata-mata tentang bisnis, tetapi juga kemitraan dan kolaborasi sehingga masyarakat dapat merasakan manfaatnya,” terang Jerry.

Selain itu, Jerry meminta dukungan para pelaku usaha Turki untuk mendorong pemerintah Turki mempercepat penyelesaian IT CEPA. Sehingga para pelaku usaha dari kedua negara bisa mendapatkan tarif khusus ke kedua pasar. Dalam pertemuan tersebut, Wamendag juga memaparkan peran minyak kelapa sawit bagi perekonomian Indonesia.

“Minyak kelapa sawit tidak hanya sekedar produk ekspor, tetapi merupakan representasi dari perdagangan, alam, dan budaya Indonesia,” ujar Jerry.

Sebab, Jerry mengakui Minyak kelapa sawit berperan penting bagi terbukanya lapangan pekerjaan dan penurunan angka kemiskinan. Minyak kelapa sawit adalah sumber pendapatan langsung dan tidak langsung bagi 16,5 juta penduduk Indonesia.

Sedangkan bagi negara-negara mitra, seperti Turki, minyak kelapa sawit merupakan komoditas yang sangat penting bagi industri pengolahan, seperti produk perawatan dan kosmetik, serta makanan dan minuman.

Minyak kelapa sawit juga telah diketahui memiliki produktivitas terbesar dibandingkan minyak nabati lainnya. Minyak kelapa sawit juga menjadi sumber lapangan pekerjaan bagi banyak negara, termasuk Turki. Usai melakukan pertemuan dengan para pelaku bisnis Turki, Wamendag mengunjungi tiga pabrik industri, yaitu Yatas sebagai produsen matras/kasur, Kamer yang mengolah marmer, dan Hacilar Kalip yang mengolah metal/logam untuk berbagai keperluan rumah tangga.

Total perdagangan Indonesia-Turki pada Januari-November 2019 mencapai USD 1,38 miliar. Ekspor Indonesia ke Turki mencapai USD 1,05 dan impornya sebesar USD 321,23 juta. Dengan demikian, Indonesia surplus atas Turki sebesar USD 733,73 juta.

Produk ekspor utama dari Indonesia ke Turki, antara lain minyak kelapa sawit, karet, fibers, benang, dan bubur kertas. Sedangkan produk ekspor utama Turki ke Indonesia, antara lain minyak, tembakau, borat dan karbonat, bijih kromium dan konsentrat, serta perangkat telepon.

Ekspor Indonesia senilai USD 1,18 miliar, sementara impor dari Turki senilai USD 611,52 juta sehingga surplus sebesar USD 569,85 juta bagi Indonesia. Pangsa pasar produk Indonesia di Turki tahun 2018 sebesar 0,59 persen. Komoditas ekspor utama Indonesia ke Turki tahun 2018, yaitu minyak kelapa sawit dan turunannya (USD 148 juta), karet alam (USD 132 juta), serat stapel tiruan (USD 112 juta), benang serat stapel sintetis (USD 108 juta), dan benang filamen sintetik (USD 94 juta).

Sementara komoditas impor utama Indonesia dari Turki tahun 2018 yaitu minyak mentah (USD 254 juta), tembakau belum diolah (USD 35 juta), karbonat (USD 24 juta), borat (USD 22 juta), serta bijih kromium dan konsentrat (USD 11 juta) Pada 2018, Turki tercatat sebagai mitra investor ke-39 terbesar bagi Indonesia dengan nilai mencapai USD 3,7 juta dan jumlah proyek sebanyak 48. YIN

(Visited 10 times, 1 visits today)