https://api.whatsapp.com/send?phone=6281361509763
Petrokimia Gresik
28 September, 2021
Bagikan Berita

JAKARTA, Mediaperkebunan.id – Salah satu yang bisa medorong kemandirian gula nasional terutama gula konsumsi bagaimana kemitraan pabrik gula (PG) dengan petani. Kemandirian akan terwujud jika petani sejahtera.

Demikian dikatakan Direktur Produksi PT Perkebunan Nusantara III Holding Perkebunan Mahmudi dalam webinar bertajuk Permasalahan, Kelembagaan dan Kerja sama Petani Dengan Pabrik Gula, yang diselenggarakan PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), Selasa (28/9).

Menurut Mahmudi, salah satu yang bisa medorong kemandirian gula nasional terutama gula konsumsi bagaimana kemitraan pabrik gula (PG) dengan petani. “Ini menjadi point penting bagi kami,” tandasnya.

PTPN group mempunyai sasaran pada 2024 produksi gula sudah mencapai 1,8 juta ton. Salah satu point penting untuk mewujudkan itu adalah petani berada di garda terdepan.

Di tingkat nasional posisi petani memegang peranan 58 persen. “Jadi cita-cita besar kemandirian akan terwujud kalau petani sejahtera. Kalau kemitraan ini bisa dibangun dengan satu kelembagaan yang bisa segera kita eksekusi dan coba kita hadirkan bersama-sama kolaborasi ini,” ujar Mahmudi.

Di tingkat PTPN group, porsi petani itu 63 persen. Sementara di internal produksi tebu PTPN sebesar 37 persen. Di Jawa di PTPN IX, X, XI, dan XII, porsi dari petani kurang lebih 80 persen dari pasokan tebu yang diolah. “Oleh karena itu perhatian kita terhadap kesejahteraan petani menjadi hal yang mutlak untuk kita hadirkan,” kata Mahmudi.

Mahmudi mengatakan, dalam upaya peningkatan produktivitas di tingkat petani PT RPN, dalam hal ini P3GI di garda terdepan untuk bisa memberikan sarana, bantuan benih varietas unggul sesuai kondisi di masing-masing lahan.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia Soemitro Samadikoen mengatakan, dari luas areal tebu nasional sekitar 418 ribu hektar (Ha), rata-rata produksi gula petani sebesar 3,39 ton per Ha. “Dengan biaya pokok produksi yang tinggi, pendapat petani relatif rendah,” ujarnya.

Baca Juga  KADISBUN SUMSEL : MASIH BANYAK KENDALA PSR YANG HARUS DIATASI

Menurut Soemitro, penyebab tingginya biaya produksi gula petani karena lahan tebu sebagian besar masih sewa. Ditambah lagi harga pupuk yang tinggi dan rendemen yang rendah.

Soemitro menyesalkan, jika setiap kekurangan produksi gula selalu dijawab dengan impor dan ekstensifikasi. Program revitalisasi juga dilakukan sepotong-potong. “Memutus kebijakan tidak mendengarkan petani tebu lewat kelembagaan,” tukasnya.

Webinar Mewujudkan Modernisasi Gula Negara ini juga menghadirkan Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Negeri Lampung (Unila) sekaligus Ekonomi Senior INDEF Prof Dr Bustanul Arifin dan akademi Dr Sujarwo, Msc dari Universitas Brawijaya, Malang. (YR)

(Visited 79 times, 1 visits today)