16 October, 2019

Jakarta, Perkebunannews – Berdasarkan catatan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, volume ekspor karet tahun 2018 mencapai 2.811,95 juta ton dengan nilai ekspor US$ 3.949,21 juta.

“Ekspor tersebut tidaklah kecil, bahkan ekspor tersebut nomor dua setelah kelapa sawit di komoditas perkebunan,” ucap Ir. Irmijati Rachmi Nurbahar, M.Sc. Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian dalam Konfrensi Karet 2019 dengan tema “Menuju Agrbisnis Karet yang Tangguh, Menguntungkan dan Berkelanjuta,” di Jakarta, oleh Media Perkebunan.

Meski begitu, Irmi mengakui bahwa produktivitasnya masih rendah, walapun Indonesia sebagai penghasil nomor dua di dunia. Seperti dalam catatannya, bahwa Thailand mampu memproduksi 1.800 kilogram per hektar per tahun. Indonesia hanya mampu 1.080 kilogram per hektar per tahun.

“Namun, Vietnam sebagai pemain baru dalam komoditas karet sudah mampu memproduksi 1.720 kilogram per hektar per tahun dan Malaysia mencapai 1.510 kilogram per hektar per tahun,” risau Irmi.

Kendati demikian, Irmi menjelaskan bahwa rendahnya produkivitas bukanlah tanpa sebab. Rendahnya produktivitas lebih karena banyaknya tanaman yang sudah tua. Bahkan hasil identifikasi Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian potensi peremajaan karet mencapai sekitar 700 ribu hektar. Kebutuhan benih untuk itu adalah 282,31 juta benih.

“Atas dasar itulah adanya bantuan beih sebesar 142,56 juta atau 51,3 persen dari kebutuhan,” ucap Irmi.

Melaui bantuan tersebut, Irmi berharap adanya peningkatan produktivitas hingga tiga kali lipat dengan menyediakan benih bermutu, berkualitas dan bersertifikat. YIN

(Visited 149 times, 1 visits today)