2nd T-POMI
2022, 30 Maret
Share berita:

Jakarta, mediaperkebunan.id – Berbagai cara terus dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Kementerian Pertanian untuk meningkatkan produksi kopi. Hal ini perlu, mengingat permintaan biji kopi roating aaupun powder (bubuk) baik di dalam ataupun luar negeri sangat tinggi.

Atasdasar itulah Direktur Jenderal Perkebunan, Kementan, Hendratmojo Bagus Hudoro optimis bahwa produksi kopi akan terus meningkat seiring meningkatnya produksi. Peningkatan produksi dilakukan baik melalui intensifikasi seperti perbaikan budidaya hingga ekstensifikasi seperti peremajaan tanaman yang sudah tua atau yang sudah rusak, hingga perluasan areal tanaman kopi melalui Gerakan Tanam Kopi (Gertak).

“Kita optimis dan yakin bahwa produksi kopi akan terus meningkat, diantaranya melalui Program Gertak,” tegas Bagus.

Lebih lanjut, Bagus pun menerangkan bahwa pada program Gertak ini juga tidak hanya fokus terhadap kuantitas, tapi juga kualitas kopi. Selain itu didalam program Gertak juga terdapat pemasaran dan penguatan kelembagaannya.

“Jadi harus ada konsepsi terintegrasi (pemasarannya) dari hulu ke hilir. Termasuk kelembagaanya ke depan harus kita siapkan,” jelas Bagus.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pun mengakui, “Indonesia sudah terkenal sejak dahulu sebagai negara penghasil kopi di dunia dengan cita rasa dan aroma yang sangat luar biasa, kinerja positif komoditas perkebunan pun turut menopang pertumbuhan industri pengolahan, terutama industri makanan dan minuman (mamin).”

Syahrul pun mengungkapkan, kopi dibudidayakan oleh lebih dari 60 negara di kawasan tropis yang terbentang dari Amerika Tengah dan Selatan, Afrika dan Asia Pasifik.

Meskipun negara produsen kopi cukup banyak, tetapi keberadaan kopi Indonesia di pasar dunia tetap diperhitungkan dan mempunyai peluang yang baik di era liberalisasi perdagangan. Hal ini karena beberapa sifat yang dimiliki kopi Indonesia antara lain memiliki kekhasan cita rasa (baik untuk kopi jenis arabika maupun robusta) yang menyebabkan kopi Indonesia tetap dibutuhkan di pasar dunia, bahkan cukup banyak yang tergolong kopi yang memperoleh apresiasi konsumen sebagai kopi premium.

Baca Juga:  PABRIK BAN MINTA PENGAPALAN DITUNDA, PABRIK CRUMB RUBBER KESULITAN CASH FLOW

Sebagian besar kopi arabika Indonesia sudah mempunyai posisi di pasar internasional sebagai kopi specialty dan memperoleh harga premium.

Beberapa jenis kopi specialty Indonesia sudah memiliki brand di pasar dunia karena faktor geografis dan lingkungan yang spesifik seperti Java Preanger Coffee, Toraja Coffee, Kalosi Coffee, Gayo Coffee, Mandailing Coffee, Lintong Coffee, Bali Kintamani Coffee, Flores Bajawa Coffee, Baliem Coffee dan lain-lain. Pasar kopi specialty saat ini sedang tumbuh di negara-negara konsumen utama (Amerika Serikat, Uni Eropa dan Jepang).

“Telah kita ketahui bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan III-2021 berhasil tumbuh positif sebesar 3,51% (Y-on-Y) atau 1,55% (Q-to-Q), melanjutkan pertumbuhan positif sebelumnya dari Triwulan II-2021,” jelas Syahrul.

Selanjutnya, Syahrul menerangkan, situasi pandemi yang mulai terkendali telah mendorong peningkatan aktivitas ekonomi domestik, khususnya di sektor pertanian.

Seperti diketahui, produk dometik bruto (PDB) pertanian tumbuh 1,31% pada triwulan ke III tahun 2021, pertumbuhan PDB sub sektor perkebunan tumbuh 8,34 persen didorong peningkatan produksi beberapa produk perkebunan seperti kelapa sawit, kopi, kakao dan tebu.