2nd T-POMI
2024, 20 Maret
Share berita:

JAKARTA, mediaperkebunan.id – Penerapan teknologi digitalisasi di industri kelapa sawit memperkuat keberlanjutan operasional dari hulu hingga hilir. Produktivitas meningkat dan kualitas tandan buah segar (TBS) semakin baik.

Deputy Head of Digital Transformation Asian Agri Marjan Purba mengatakan, transformasi digital di perkebunan kelapa sawit akan meningkatkan disiplin dan integritas operasional di lapangan.

“Hal ini akan menghasilkan pekerjaan yang lebih berkualitas, data yang lebih akurat, transparan, dan cepat, sehingga pengambilan keputusan juga akan lebih tepat sasaran,” ujar Marjan di Jakarta, Selasa (19/3/2024).

Menurut Marjan, teknologi digitalisasi di Asian Agri dan Apical telah membawa perubahan paradigma dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan tanggung jawab lingkungan.

Asian Agri memulai perjalanan digitalnya dengan meluncurkan program Asian Agri Connected Plantation pada tahun 2016 dan dilanjutkan dengan Asian Agri Connected Mill pada tahun 2019 yang bertujuan untuk menciptakan nilai tambah di operasional bisnis, untuk mencapai kualitas yang lebih baik, produktivitas yang maksimal, serta biaya yang lebih kompetitif. 

Marjan mengatakan, penggunaan data Global Positioning System (GPS) akan memungkinkan perusahaan untuk menelusuri kembali (traceability) aktivitas perkebunan dan pabrik kelapa sawit yang sudah dilakukan. Dengan adanya transformasi digital ini sangat mendukung kegiatan operasional di perkebunan dan juga pabrik kelapa sawit.

Di sisi lain, lanjut Marjan, Apical, sebagai pemain utama di sektor pengolahan midstream, memanfaatkan teknologi seperti blockchain, pemantauan satelit, dan Sistem Informasi Geografis (GIS) untuk meningkatkan transparansi dan keberlanjutan dalam rantai pasokannya.

Melalui penerapan A-SIMPLE Implementation Framework 2020, Apical berhasil meningkatkan efisiensi dan meminimalkan risiko, termasuk deteksi dini hot spot dan pelacakan ketelusuran area konsesi.

Corporate Communications Manager Apical Group Vanda Kusumaningrum menyatakan, inovasi digital ini tidak hanya memperkuat transparansi. Namun inovasi juga meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan terhadap komitmen keberlanjutan di Apical, sehingga seiring dengan kapasitas pabrik yang meningkat, pemenuhan rantai pasok yang berlanjut dapat dipenuhi.

Baca Juga:  Penguatan dan Percepatan Sarpras dalam Perbaikan Tata Kelola Sawit rakyat

Head of Sourcing Apical Group Edi Tjeng menambahkan, bagi departemen Sourcing, teknologi memungkinkannya mendapatkan supplier unggul karena dapat mempersingkat rantai verifikasi di rantai pasok Apical.

Sehingga tekonologi memmudahkan proses verifikasi dimana sangat penting melacak asal-usul produk. “Apical berperan vital dalam implementasi ESG, melawan deforestasi, yang juga sesuai dengan komitmen keberlanjutan Apical 2030,” ujar Edi. (*)