13 July, 2018
Bagikan Berita

Petani kelapa sawit protes keras jika tanaman kelapa sawit dianggap merusak lingkungan seperti yang dituduhkan Uni Eropa. Justru perkebunan kelapa sawit yang dikelola petani melalui pola perkebunan inti rakyat (PIR) sejak 1980-an malah memperbaiki lingkungan.

“Tidak betul apa yang dituduhkan Uni Eropa tentang kelapa sawit yang merusak lingkungan. Kalau Uni Eropa punya penilaian bahwa kelapa sawit merusak lingkungan, buktikan Buktikan. Kami siap menerima mereka jika mau datang ke kebun kami,” tukas Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit PIR Setiyono kepada Perkebunannews.com.

Setiyono mengatakan, petani yang ikut program sawit pola PIR lahannya justru berkembang baik, dan lingkungan terjaga. Pola PIR yang dibiayai bank dunia melalui ADB, hingga sekarang masih terawat.

Menurut Setiyono, perkebunan sawit pola PIR sudah tidak bisa diragukan lagi, baik dari kemajuan ekonominya, pengelolaan lahannya, dan lingkungannya. “Kami membuka lahan pada awalnya sudah melalui aturan, dan pedoman yang berlu termasuk pengelolaan lingkungan,” ujar pria asal Kediri, Jawa Timur yang ikut Pola PIR Trans pada 1989 itu.

Setiyono menekankan, tanaman sawit justru memperbaiki lingkungan. Karena awalnya lahan berupa lahan kering yang selanjutnya dibuka untuk perkebunan kelapa sawit. “Jadi kami justru membenahi lahan-lahan tidur dan lahan yang rusak untuk ditanam kelapa sawit,” tandasnya.(YR)

(Visited 87 times, 1 visits today)
Baca Juga  RISET DI INDONESIA BELUM JADI INVESTASI , MASIH DIANGGAP BIAYA