2nd T-POMI
2024, 3 Februari
Share berita:

Jakarta, Mediaperkebunan.id

Dalam Perpres 40/2023 tugas Kementerian Pertanian adalah meningkatkan pembinaan, bimbingan teknis dan pendampingan pada petani tebu dalam rangka peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tebu giling yang berdaya saing; meningkatkan akses pendanaan melalui lembaga keuangan kepada petani tebu.

Menurut M. Rizal.Ismail, Direktur Tanaman Tahunan dan Semusim, Ditjen Perkebunan, Kementan, pihaknya  sudah melakukan berbagai upaya untuk melaksanakan Perpres tersebut. Produksi gula tahun 2023 mencapai 2.271.009 ton sedang tahun 2028 untuk mencapai swasembada gula konsumsi produksi harus 3.461.915 ton, harus ada peningkatan produksi 1.190.906 ton dalam kurun waktu 5 tahun.

Upaya yang dilakukan adalah pada perkebunan rakyat dilakukan bongkar ratoon 99.443 ha, dengan protas tebu 71 ton/ha dan rendemen 7,51% maka produksi gula 530.185 ton; rawat ratoon 198.865 ha dengan protas 80 ton/ha dan rendemen 8% produksi gula 1.272.738 ton sehingga produksi gula tebu rakyat 1.802.923 ton.

Sedang untuk perusahaan swasta dan negara bongkar ratoon 43.200 ha, protas 80 ton tebu/ha, rendemen 7,51% produksi gula 259.546 ton; rawat ratoon 122.789 ha, protas tebu 82 ton/ha, rendemen 8% , produksi gula 1.065.041 ton; perluasan 229.000 ha, protas tebu 80 ton/ha, rendemen 7,51% produksi gula 1.375.832 ton. Total produksi gula perusahaan swasta dan BUMN 2.440.873 ton, total produksi gula 4.243.796 ton.

Grand strategi jangka panjang di hulu adalah koordinasi upaya pelepasan kawasan hutan untuk tebu; koordinasi HGU terbengkalai untuk tebu; PG membangun kebun sendiri dan kebun rakyat untuk memenuhi kebutuhan tebu; penyediaan benih dilakukan dalam satu manajemen PG dan penataan varietas, dengan menggunalan varietas unggul yang rendemennya tinggi; proses penerbitan peraturan Menteri Pertanian tentang kemitraan pekebun tebu dengan PG sebagai upaya penguatan kemitraan yang sudah terjalin antara PG dan petani; penyediaan saprodi dan alsintan; peningkatan kapasitas SDM; penerapan GAP, GHP dan GMP; pembiayaan perbankan dengan KUR.

Baca Juga:  Tujuh Komoditas Menjadi Prioritas 2019

Sedang di hilir peningkatan efisiensi PG ekstisting dengan revitalisasi mesin dan penggabungan PG yang tidak efisien juga penataan jadwal giling; pabrik bioetanol dan suply energi listrik (cogeneration) untuk meningkatkan nilai tambah; PG rafinasi dapat membangun PG baru dan membangun kebun tebu lewat PMDN, PMA; memberdayakan lembaga riset; pengawalan dan pengawasan distribusi dan tata niaga gula impor (RS dan GKP), impor RS diprioritaskan pada PG yang bisa mengolah RS pada Januari-Mei sebelum musim giling; perlu adanya alternatif sumber pembiayaan tebu dengan membentuk BPDP tebu dengan sumber dana dari insentif impor dan produksi gula.