2nd T-POMI
2024, 29 Februari
Share berita:

Surabaya, Mediaperkebunan.id – Perpres nomor 40 tahun 2023 tentang Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan  Bioetanol Sebagai Bahan Bakar Nabati (Biofuel), menyebutkan salah satu tugas Menteri Koordinator Perekonomian adalah mengkoordinasikan pelaksanaan percepatan swasembada gula nasional termasuk penyusunan dan penetapan peta jalan (road map).

Sebagai tindak lanjutnya dalam waktu dekat akan diluncurkan road map swasembada gula yang merupakan rumusan semua pemangku kepentingan gula dan tebu. Dida Gardera, Deputi 2 Bidang Agribisnis dan Pangan, Kementerian Koordinator Perekonomian menyatakan hal ini pada pembukaan Seminar Nasional Gula (Indonesian Sugar Conference) “Kiat Mencapai Swasembada Gula 2030” yang diselenggarakan Media Perkebunan.

Kunci utama swasembada gula adalah penambahan luas lahan baru perkebunan tebu seluas 700.000 ha yang bersumber dari lahan perkebunan, lahan tebu rakyat dan lahan kawasan hutan. Hal ini tidak mudah sebab selain tebu, komoditas lain juga untuk peningkatan produksi perlu lahan yang besar.

“Kita lihat ketersediaan lahan yang ada. Bila memungkinan dan diperlukan maka secara regulasi akan diupayakan menjadi areal baru penanaman tebu,” katanya.

Sambil mencari lahan, titik beratnya pada intensifikasi sehingga produktivitas tebu sebesar 93 ton/ha/tahun bisa tercapai melalui pembibitan dengan menggunakan varietas unggul, penanaman, pemeliharaan tanaman dan tebang muat angkut sesuai dengan cara budidaya yang baik dan cara penanganan yang baik.

Ketergantungan pada impor gula harus diakhir. Gula harus bisa dipenuhi dari kekuatan sendiri. Aspek lain yang harus dicapai adalah peningkatan kesejahteraan petani tebu. Petani harus mendapat dukungan. “Swasembada gula harus tercapai dengan peningkatan kesejahteraan petani,” kata Dida.

Ekonomi Indonesia sampai saat ini terjaga dengan baik dengan pertumbuhan 5%. Pertanian merupakan penyerap tenaga kerja tertinggi. Tantangannya menurut sensus rumah tangga pertanian jumlah rumah tangga usaha pertanian semakin menurun, juga lebih dari 70% petani sudah berusia tua. Sekarang perlu upaya bagaimana menarik anak muda supaya mau jadi petani.

Baca Juga:  Fenomena Varian Baru Bemisia Tabaci dengan “Keganasan” Lebih Tinggi

El Nino tahun lalu menyebabkan kekeringan yang dampaknya masih bisa dirasakan sekarang, tahun ini hujan turun dengan intesitas cukup tinggi sehingga di beberapa daerah banjir dan menyebabkan gagal panen. Ini dilema yang dihadapi baik kemarau maupun hujan punya potensi menjadi penyebab gagal panen.