Jakarta, mediaperkebunan.id - Hijauan (Forage) merupakan komponen utama pada ransum ruminansia karena hampir semua zat nutrisi yang diperlukan oleh ternak terkandung di dalamnya. Hijauan menjadi sumber serat utama yang sangat dibutuhkan oleh mikroba rumen untuk proses fermentasi, sehingga dapat menghasilkan energi. Meski hijauan pakan merupakan komponen ransum yang penting, penyediaan hijauan masih memiliki tantangan hingga saat ini. Salah satunya adalah ketersediaan hijauan yang sering mengalami fluktuasi akibat musim dan kepemilikan lahan. Oleh karena itu, diperlukan sumber hijauan alternatif yang tersedia dalam jumlah besar yang dapat mencukupi kebutuhan pakan untuk mendukung ketahanan pakan. Ketahanan pakan adalah ketersediaan bahan pakan yang aman, bermutu, dan cukup untuk ternak sepanjang tahun. Hal ini menjadi kunci utama agar usaha peternakan tetap stabil di tengah musim kemarau atau perubahan cuaca. Salah satu sumber alternatif yang berpotensi dimanfaatkan adalah daun tebu kering.
Tanaman tebu (Saccharum officinarum) merupakan tanaman perkebunan penghasil gula yang berasal dari famili Poaceae (rumput-rumputan) dan dipanen pada umur sekitar satu tahun. Klasifikasi tersebut menunjukan bahwa tebu memiliki karakteristik morfologi dan anatomi yang serupa dengan tanaman rumput lainnya, yang umumnya dimanfaatkan sebagai hijauan pakan ternak.
Salah satu bagian limbah dari tanaman tebu adalah daun tebu kering, yang berasal dari limbah on farm bersama dengan pucuk tebu dan pangkal tebu. Proporsi daun tebu kering berkisar 14% dari total bobot tebu yang telah dipanen. Secara morfologi, daun tebu merupakan daun tidak lengkap yang hanya terdiri atas pelepah dan helaian daun tanpa tangkai daun. Petani cenderung membakar daun tebu setelah proses pemanen karena daun tebu kering dianggap sebagai sampah. Praktik ini tidak hanya menyebabkan pemborosan sumber daya biomassa, tetapi juga berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Limbah daun tebu yang melimpah perlu dimanfaatkan dengan baik karena potensial untuk dijadikan sumber pakan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total luas lahan atau areal perkebunan tebu di Indonesia tercatat sekitar 489.338 hektare, sehingga dapat diperkirakan banyak sekali daun tebu kering yang dihasilkan dan dibuang secara percuma.
Ketersediaan daun tebu kering yang melimpah pada musim panen di musim kemarau dapat dimanfaatkan sebagai sumber serat alternatif pengganti hijauan dan akan memberikan tambahan daya dukung bagi pengembangan usaha peternakan ruminansia di sekitar perkebunan tebu. Namun demikian, pemanfaatan daun tebu kering sebagai pakan masih menghadapi kendala yaitu, kualitasnya yang rendah karena berasal dari daun yang sudah tua. Rendahnya kualitas daun tebu diakibatkan oleh kadar serat kasar yang tinggi. Fraksi serat yang terkandung pada daun tebu adalah selulosa 27,46%, hemiselulosa 19,15%, lignin 11,95%.
Kadar serat kasar berkaitan dengan umur tanaman, semakin tua tanaman maka kadar serat semakin tinggi. Hal ini disebabkan oleh lignin yang mengalami penebalan pada dinding sel, sehingga dinding sel pada jaringan sklerenkim menjadi tebal, kuat, dan keras. Penebalan lignin pada dinding sel tersebut menghambat akses mikroba rumen terhadap komponen karbohidrat struktural. Kandungan serat kasar yang tinggi dapat menurunkan kecernaan pakan pada ruminansia. Di samping itu, pengeringan akibat sinar matahari akan memperkuat ikatan lignin dengan senyawa lainnya, sehingga lebih alot dan menambah sulitnya daun kering untuk dicerna. Oleh sebab itu, perlu dilakukan proses pengolahann diantaranya proses fermentasi untuk menurunkan komponen serat kasar agar daun tebu kering dapat dimanfaatkan sebagai pakan ruminansia.
Fermentasi adalah suatu proses pengolahan pakan yang melibatkan mikroorganisme untuk merombak senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana. Melalui proses fermentasi, kandungan serat kasar akan menurun. Fermentasi menjadi salah satu metode pengolahan pakan ternak yang telah banyak dikenal dan digunakan secara luas. Fermentasi secara penerapannya ada dua kategori yaitu secara aerob dan anaerob. Fermentasi anaerob merupakan salah satu teknik pengolahan untuk pengawetan dan peningkatan kualitas. Teknik ini banyak digunakan pada hijauan pakan dengan istilah ensilasi dan produk fermentasinya dinamakan silase. Fermentasi anaerob (ensilasi) dengan harapan peningkatan kadar air dalam proses tersebut akan menyebabkan struktur jaringan tanaman jagung akan lebih mengembang, sehingga fermentasi yang dilakukan oleh mikroba memudahkan dalam proses fermentasi. Proses tersebut dapat meregangkan atau memecahkan serat kasar khususnya ikatan lignin dengan selulosa dan hemiselulosa, sehingga mudah dicerna oleh ruminansia. Pada proses fermentasi terjadi perubahan struktur kimia dengan bantuan enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme.
Proses fermentasi diketahui dapat menurunkan kadar serat kasar karena terjadi proses degradasi lignin, selulosa, dan hemiselulosa oleh mikroba. Campuran kultur mikroorganisme bermanfaat yang memiliki sifat fermentatif. Penurunan kadar NDF, ADF, dan lignin tersebut terjadi karena adanya proses peregangan dan pemutusan ikatan lignoselulosa serta hemiselulosa, sehingga fraksi isi sel (NDS) meningkat. Sebelum fermentasi, selulosa dan hemiselulosa merupakan komponen serat yang diharapkan tersedia sebagai sumber energi bagi ruminansia, karena dapat didegradasi oleh mikroba rumen.
Fermentasi limbah serat asal pertanian merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan nilai nutrisi dan pemanfaatannya sebagai pakan ruminansia. Proses fermentasi oleh mikroorganisme dapat membantu memecah ikatan lignoselulosa, sehingga fraksi selulosa dan hemiselulosa menjadi lebih mudah diakses dan difermentasi oleh mikroba rumen. Perlakuan tersebut umumnya dapat meningkatkan kecernaan bahan kering dan bahan organik, memperbaiki konsumsi pakan, serta meningkatkan ketersediaan energi bagi ternak.
Dampaknya terhadap performa ruminansia sangat bergantung pada jenis limbah, metode dan lama fermentasi, mikroorganisme yang digunakan, serta komposisi ransum secara keseluruhan. Fermentasi yang tepat dapat meningkatkan konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan, efisiensi penggunaan pakan, dan pada ternak perah berpotensi meningkatkan produksi susu. Selain itu, fermentasi dapat menurunkan sebagian senyawa penghambat seperti komponen fenolik atau faktor antinutrisi tertentu, sekaligus meningkatkan palatabilitas. Namun, fermentasi tidak selalu meningkatkan seluruh parameter performa, kehilangan bahan organik selama fermentasi atau proses yang kurang terkendali dapat menurunkan nilai energi dan menyebabkan kualitas pakan tidak optimal. Karena itu, limbah hasil fermentasi tetap perlu dianalisis kualitasnya dan diformulasikan dalam ransum secara tepat agar peningkatan kecernaan benar-benar menghasilkan peningkatan performa ternak.
Dengan demikian, daun tebu kering jangan dibakar atau dibuang sebaiknya diolah misalnya dengan cara difermentasi untuk dapat digunakan sebagai sumber pakan potensial dalam rangka mendukung ketahanan pakan.
Oleh:
Iman Hernaman
Dosen Fakultas Peternakan dan Prodi Profesi Insinyur Universitas Padjadjaran