Jakarta, mediaperkebunan.id - Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) diminta Ditjenbun untuk ikut menyediakan kebun benih berjenjang tebu dalam program hilirisasi perkebunan. P3GI sudah membangun 905 ha kebun benih berjenjang baik untuk bongkar ratoon muapun perluasan. Kebun benih datar seluas ini mampu memenuhi kebutuhan 5.000 ha kebun tebu. Akmal Agustira, Kepala P3GI/PT Riset Perkebunan Nusantara menyatakan hal ini.
Program hilirisasi tebu untuk tahun 2026 menurut data Ditjen Perkebunan adalah 99.547 ha di 11 provinsi terdiri dari bongkar ratoon dan perluasan areal. Pemerintah menyediakan 5,9 miliar mata benih unggul tebu. Petani maksimal 5 ha/orang dengan bantuan 60.000 mata tunas/ha dan 40 HOK.
P3GI tahun 2026 membangun 905 ha penuh tantangan, selain karena keterbatasan permodalan, P3GI tidak memiliki fasilitas kebun yang luas untuk pengembangan benih berjenjang dalam skala luas Sehingga pemenuhan program benih berjenjang banyak dilakukan oleh banyak penangkar yang lain.
Banyak penangkar menggunakan benih hasil pemuliaan dari P3GI, tetapi diperbanyak sendiri oleh penangkar. Dalam pengembangan penelitian riset P3GI terus berupaya melakukan pengembangan benih unggul dengan sumber pendanaan internal yang terbatas. Belum ada mekanisme pembayaran royalty pada pemulia ataupun institusi penelitian seperti P3Gi sebagai sumber pembiayaan riset benih dan riset tebu lainnya .
Disamping itu, musim kering yang panjang karena El Nino tahun 2026 menjadi tantangan tersendiri yang sangat mempengaruhi P3GI dan penangkar lain. Kekurangan air menyebabkan kualitas benih menurun. Air masih tersedia tetapi volumenya berkurang. Dampak tersebut dirasakan petani penerima manfaat. Banyak petani yang memundurkan jadwal tanamnya.
Dari rencana semula menerima benih bulan Agustus, September, Oktober karena kebunnya tidak ada air minta mundur November-Desember. Tantangan bagi penyedia benih juga terkendala oleh terbatas waktu sertifikat benih yang dimiliki penyedia sehingga benih banyak yang mengalami expired.
Meskipun Ditjenbun sudah mendorong CPCL petani tetapi terkendala kekeringan. Benih tebu siap tanam ketika berumur 7-8 bulan. Penundaan membuat 50% mata yang berada di bawah tidak bisa digunakan lagi. Ditjenbun juga sudah merelaksasi penggunaan benih. Kondisi ini menjadi beban sendiri bagi penyedia benih.
Distribusi benih ke petani tinggal tersisa 2 bulan lagi yaitu November dan Desember. Ditjenbun juga sudah berusaha mendorong secara maksimal supaya benih tebu bisa ditanam baik bongkar ratoon maupun perluasan November-Desember ini. Target penyaluran benih tebu tahun 2026 baru terealisasi 50%. Anggaran pengadaan benih tebu tahun 2026 tidak bisa digunakan untuk tahun 2027.
“Ketersediaan air menjadi kendala utama petani tebu untuk menerima bantuan benih dan HOK. Karena sekarang tebu ditanam di lahan kering marginal, sedang lahan beririgasi untuk tanaman pangan. Kedepan tebu juga perlu irigasi dan sarana pengairan untuk menjamin ketersediaan air,” katanya.
Ada dua program yang bisa meningkatkan produksi gula yaitu penggunaan benih unggul dan penataan varietas. Tetapi dengan target yang besar dan kondisi iklim, tahun ini yang dikejar baru pengadaan benih unggul. Varietas yang banyak disiapkan adalah varietas yang masak akhir. Varietas yang masak awal dan tengah masih kurang.
“Petani masih memilih varietas tertentu . Tentunya ini perlu lebih memerlukan diseminasi yang lebih baik terkait penataan varietas sehingga program benih yang dilakukan pemerintah untuk mencapai swasembada gula agar jauh lebih baik Walaupun demikian, program ini dapat mendorong peningkatan produksi gula tahun 2027 . Produksi gula tahun 2027 diperkirakan akan naik dibanding tahun 2026. Tahun 2026 produksi tebu turun karena kekeringan sedang rendemen naik, tetapi produksi gula turun,” katanya.
Produksi gula Indonesia 60% berasal dari Jawa Timur yang berasal dari petani. Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah kekurangan tenaga kerja baik penanaman, pemeliharaan juga panen karena preference minat generasi muda yang sektor non pertanian dan perkebunan P3GI sendiri ketika panen angkut untuk benih mengalami berebut tenaga kerja .
Karena itu mekanisasi menjadi solusi. P3GI sendiri masih bergulat dengan dana operasional sehingga untuk penelitian menjalin kerjasama dengan berbagai pihak. Terbaru dengan Pusat Penelitian Mekanisasi Pertanian China untuk mengetahui kesesuaian traktor, topogarfi tanah, karakter sosial masyarakat, efektivitas dan cara kerja.
Data yang dibagikan GAPGINDO menunjukkan dari 14 PG di Jatim baik PT SGN dan anggota GAPGINDO, sampai saat ini ditengah musim giling yang hampir berakhir, total tebu yang digiling 10.251.484 ton, turun dari 2025 yang mencapai 14.566.979 ton. Sedang rendemen rata-rata 7,3% naik dari 6,67% tahun 2025. Sedang seluruh Indonesia tahun 2026 dari target giling 40,2 juta ton realisasi 36,18 juta ton, lebih rendah dari tahun 2025 yang mencapai 39,39 juta ton.