Rembang Kota, mediaperkebunan.id – Bermodalkan Rp 25 juta, kini usaha kopi dengan jenama atau merek Kopi Lelet Pendawa asal Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah (Jateng) milik Muhamad Totok Wahyudi telah berhasil menembus pasar kopi nasional, menembus berbagai pasar yang ada di berbagai provinsi.
Pria berusia 42 tahun yang akrab disapa dengan panggilan Totok itu, seperti dikutip Mediaperkebunan.id dari laman resmi Kementerian BUMN, Jumat (20/6/2025), tidak menyangka Kopi Lelet Pandawa mengalami pertumbuhan bisnis yang signifikan.
Padahal sebagai pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Totok hanya berkeinginan untuk mengembangkan usaha kopinya tersebut sebagai upaya melestarikan tradisi minum kopi masyarakat pesisir utara pulau Jawa atau Pantura.
Namun berkat sentuhan, bimbingan, dan pembinaan Rumah BUMN (RB) PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) di Kabupaten Rembang yang dikelola oleh anak usahanya, PT Semen Gresi, Kopi Lelet Pandawa mengalami pertumbuhan bisnis yang signifikan.
Pria asal Desa Sendangagung, Kecamatan Pamotan, ini mengungkapkan rasa syukurnya karena telah menjadi bagian dari RB Rembang sejak tahun 2020.
Pria yang akrab disapa Totok ini mengakui bahwa peran RB Rembang sangat besar dalam mengembangkan usahanya.
Ia tidak hanya mendapat pelatihan administratif dan manajemen bisnis, tetapi juga dukungan dalam penguatan merek (branding) serta perluasan pasar melalui digital marketing yang membuat daya saing produknya semakin kuat.
“Namun setelah bergabung dengan RB Rembang, kami mendapatkan banyak pelatihan, peluang untuk promosi, hingga perluasan jejaring usaha, yang justru membuat saya lebih termotivasi untuk terus melangkah maju,” ujar Totok.
Usaha yang dimulai Totok sejak Oktober 2019 dengan modal awal Rp 25 juta kini telah berkembang pesat, terutama dalam hal pemasaran.
Awalnya, dengan hanya menggunakan alat sangrai sederhana, ia memperkenalkan racikan kopi khasnya kepada kerabat, lalu memasarkan secara mandiri ke toko kelontong dan pasar tradisional.
Kini, usaha Kopi Lelet Pandawa didukung oleh 14 karyawan dari Desa Sendangagung yang terlibat dalam proses produksi, pengemasan, hingga distribusi.
Jangkauan pemasarannya pun semakin luas. Selain di Rembang, produk ini telah menembus pasar daerah lain seperti Blora, Pati, Kudus, Jepara, Demak, dan Tuban di Provinsi Jawa Timur (Jatim)
Bahkan berkat peran e-commerce, Kopi Lelet Pandawa kini bisa dinikmati oleh konsumen di Provinsi Jawa Barat (Jabar), berbagai provinsi di Pulau Kalimantan, hingga Pulau Bali.
Dikenal karena kualitas premium dan racikan otentik tanpa campuran, kopi ini dijual dengan harga Rp 19.000 per bungkus.
Kini, Totok berhasil menjual hingga 2.100 bungkus per hari, menghasilkan omzet rata-rata Rp 30.000.000 per hari.
”Alhamdulillah, banyak sekali manfaat yang saya rasakan semenjak menjadi bagian dari RB Rembang. Bahkan, kami dibantu membangun jaringan dengan sesama pegiat UMKM,” kata Totok.
“Terima kasih SIG dan Semen Gresik, semoga ke depan semakin banyak UMKM yang bisa dirangkul. Semua pengalaman ini membuat kami semakin termotivasi untuk terus berkembang,” imbuh Totok.
Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, menegaskan bahwa SIG terus berkomitmen mendampingi UMKM melalui program pembinaan di RB Rembang.
Upaya ini telah melahirkan banyak pelaku usaha sukses yang turut mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta menciptakan lapangan pekerjaan.
“Sejak beroperasi pada 2020, Rumah BUMN SIG di Rembang telah mendampingi 495 UMKM naik kelas yang diikuti dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 1.869 orang,” ujar Vita Mahreyni.
“Pencapaian ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan lapangan kerja dan mendorong kewirausahaan, serta pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan,” tegas Vita Mahreyni.