Surabaya, mediaperkebunan.id – Para petani sekaligus pengelola kedai kopi di berbagai sentra perkebunan kopi di Provinsi Jawa Timur (Jatim) kini sudah semakin mudah mengakses pasar melalui proses digitalisasi.
Semua kemudahan itu, seperti dikutip Mediaperkebunan.id dari laman resmi Unibraw, Senin (9/6/2025), berkat pengembangan dan penerapan teknologi QR code oleh para dosen dan mahasiswa dari Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang.
Adapun para dosen dan mahasiswa Unibraw yang mengembangkan teknologi QR Code bagi para petani kopi tersebut diketuai oleh Prof Luchman Hakim dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).
Kemudian turut di dalamnya Dr Candra Dewi dari Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Dr. Edriana Pangestuti dari Fakultas Ilmu Administrasi (FIA), Dr Wenny Bekti S dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), serta mahasiswa dari lintas fakultas.
Tim Unibraw tersebut meluncurkan inovasi kedai kopi digital yang menyasar desa-desa penghasil kopi di Provinsi Jatim, seperti di Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, dan di Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi.
Prof Luchman Hakim menyebutkan, upaya digitalisasi kopi tersebut merupakan upaya penggabungan antara sensasi menikmati kopi langsung dari sumbernya, dengan keindahan alam desa penghasil kopi itu sendiri.
Dan ternyata, sambung Prof. Luchman Hakim, hal ini bukan sekadar gaya hidup baru, tetapi juga menjadi strategi inovatif dalam membangkitkan ekonomi desa dan pelestarian lingkungan.
“Hal inilah yang mendasari lahirnya kedai kopi digital di kawasan desa wisata penghasil kopi, terutama di Jawa Timur yang kaya akan potensi alam dan budaya,” kata Prof Luchman Hakim.
Dia mengungkapkan, inisiatif ini merupakan bagian dari program di Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains dan Teknologi (DIKST) yang dimulai sejak akhir 2024 dan telah mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat dan mitra lokal.
“Di tengah meningkatnya industri kopi dan café, tantangan kita adalah mengintegrasikan teknologi informasi, hospitality, dan edukasi pascapanen dalam satu ekosistem,” jelas Prof. Luchman.
Dia menjelaskan, teknologi yang mereka kembangkan ke para petani kopi adalah menerapkan label QR code pada berbagai jenis kopi yang tersedia di kedai digital.
Melalui pemindaian QR code, kata dia, pengunjung dapat langsung mengakses informasi lengkap seputar asal-usul biji kopi, profil cita rasa, proses pascapanen, dan keragaman hayati yang tumbuh di lingkungan kebun kopi.
Dengan cara ini, ucap Prof Luchman Hakim, para wisatawan tidak hanya sekadar menikmati secangkir kopi, tetapi juga belajar mengenai ekosistem kopi secara menyeluruh.
“Hal ini dinilai mampu memperkaya pengalaman wisata dan meningkatkan kepuasan pengunjung,” kata Prof Luchman Hakim.
Agar inovasi ini berkelanjutan, kata dia, tim dosen Universitas Brawijaya juga aktif memberikan pelatihan intensif kepada kader-kader lokal, seperti pemuda desa dan kelompok tani, yang memiliki minat dalam pengembangan kedai kopi digital.
“Hasilnya, muncul kolaborasi aktif dengan komunitas seperti Markas Ekoliterasi Merdeka dan Kembang Galengan, yang sebelumnya telah mendapatkan pelatihan dalam bidang interpretasi dan hospitality wisata,” tegas Prof Luchman Hakim.