2nd T-POMI
2024, 14 Mei
Share berita:

Bogor, Mediaperkebunan.id.

Taman Nasional Bukit Barisan  Selatan berada  di provinsi Lampung, Sumatera Selatan dan Bengkulu yang merupakan penghasil 75% dari kopi robusta nasional. Luas taman nasional mencapai 317.000 ha dan 5 km zona peyangga. Terdiri dari hutan tropis dataran rendah dan pegunungan, merupakan habitat dari harimau Sumatera, Gajah Sumatera dan Badak Sumatera. Jeni Pareira dari Wildlife Conservation Society Indonesia Program menyatakan hal ini pada GRGF Trade Hub Indonesia Closing Event yang diselenggarakan oleh CIFOR.

Unesco menetapkan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan sebagai Situs Warisan Dunia yaitu Hutan Hujan Tropis Warisan Sumatera. Tahun 2000-2019 terjadi deforestasi sampai 81.000 ha. Sekitar 11% dari taman nasional atau 35.000 ha ditanami kopi.  “Kita jadi masuk ke komoditas sebagai bagian dari perlindungan dan peningkatan kawasan, mitigasi konflik masyarakat dengan satwa liar dan peningkatan mata pencaharian masyarakat,” katanya.

Setelah masuk, masalah yang diharapi petani kopi di TNBBS sama dengan petani komoditas perkebunan umumnya yaitu produktivitas rendah , hanya 600 kg/ha. Padahal kalau diterapkan Good Agricultural Practises , produksi bisa 1,6-2 ton/ha. Petani juga tidak punya akses pada agroinput, kalau ada tidak sesuai misalnya pupuk untuk padi digunakan juga untuk kopi.

Kopi merupakan komoditas global. Meskipun petani di TNBBS ini menanam di remote area tetapi komoditasnya masuk pasar ekspor. Karena itu WCS menjalin kerjasama dengan perusahaan pembeli kopi. Semuanya untuk mendukung transisi petani menjadi produsen kopi bebas deforestasi sesuai ketentuan EUDR.

Upaya yang dilakukan adalah menghidupkan kembali kelompok tani. Selama ini kelompok tani dibentuk dan aktif bila ada program pemerintah untuk menerima bantuan. Setelah program selesai maka kelompok tani ini menjadi tidak aktif. Sebanyak 34 kelompok tani menerima pelatihan praktek budidaya yang baik , hasilnya adalah produksi semakin meningkat.

Baca Juga:  DoNiTa Disukai Petani Dimusuhi OPT

WCS melibatkan perusahaan pembeli kopi baik untuk ekspor maupun keperluan dalam negeri. Sebagai eksportir mereka sangat berhati-hati bersingungan dengan kawasan hutan, takut tidak diterima pembeli di Eopa. WCS justru mendorong perusahaan membeli dari petani di TNBBS sebagai bagian dari responsible resources dan tracebility.

Dilakukan pendataan pada kebun milik 2.800 petani , sesuai EUDR kurang dari 4 ha berupa titik koordinat sedang diatas 4 ha harus poligon. Ternyata membuat peta di remote area dengan topografi berbukit tidak gampang dan mahal.

“Kalau tidak dibantu maka pemetaan ini akan menghilangkan petani dari suply chain kopi ke Eropa. Peta kebun kopi petani dimasukkan dalam sistim informasi petani. Kemudian disambunkan dengan data tahunan perubahan tutupan lahan. Dari data ini kita bisa tahun apakah intervensi kita bisa merubah petani sehingga tidak semakin banyak TN diokupasi kopi,” katanya.

Pendanaan juga jadi masalah. Selama ini ada upaya melakukan investasi pada petani, tetapi kenyataanya mereka  tidak siap. Banyak mekanisme pendanaan dari lembaga keuangan tetapi tidak cocok untuk petani kopi robusta yang panen 2 kali setahun dan setelah itu dahan yang dipanen harus dipangkas sebab tidak akan berbuah lagi. Ada kredit juga belum tentu petani mau karena mereka takut tidak bisa bayar. Koperasi yang harus diibangun disertai literasi finansial.

Perjalanan kopi dari kebun sampai ke gudang dekat pelabuhan milik perusahaan kopi rantai pasoknya panjang. Rantai pasok ini tidak perlu dipotong tetapi bagaimana masing-masing pihak mengembangkan responsible sourcing dan tracebility. Hambatan utama pemasaran kopi robusta TBNS ini harganya lebih tinggi dibanding robusta impor dari Brazil dan Vietnam yang sampai di pelabuhan Indonesia.

Pelajaran dari pembinaan petani adalah petani tidak langsung percaya, harus melihat dulu keberhasilanya. Harus ada petani kunci yang bisa dipegang untuk mempengaruhi petani lainnya. WCS saat in hanya beroperasi di 8 desa, padahal ada ratusan desa di TBBBS sehingga perlu keterkibatan CSO lain sehingga lebih banyak petani bisa dibina.

Baca Juga:  Di Korea Utara, KBRI Pyongyang Angkat Kopi Indonesia