26 February, 2020

Perkebunan kelapa sawit dalam konsep lanskap adalah lanskap produksi yang tidak terpisahkan dalam sistem sosial ekologi pada bentang alam. Damayanti Buchori, Project Director Kelola Sendang ZSL menyatakan hal ini.

Kelola Sendang merupakan kemitraan pengelolaan lanskap Sembilang Dangku, yang merupakan kerjasama kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin, pilot project pembangunan hijau Sumsel didukung oleh UKKCCU dan Kedutaan Norwegia.

Konsepnya adalah sumberdaya alam harus dikelola secara utuh dimana eksploitasi pada satu elemen akan mempengaruhi ketersediaan SDA seluruhnya pada bentang alam; konservasi hutan tidak akan efektif apabila terbatas pada kawasan hutan konservasi namun perlu mempertimbangkan tata guna dan tata kelola lahan sekitarnya; pengelolaanya perlu kesimbangan konservasi dan produksi.

Pengalaman Kelola Sedang dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit perspektif lanskap adalah kapasitas monitoring kawasan (Smart); pengelolaan biodiversitas (HCV); pengelolaan satwa liar dan hama; pengelolaan tata air terpadu pada kawasan hidrologi gambut; sistem keterlacakan sumber pasokan (traceability) yaitu rantai pasok tanpa deforestasi; resolusi konflik lahan dan responsible sourcing from smallholder (RSS).

Dengan total lanskap Kelola Sedang 1.600.303 ha, perusahan perkebunan kelapa sawit yang telah mendapat training smart 414.527,21 ha (25,9% dari total lanskap) dan yang telah memperoleh follow up training dengan adaptasi smart pada areal HCV 252.947,7 ha atau 15,81% dari bentang alam. Hasilnya ditemukan gajah di perbatasan TN dengan perkebunan milik PT Raja Palma yang terus dimonitor.

Lewat RSS , petani swadaya dilatih best manajemen practises dan merupakan tahap awal untuk sertifikasi ISCC, ISPO dan RSPO. Koperasi petani diperkuat kapasitasnya. Keterlacakan dimulai dari pendataan petani berdasarkan data base pemkab diikuti pembenahan rantai nilai untuk memastikan kelapa sawit dari kawasan legal dan memenuhi prinsip bekerlanjutan.

(Visited 63 times, 1 visits today)