Jakarta, mediaperkebunan.id – Pemerintah menyiapkan program pengembangan kopi dengan target penanaman hingga 99.500 hektare dalam tiga tahun sebagai bagian dari program hilirisasi komoditas perkebunan. Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan produksi, nilai tambah, penyerapan tenaga kerja, sekaligus memperkuat orientasi ekspor kopi Indonesia.Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Suwandi, M.Si., dalam sambutannya pada International Coffee Day 2026 yang diselenggarakan oleh Dewan Kopi Indonesia (DEKOPI), Kamis (1/10/2026).
Suwandi hadir mewakili Menteri Pertanian dalam kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa pemerintah tengah mendorong berbagai program pengembangan pertanian dan perkebunan, termasuk melalui pengembangan kawasan hilirisasi sejumlah komoditas.
“Khusus untuk hilirisasi perkebunan enam komoditas, ada alokasi multiyears sebesar Rp9,9 triliun selama tiga tahun. Untuk kopi, ada target tanam 99.000 hektare dalam tiga tahun. Sekarang pun menanam, sebentar lagi musim hujan menanam,” ujar Suwandi dalam acara International Coffee Day 2026.
Berdasarkan paparan yang disampaikan Suwandi, program pengembangan kawasan hilirisasi mencakup enam komoditas, yakni tebu, kakao, kelapa, kopi, mete, serta lada/pala. Secara keseluruhan, program tersebut memiliki target pengembangan lahan mencapai 870.890 hektare, dengan kebutuhan biaya tanam sekitar Rp3,66 triliun dan biaya benih Rp6,30 triliun.
Total kebutuhan biaya pengembangan mencapai sekitar Rp9,95 triliun, dengan potensi penyerapan tenaga kerja mencapai 1.635.167 orang dan prediksi hasil produksi sekitar 5,29 juta ton.
Target Kopi 99.500 Hektare
Untuk komoditas kopi, slide paparan Kementerian Pertanian mencatat target pengembangan mencapai 99.500 hektare. Kebutuhan biaya tanam diperkirakan sebesar Rp790 miliar, sedangkan kebutuhan biaya benih mencapai Rp1,37 triliun.
Dengan demikian, total kebutuhan biaya pengembangan kopi mencapai sekitar Rp2,16 triliun. Program tersebut diproyeksikan menghasilkan sekitar 199.000 ton kopi, dengan nilai hasil sekitar Rp14,93 triliun serta potensi penyerapan tenaga kerja sebanyak 312.500 orang.
Suwandi mengatakan program tersebut menjadi peluang bagi pemilik kebun kopi yang belum dikelola secara optimal maupun pemilik lahan yang masih belum produktif untuk ikut dalam pengembangan kawasan.
“Ada kesempatan bagi yang punya kebun-kebun kopi yang tidak terawat, maupun tanah kosong atau tanah yang menganggur. Silakan bertemu dengan Pak Dirjen, karena masih ada slot untuk pengembangan kopi,” katanya.
Menurutnya, pengembangan tersebut perlu segera dimanfaatkan, terutama menjelang musim hujan yang menjadi salah satu momentum untuk melakukan penanaman.
Hilirisasi Kopi Jadi Fokus Pengembangan
Program pengembangan kopi tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan luas tanaman dan produksi bahan baku. Pemerintah juga menempatkannya dalam kerangka hilirisasi, sehingga peningkatan produksi dapat diikuti dengan pengembangan industri pengolahan dan penciptaan nilai tambah.
Dalam paparan Kementerian Pertanian, program investasi dan hilirisasi komoditas mencakup pengembangan produk olahan serta orientasi pasar ekspor. Untuk kopi, pengembangan kawasan tersebut diproyeksikan menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar dibandingkan hanya mengandalkan penjualan produk primer.
Suwandi menyebut nilai ekspor kopi Indonesia saat ini berada di kisaran Rp26 triliun per tahun. Menurutnya, angka tersebut masih dapat ditingkatkan melalui investasi, peningkatan produksi, dan pengembangan hilirisasi.
“Ekspor kopi kita nilainya sekitar Rp26 triliun setiap tahun. Ke depan, melalui investasi dan hilirisasi, kita ingin nilai tersebut terus meningkat. Orientasinya adalah bagaimana memperkuat nilai tambah dan pasar ekspor,” jelasnya.
Dalam slide mengenai program investasi dan hilirisasi, pengembangan kopi tercatat memiliki kebutuhan investasi sekitar Rp24,71 triliun, dengan orientasi pengembangan menuju ekspor. Program tersebut juga diproyeksikan memberikan penyerapan tenaga kerja sekitar 424.823 orang.
Belajar dari Peningkatan Produksi Pertanian
Dalam sambutannya, Suwandi juga memberikan gambaran mengenai capaian peningkatan produksi pertanian nasional sebagai pembanding bagi pengembangan komoditas lainnya, termasuk kopi.
Ia mencontohkan produksi padi yang menurutnya mengalami peningkatan sekitar 14% dalam satu tahun, atau bertambah sekitar 4 juta ton. Sumatera Selatan bahkan disebut mencatat peningkatan produksi sekitar 24% dalam periode tersebut.
Menurut Suwandi, capaian tersebut menunjukkan bahwa perubahan dalam pengelolaan program, kebijakan, dan pelaksanaan di lapangan dapat memberikan pengaruh terhadap produktivitas, meskipun sumber daya dasarnya relatif sama.
“Lahannya sama, petaninya sama, penyuluhnya sama. Tetapi kenapa dalam waktu satu tahun produksi bisa naik 14%? Yang membedakan adalah pilotnya. Beda pilot, beda hasilnya,” ujar Suwandi.
Ia kemudian mengaitkan peningkatan produksi dengan sejumlah indikator ekonomi. Berdasarkan slide yang dipaparkan, indikator BPS 2024–2025 menunjukkan PDB pertanian meningkat dari 0,83% menjadi 5,74%, sementara NTP 2025 tercatat 124,01.
Pada periode tersebut, penduduk miskin disebut turun 0,70 juta orang, penduduk miskin di desa turun 0,83 juta orang, dan tenaga kerja pertanian bertambah sekitar 0,49 juta orang. Sementara dari sisi perdagangan, ekspor pertanian meningkat 23,29%, sedangkan impor pertanian turun 13,17%.
Menurut Suwandi, indikator tersebut menunjukkan bahwa peningkatan produksi pertanian perlu memberikan dampak yang lebih luas terhadap kondisi ekonomi masyarakat.
Investasi Diharapkan Memperkuat Nilai Tambah
Suwandi menjelaskan, program hilirisasi enam komoditas tersebut memiliki orientasi untuk memperkuat produksi sekaligus meningkatkan nilai ekonomi melalui pengolahan.
Untuk keseluruhan komoditas, program pengembangan kawasan ditargetkan menghasilkan sekitar 5.287.070 ton produksi dengan prediksi nilai hasil mencapai Rp138,49 triliun.
Dari sisi tenaga kerja, program tersebut diproyeksikan mampu menyerap sekitar 1.635.167 orang.
Untuk sektor kopi, pengembangan 99.500 hektare diharapkan menjadi salah satu fondasi untuk memperkuat ketersediaan bahan baku bagi industri pengolahan. Dengan produksi yang meningkat dan dukungan investasi, rantai nilai kopi diharapkan dapat berkembang dari tingkat budidaya hingga produk bernilai tambah dan pasar ekspor.
“Kopi tidak hanya kita lihat sebagai komoditas yang ditanam dan dipanen. Ada kesempatan untuk mengembangkan hilirisasi, meningkatkan nilai tambah, menyerap tenaga kerja, dan memperkuat orientasi ekspor. Ini kesempatan yang harus dimanfaatkan,” kata Suwandi.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun pengembangan komoditas secara lebih terintegrasi. Peningkatan produksi di tingkat kebun perlu berjalan beriringan dengan pengembangan pembibitan, investasi, pengolahan, hingga pemasaran.
Suwandi berharap peluang pengembangan tersebut dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak yang memiliki kebun maupun lahan potensial untuk kopi. Kolaborasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan di sektor perkebunan menjadi penting agar target pengembangan dapat direalisasikan.