Tangerang, mediaperkebunan.id – Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong kopi pekebun menembus pasar yang lebih luas melalui fasilitasi promosi, penguatan kapasitas usaha, dan penjajakan kemitraan perdagangan. Upaya tersebut dilakukan dengan memperkenalkan kopi dari Bandung, Jawa Barat, dan Semendo, Sumatera Selatan, kepada calon pembeli domestik maupun internasional dalam Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 Tahun 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten, pada 14–18 Oktober 2026 lalu.
Fasilitasi melalui Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) ini diarahkan untuk memperkuat posisi pekebun dalam rantai perdagangan kopi, mulai dari peningkatan kualitas produk hingga perluasan jaringan pemasaran. Dengan akses kepada calon pembeli dan mitra usaha, kopi pekebun diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan pasar dan meningkatkan nilai tambah.
Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Kementan, Heru Tri Widarto, mengatakan pengembangan kopi nasional perlu dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir. Peningkatan produktivitas dan konsistensi mutu di tingkat kebun harus diikuti penguatan pengolahan, pengembangan produk, serta perluasan akses pasar agar kopi Indonesia semakin kompetitif.
“Kopi Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar global. Karena itu, penguatan produktivitas di tingkat kebun harus diikuti dengan peningkatan kualitas, pengembangan usaha, dan perluasan akses pasar. Melalui fasilitasi promosi dan penguatan kemitraan, kami mendorong agar pekebun dan pelaku usaha dapat menjangkau lebih banyak pembeli, memperluas pasar, serta memperoleh nilai tambah yang lebih besar,” kata Heru dalam keterangannya pada Jumat (23/10/2026).
Heru menambahkan, fasilitasi Ditjenbun tidak hanya mencakup promosi produk, tetapi juga peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan bantuan peralatan penunjang produksi. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan pelaku usaha dalam menjaga mutu, meningkatkan kapasitas produksi, dan memenuhi kebutuhan pasar.
Salah satu pelaku usaha yang merasakan manfaat dukungan tersebut adalah Wanoja Coffee dari Bandung. Perwakilannya, Satrea Amambi, menyampaikan bahwa fasilitasi Ditjenbun membantu pengembangan usaha, mulai dari kesempatan mengikuti pameran hingga peningkatan kapasitas SDM dan bantuan peralatan produksi.
“Dari tahun ke tahun, dengan adanya dukungan dari Ditjenbun, kapasitas produksi kami meningkat dan kami pun bisa menjual lebih banyak kopi,” ujar Satrea.
Wanoja Coffee telah memasarkan produknya ke sejumlah wilayah di Indonesia, antara lain Bandung, Jakarta, Sumatra, dan Bali. Produk kopi tersebut juga telah menjangkau Arab Saudi, Thailand, serta sejumlah negara di Eropa. Capaian ini menjadi modal bagi perusahaan untuk memperluas jaringan pemasaran dan menjajaki kerja sama dengan pembeli baru.
Kopi Wanoja memiliki karakter cita rasa bernuansa buah (fruity) dengan sentuhan manis. Karakter tersebut diperkuat melalui proses pengolahan dan sortasi untuk menjaga konsistensi mutu produk.
Selain itu, kopi Semendo dari Sumatera Selatan turut diperkenalkan dalam TEI 2026. Kopi Semendo mencakup varian Arabika, Robusta, hingga Liberika yang memiliki karakteristik dan potensi pasar masing-masing.
Perwakilan pekebun kopi Semendo, Abu Saad, mengapresiasi pendampingan Ditjenbun serta sinergi dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI), dan asosiasi terkait dalam mendukung promosi serta pengembangan usaha kopi pekebun.
“Kami sangat bersyukur dan bangga bisa didampingi oleh Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan. Melalui fasilitasi ini, kopi premium kami, mulai dari green beans hingga produk ready to drink, mendapatkan ruang pemasaran yang lebih luas untuk menjangkau pembeli dan menembus pasar ekspor,” ungkap Abu Saad.
Kopi Semendo dikenal memiliki cita rasa lembut (smooth), tingkat keasaman yang seimbang, serta aroma kompleks dengan sentuhan buah-buahan, seperti nangka dan pisang. Penerapan standar pascapanen dan fermentasi yang tepat menjadi bagian penting dalam menjaga mutu sekaligus memperkuat daya saing produk.
Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman terus mendorong komoditas perkebunan unggulan memiliki daya saing dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat. Penguatan produktivitas, konsistensi mutu, hilirisasi, dan akses pasar menjadi bagian dari upaya memperluas peluang usaha sekaligus meningkatkan kesejahteraan pekebun.
Melalui keikutsertaan dalam TEI 2026, Kementan berharap promosi kopi pekebun dapat berlanjut menjadi kerja sama bisnis konkret, seperti penjajakan pesanan, kemitraan pasokan, pengembangan produk sesuai kebutuhan pasar, dan hubungan dagang jangka panjang dengan pembeli domestik maupun internasional.