2nd T-POMI
2023, 20 November
Share berita:

Jakarta, mediaperkebunan.id – Meskipun kebutuhan gula terus meningkat seiring meningkatnya populasi manusia, tapi kebutuhan gula kristal putih (GKP) atau gula konsumsi masih aman hingga awal tahun 2024 nanti.

Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan, Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkebunan, Kementerian Pertanian (Kementan), Muhammad Rizal Ismail mengungkapkan bahwa stok gula konsumsi yang ada saat ini yang mencapai 2,27 juta ton masih terbilang aman hingga awal tahun 2024 nanti.

Pada Pertemuan Taksasi Awal Giling bulan April 2023 di Bandung, disepakati perkiraan produksi nasional sebesar 2,74 juta ton. Selanjutnya, pertemuan Taksasi Tengah Giling pada bulan Agustus lalu di Yogyakarta perkiraan produksi nasional sebesar 2,42 juta ton dikarenakan kondisi iklim tahun 2023 ini mengalami anomali El Nino yang menyebabkan musim kemarau berkepanjangan di seluruh wilayah Pabrik Gula sehingga berdampak pada perkembangan produksi tanaman tebu.

“Jadi untuk hari Natal dan Tahun Baru (Nataru) ini masih aman. Bahkan sampai tahun 2024 ini bisa dibilang masih aman,” jelas Rizal kepada mediaperkebunan.id.   

Meski begitu, Rizal mengakui bahwa produksi tahun 2023 ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tapi, penurunan produksi gula tahun ini bukanlah tanpa sebab. Penurunan produksi GKP tahun ini disebabkan karena adanya El Nino.

“Menurunnya produktivitas tebu ini dikarenakan pada saat fase vegetatif dimana tanaman tebu yang membutuhkan air yang cukup besar, sedangkan pada saat fase vegetatif kemarin masuk El Nino, sehingga tanaman tebu yang sedang membutuhkan air tidak terpenuhi, sehingga menyembabkan penurunan produktivitas,” ungkap Rizal.  

Lebih lanjut, Rizal mengungkapkan, melihat tingginya kebutuhan gula maka Ditjen Perkebunan mengambil sejumlah langkah untuk meningkatkan produksi GKP. Hal ini mengingat jumlah tanaman tebu rakyat mencapai 282 ribu hektar (ha).

Baca Juga:  SPT BELUM BISA DITERAPKAN PG SEPENUHNYA

Adapun yang diajukan untuk tahun 2024 untuk meningkatkan produksi gula nasional yakni diantaranya bongkar ratoon seluas 59 ribu ha atau 30 persen dari total tanaman tebu rakyat. Kemudian rawat ratoon seluas 4.700 hektar.

“Ini kita ajukan terlebih dahulu dengan harapan dapat meningkatkan produksi GKP untuk memenuhi gula konsumsi di masyarakat,” harap Rizal.

Adapun untuk ekstensifikasi atau perluasan lahan tebu, pihak Ditjen Perkebunan sudah berkoordinasi dengan pihak terkait di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), lahan mana yang bisa dijadikan lahan pertanian untuk perluasan lahan tebu.

“Sebab harus diakui beberapa perusahaan sudah ada yang berminat untuk mendirikan pabrik gula (PG) beserta lahannya untuk perkebunan tebu. Namun lahan tersebut harus clear and clean sehingga perusahaan tidak terkena masalah dikemudian hari,” ungkap Rizal.      

Disisi lain, Rizal pun berharap kemitraan antara pabrik gula dalam hal ini industri baik PG milik pemerintah ataupun Perusahaan swasata dengan petani selaku penyedia bahan baku dipererat.

Ini penting, sebab sudah terbuti kebun yang melaakukan kemitraan antara perusahaan dengan petani rata-rata menghasilkan produktivitas yang tinggi. Sebab petani bermitramitra diberikan edukasi agar menghasilkan tebu yang sesuai dengan kriteria PG sehingga menghasilkan tebu dengan rendemen yang tinggi.

“Menanggapi hal ini maka akan diajukan revisi Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) nomor 59 tahun 2015 dimana tentang Good Agricultural Practices (GAP) akan digabung dengan kemitraan, sehingga kedepan petani tebu bisa seluruhnya bermitra dengan Perusahaan yang berujung kepada peningkatan produksi,” pungkas Rizal. (248)