2nd T-POMI
2024, 16 Februari
Share berita:

Jakarta, mediaperkebunan.id – Budidaya wijen di Indonesia penting untuk dibahas. Wijen dengan nama latin sesamum indicum syn sesamum orientalis merupakan tanaman yang dapat tumbuh di iklim Indonesia. Tanaman ini berbentuk seperti lidah memanjang dengan mempunyai permukaan yang berbulu.

Wijen mempunyai banyak nutrisi yang baik bagi tubuh manusia yakni lemak sehat, vitamin, mineral, dan protein. Hal ini menjadikan wijen banyak digunakan sebagai bahan baku untuk produk makanan dan kesehatan.

Potensinya yang besar bagi industri makanan dan kesehatan membuat wijen mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Maka dari itu penting untuk melakukan budidaya wijen bagi petani di Indonesia.

Mengapa budidaya wijen penting?

Permintaan konsumsi wijen di dunia selalu meningkat setiap tahunnya. Namun, tingkat produktivitas wijen berbanding terbalik dengan jumlah produksi yang tersedia. 

Dilansir dari kementerian pertanian, tingkat produktivitas wijen di Indonesia tergolong rendah yaitu sebesar 465 kg/ha dibandingkan dengan negara produsen wijen lainnya yang 1.600 kg/ha. Padahal industri wijen dapat menjadi pasar ekspor potensial untuk negara Jepang, Korea, Singapura dan Malaysia. 

Penyebab utama tingginya tingkat kebutuhan wijen pada negara tersebut dikarenakan kecenderungan penduduk yang menyukai makanan sehat. Penggunaan produk wijen pun meluas ke berbagai negara di Amerika, Eropa, Timur tengah dan Afrika.

Tingkat konsumsi wijen di dunia meningkat rata-rata sebesar 1,6% tiap tahunnya. Pada tahun 1990 tingkat konsumsi wijen mencapai sebesar 2.124,15 ribu ton dan meningkat pada tahun 2003 sebesar 2.738,74 ribu ton. Diperkirakan jumlah tersebut akan terus meningkat beriringan dengan pertumbuhan impor wijen di dunia yang akan meningkat sebesar 6% – 8% setiap tahunnya.

Peluang pasar wijen di dunia terjadi karena negara konsumen utama wijen seperti Jepang, Australia dan Kanada bukan merupakan negara produsen utama sehingga tingkat impor pada negara tersebut sangatlah tinggi. Oleh sebab itu, petani Indonesia mempunyai peluang untuk menjadi eksportir bagi negara tersebut.

Baca Juga:  Pengembangan Stevia di Minahasa, Bukti Korporasi Petani, Investasi dan Kemitraan Berjalan Selaras

Selain itu, pertumbuhan produktivitas budidaya wijen juga menjadi penting karena diharapkan dapat mengurangi jumlah impor wijen di Indonesia. 

Menurut penelitian yang dilakukan Anindita, peningkatan nilai kualitas wijen juga penting dilakukan untuk dapat meningkatkan produktivitas budidaya wijen. Hal ini disebabkan karena kualitas wijen yang tinggi merupakan penentu daya saing wijen pada pasar dunia. 

Peluang budidaya wijen di Indonesia juga sangat potensial karena mempunyai daya dukung yang memadai. Faktor daya dukung tersebut diperoleh dari potensi sumber daya lahan dan iklim di Indonesia yang cocok dengan budidaya tanaman wijen.

Seberapa untung?

Tanaman budidaya wijen dapat ditanam pada lingkungan yang tropis termasuk pada lahan-lahan yang kering dan tidak cocok untuk tanaman lain. 

Wijen juga dapat dibudidayakan pada lahan tadah hujan yang di mana tanaman wijen dapat tumbuh dengan mengandalkan air hujan. Apabila setelah umur 2 bulan tanaman wijen tidak mendapatkan air, maka tanaman tersebut dapat tetap tumbuh hingga menghasilkan panen.

Karakteristik tanaman wijen sangat cocok untuk dibudidayakan di Indonesia karena mempunyai toleransi terhadap kekeringan, produksi tidak mudah rusak karena serangan hewan, input usaha rendah dan resiko kegagalan relatif kecil. Daerah di Indonesia yang cocok dimanfaatkan oleh petani untuk memulai budidaya wijen adalah daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, NTB, Sulawesi Selatan, Gorontalo dan lampung.

Menurut Badan Standarisasi dan Instrumentasi Perkebunan (BSIP) Kementerian Pertanian (Kementan), petani lahan kering dapat menggunakan varietas Sumberrejo (Sbr) 1, 2  dan 3. Ketiga varietas ini mempunyai usia panen 90 – 110 hari dengan potensi produksi sebesar 1,3 ton/ha.

Untuk lahan sawah sesudah padi, petani wijen dapat menggunakan varietas Sbr 4 dengan usia panen 75 – 85 hari. Sedangkan pada lahan tadah hujan petani dapat menggunakan varietas Wijen Nasional (Winas) 1, 2, dan 3 dengan usia panen 98 – 102 hari dengan potensi produksi sebesar 1,8 – 2,2 ton/ha. 

Baca Juga:  Tata Cara Pematahan Dormansi pada Benih Padi

Perawatan tanaman wijen yang relatif mudah mengakibatkan harga wijen tergolong stabil dan tinggi. Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, harga produksi wijen sebanyak 1 kg membutuhkan biaya sebesar Rp 5.954. petani dapat memperoleh penghasilan sebesar Rp 2.209.200 tiap bulannya.

Dengan harga pasar wijen mencapai Rp 17.000/kg,  petani wijen dapat memperoleh keuntungan sebesar Rp 11.046/kg. Petani dapat memperoleh penghasilan sebesar Rp 2.209.200 tiap bulannya.

Melihat potensialnya penanaman wijen di Indonesia serta tingkat kebutuhan yang tinggi di pasar dunia, hal ini menunjukkan pentingnya untuk melakukan budidaya wijen bagi petani di Indonesia. Budidaya wijen diharapkan dapat membantu perekonomian petani Indonesia dan menyumbang keuntungan bagi devisa negara.