17 October, 2019

Penggunaan kayu karet pada industri perkayuan dalam negeri sebenarnya dari sisi volume sudah significant, sayangnya tidak ada data yang jelas sehingga berapa persisnya belum diketahui. Jamal Balfas, dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan hal ini pada 1st Konferensi Karet 2019 “Menuju Agribisnis Karet yang Tangguh, Menguntungkan dan Berkelanjutan.

Sejak tahun 2000, pemerintah menetapkan soft landing bagi industri kayu dalam negeri untuk kayu dari hutan alam. Hutan Tanaman Industri sebagian besar digunakan untuk industri pulp dan kertas, sehingga industri perkakas dan furniture kekurangan bahan baku.

Kayu karet menjadi salah satu yang digunakan karena sifatnya hampir sama dengan kayu hutan dengan potensi 17 juta m3. Keunggulan lain kayu karet adalah tidak perlu sertifikasi karena berasal dari limbah perkebunan.

Densitas kayu karet lebih baik dari meranti tetapi karena lebih batangnya lebih kecil harganya lebih murah. Industri kayu karet sekarang sudah berkembang di Sumatera, mulai dari Lampung sampai Aceh.

Pada awalnya berupa industri kayu gergajian tetapi karena dikenakan pajak ekspor USD150/m3 saat ini yang dikembangkan adalah industri komponen furniture dan furniture yang tidak dikenakan pajak ekspor.

Industri plywood juga sejak tahun 2000 sudah menggunakan kayu karet. Industri furniture kayu karet pasarnya di kuasai Malaysia karena mereka yang mengembangkan pertama kali, di Indonesia juga industri ini mayoritas dimiliki perusahaan Malaysia. Produk flooring yang mahal juga banyak menggunakan kayu karet.

“Menghitung penggunaan kayu karet sulit karena Kementerian Pertanian tidak mencatat dengan alasan kayu bukan wewenangnya, Kementerian KLHK juga tidak mencatat karena asalnya dari kebun bukan dari hutan,” katanya.

Kedepan harus diperjelas siapa yang membina kayu karet sehingga bisa dibuat kebijakan yang tepat. Riset kayu karet harus diperkuat karena potensinya yang besar. Apalagi sekarang permintaan wood pelet sedang tinggi sebagai bahan bakar, dimana ukuran kayu tidak penting dan limbah bisa dimanfaatkan.

(Visited 58 times, 1 visits today)