2nd T-POMI
2024, 27 Februari
Share berita:

SURABAYA, mediaperkebunan.id – Untuk mencapai swasembada gula 2030 inovasi harus ditingkatkan dengan peningkatan produktivitas tanaman, bukan perluasan areal. Peran koperasi sangat penting.

Demikian diungkapkan Prof Dr Ir Agus Pakpahan MSi dalam seminar nasional gula (Indonesia Sugar Conference) bertema “Kiat Mencapai Swasembada Gula 2030” yang diselenggarakan Media Perkebunan di Surabaya, Selasa (27/2/2024).

“Kalau kita tidak bisa menyelesaikan masalah pergulaan, kita tidak akan bisa menyelesaikan masalah Indonesia,” tukas Agus yang juga rektor Universitas IKOPIN.

Agus menuturkan, Belanda meninggalkan artifak sejarah di Indonesia sebagai negara eksportir gula terbesar kedua di dunia tahun 1930. Belanda meninggal semua sistem yang diperlukan untuk membangun gula terbesar yang berbeda dengan sawit, teh atau lainnya.

Sistem itu berupa produksi gula/tebu berbasis non HGU. “Artinya produksi gula berbasis pada lahan sawah atau tegal non HGU. Masyarakat masuk ke dalam sistem agribisnis, termasuk P3GI yang terbesar di dunia,” jelas Agus.

Hal menarik, kata Agus, yang membangun Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) itu bukan negara melainkan perusahaan. Tahun 1800-an perusahaan berkumpul untuk menjawb bagaimana bisa bersaing dengan gula berbasis bit di Eropa. Sehingga menjadi gula terbesar kedua di dunia.

Hal itulah, kata Agus, menjadi fondasi Indonesia menjadi negara eksortir gula terbesar kedua di dunia berdasarkan peninggalan Belanda tersebut.

Menurut Agus, target pemerintah dalam upaya mencapai swasembada gula 2030 tidak perlu adanya perluasan lahan. Pencapaian swasembada gula bisa diwujudkan melalui inovasi dengan peningkatan produktivitas.

Selain itu, tambah Agus, peran koperasi sangat penting dalam upaya mewujudkan swasembada gula. Di Amerika Serikat peran koperasi sangat besar dalam mengembangkan perusahaan gula terbesar.

Baca Juga:  Wilmar Dampingi  1.741 Petani Swadaya Raih ISP0

Data Statistik menunjukkan bahwa sejak 1998 hingga 2008 terjadi trend produksi yang meningkat. Namun setelah itu justru terjadi penurunan produksi gula hingga saat ini. “Ini perlu dikaji kita semua, kenapa itu terjadi,” tandas Agus. (YR)