Mediaperkebunan.id — Dalam rangka memperingati Hari Teh Internasional yang jatuh setiap tanggal 21 Mei, PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) melalui unitnya Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) menggelar webinar series dengan tajuk “Teascape 2025: Future Vision For Better Life” pada Senin (26/5/25).
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap konsumsi teh, meluruskan berbagai mitos yang berkembang, serta memperkenalkan produk dan jasa berbasis komoditas teh dari PPTK. Direktur Utama PT RPN, Iman Yani Harapan, dalam sambutannya menyampaikan pentingnya pendekatan berbasis sains untuk memperkuat edukasi tentang teh kepada masyarakat luas.

“Teh ini sebenarnya juga memiliki manfaat. Beberapa riset membuktikan teh dapat menjadi booster, pengendali beberapa penyakit, dan juga bagian dari upaya pengobatan. Sayangnya, banyak informasi yang beredar belum terverifikasi dan simpang siur,” jelas Iman Yani, Senin (26/5/25).
Sebagai pembuka, acara dimeriahkan dengan seremonial minum teh bersama secara simbolis yang diikuti oleh seluruh peserta webinar dan narasumber. Momen ini menjadi simbol kebersamaan dalam merayakan warisan budaya teh sekaligus menegaskan kembali peran teh sebagai bagian dari gaya hidup sehat.
“Lewat webinar ini, kita kupas tuntas mana yang berbasis sains dan mana yang hanya mitos. Di era digital ini, konsumen teh harus lebih kritis dan mampu mengelola informasi. Saya berharap ilmu dari para narasumber bisa mudah dipahami dan memberi manfaat luas bagi masyarakat,” sambung Iman Yani
Dalam sesi utama, Peneliti Pasca Panen PPTK, Hilman Maulana, memaparkan bahwa teh hijau, teh hitam, teh oolong, dan teh putih sebenarnya berasal dari tanaman yang sama, Camellia sinensis, namun dibedakan oleh proses pasca panen yang menentukan kadar antioksidan, kafein, dan senyawa aktif lainnya.
“Proses oksidasi pasca panen menghasilkan komposisi yang berbeda-beda. Teh hijau sangat kaya katekin dan antioksidan, teh hitam unggul dalam menjaga fungsi pembuluh darah, teh oolong efektif untuk kontrol berat badan, dan teh putih potensial sebagai anti-obesitas,” ujarnya.

Hilman juga menjelaskan bahwa teknik penyeduhan optimal berperan besar dalam menjaga manfaat teh, yaitu menggunakan air bersuhu 80–90°C selama 3–5 menit dan memakai wadah netral seperti porselen atau kaca.
Sementara itu, Pakar Gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Fitriyono Ayustaningwarno, membahas secara khusus pengaruh tanin dan kafein dalam teh terhadap penyerapan zat besi, terutama pada anak-anak.
“Tanin dalam teh dapat menghambat penyerapan zat besi, yang penting bagi tumbuh kembang anak dan ibu hamil. Jika dikonsumsi berlebihan, teh justru bisa memicu anemia,” terang Fitriyono.
“Untuk anak-anak, teh boleh saja dikonsumsi jika berusia di atas dua tahun, tapi harus dibatasi, jangan terlalu pekat, dan tidak menggantikan air putih atau susu. Pilihan terbaik adalah teh herbal bebas kafein seperti chamomile atau jahe,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi keluarga agar minuman sehari-hari tetap sehat dan sesuai kebutuhan gizi.

Di samping itu, Yudi Purnomo, dari Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang, turut mengangkat topik menarik seputar dampak konsumsi teh terlalu panas. Ia mengingatkan bahwa suhu teh di atas 65°C bisa membahayakan kerongkongan.
“Suhu panas dapat menyebabkan luka mikro pada sel endotelium esofagus. Jika kebiasaan ini terus berulang, bisa memicu peradangan kronis dan perubahan sel yang berpotensi menjadi kanker esofagus,” ungkap Yudi.
Ia juga menambahkan, risiko ini meningkat bila dikombinasikan dengan kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan paparan zat karsinogenik lainnya. Tak hanya soal suhu, Yudi juga mengingatkan masyarakat terhadap ancaman mikroplastik, terutama dalam kemasan plastik atau teh celup kualitas rendah.
“Mikroplastik berukuran 1–5 mm mengandung senyawa seperti BPA dan PCB yang bisa terakumulasi dalam tubuh. Ini berisiko mengganggu pertumbuhan, metabolisme, reproduksi, hingga meningkatkan potensi kanker,” jelasnya.
Partikel ini sering ditemukan dalam bentuk fragmen, fiber, hingga granule yang berasal dari bahan plastik seperti polipropilen dan nilon—bahkan bisa masuk ke dalam tubuh lewat makanan dan minuman sehari-hari.
Webinar yang berlangsung hangat ini mendapat respons positif dari ratusan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pelaku usaha, akademisi, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Diharapkan kegiatan ini menjadi pemicu meningkatnya minat konsumsi teh nasional dan pemahaman masyarakat terhadap manfaatnya secara ilmiah dan bertanggung jawab.

