Pati, mediaperkebunan.id – Dalam waktu yang tak lama lagi warga Desa Gunungsari bersama Perusahaan Umum (Perum) Perhutanan Indonesia (Perhutani) yang merupakan salah satu badan usaha milik negara (BUMN) bakal menggelar panen kopi.
Perlu diketahui kalau perkebunan kopi tersebut selama ini ditanam sebagai tanaman sela di kawasan hutan yang ada di Desa Gunungsari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah (Jateng), dan di bawah pengelolaan Perhutani.
Perkebunan kopi itu bisa ada berkat kolaborasi Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kabupaten Pati bersama warga Desa Gunungsari yang dipimpin oleh Sudadi selaku Kepala Desa (Kades), serta Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Hutan Lestari.
Beberapa waktu yang lalu, seperti keterangan resmi yang dikutip oleh Mediaperkebunan.id, Senin (14/7/2025), ketiga belah pihak telah
melaksanakan kegiatan pengukuran taksasi untuk memprediksi hasil produksi tanaman kopi untuk tahun 2025.
Kegiatan ini dilaksanakan di kawasan hutan wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Pangonan, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Regaloh, Desa Gunungsari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati.
Pengukuran taksasi tersebut bertujuan untuk memperkirakan hasil panen kopi yang bisa dihasilkan dan menjadi dasar perencanaan pelaksanaan panen raya yang dijadwalkan berlangsung di bulan Juli 2025 ini.
Tim taksasi terdiri dari jajaran Pengembangan Bisnis Kantor KPH Pati, didampingi Kepala BKPH Regaloh, Sudihartono, Kepala Desa Gunungsari, Sudadi, dan Ketua LMDH Hutan Lestari, Ngarjono.
Sudihartono yang mewakili tim dari Perhutani KPH Pati menyampaikan bahwa kegiatan taksasi ini penting sebagai titik awal dalam merencanakan pelaksanaan panen produksi kopi yang dikelola di dalam kawasan hutan.
“Dengan proporsi bagi hasil yang telah disepakati, yaitu 30:70, terdiri dari 30 persen hasil panen kopi menjadi bagian Perhutani, diharapkan realisasi panen tahun ini dapat tercapai secara maksimal,” ungkapnya.
Kepala Desa Gunungsari, Sudadi, menyampaikan terima kasih kepada tim taksasi dari Perhutani KPH Pati, dan menilai kehadiran tanaman kopi di kawasan hutan telah membawa dampak positif bagi kesejahteraan warganya.
“Dengan adanya tanaman kopi di kawasan hutan, masyarakat kami bisa mendapatkan penghasilan di atas rata-rata,” kata Sudadi.
Saat ini, kata Sudadi, harga kopi kering wose bisa mencapai Rp 45 ribu per kilogram (Kg). Dia berharap harga kopi terus merangkak naik, sehingga petani hutan semakin sejahtera.
“Semoga masyarakat kami bisa semakin sejahtera dari hasil kopi hutan. Karena masyarakat kami sangat bergantung pada hutan wilayah RPH Pangonan,” ujarnya.
Sudadi juga menegaskan bahwa pihaknya setuju dan mendukung penuh sistem bagi hasil yang telah disepakati bersama antara masyarakat dan Perum Perhutani.

