https://api.whatsapp.com/send?phone=6281361509763
Petrokimia Gresik
24 May, 2021
Bagikan Berita

Jakarta, Mediaperkebunan.id

Kabupaten Tanjung Jabung Barat , Jambi terdiri dari 13 kecamatan, 7 kecamatan di daratan yang merupakan sentra sawit dan 6 kecamatan rawa yang merupakan sentra kelapa. “Terjadi perbedaan perlakukan pemerintah pada sawit dan kelapa. Sawit banyak dibantu pemerintah sedang kelapa tidak,” kata Hairan, Wakil Bupati Tanjung Jabung Barat, pada Dialog Nasional “Membangun Literasi Kelapa Menuju Kedaulatan Produksi Pangan Dalam Negeri” yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional RI dan Sahabat Kelapa Indonesia.

“Sekarang petani kelapa sawit yang tanamannya sudah tua mendapat dana hibah Rp30 juta/ha untuk peremajaan. Sedang petani kelapa yang umur tanamannya sudah lebih tua karena warisan dari kakek dan orangtuanya dengan umur tanaman 60 tahunan malah tidak ada bantuan sama sekali, padahal sudah waktunya diremajakan. Saya minta pemerintah pusat memperhatikan peremajaan kelapa juga,” katanya.

Transportasi kelapa saat ini menggunakan parit dan pemda Tanjabar sudah membangun 57 km saluran air dengan pintu air. Beberapa sentra kelapa yang sudah dibuka jalan sehingga mobil bisa masuk sehingga harga kelapa di daerah ini terdongkrak jadi Rp2500 butir , sedang di hulu yang lewat parit masih Rp1500/butir.

Hairan juga minta perbaikan mulai dari hulu supaya dihasilkan kelapa yang berkualitas. Sekarang harga kelapa ditentukan oleh beratnya , nanti supaya berdasarkan kualitasnya. Perlu penelitian juga kelapa di lahan gambut Tanjabar kualitas santannya berbeda dengan kelapa pegunungan.

“Saya minta pemerintah pusat serius dengan pengembangan kelapa dalam, mulai dari hulu berupa bibit unggul sampai dorongan ke hilir. Dengan demikian semua permasalahan kelapa bisa diselesaikan,” katanya.

Sedang hilir yang perlu dimanfaatkan adalah sabut kelapa. Sabut yang sekarang masih jadi sampah bisa jadi emas. Jok kursi dengan bahan baku sabut kelapa diminati di Eropa karena tidak gampang kempes juga penahan panas.

Baca Juga  Harga Sawit Jambi Melonjak Naik

Mawardin M Simpala Ketua Sahabat Kelapa Indonesia menyatakan saat ini kondisi kelapa Indonesia sedang tidak baik-baik saja malah sedang kritis. “Masih banyak tulisan dan pernyataan yang menyatakan Indonesia pemilik kebun kelapa terluas di dunia, juga produsen kelapa terbesar. Padahal saat ini pemilik kebun kelapa terluas di dunia adalah Filipina, sedang produsen kelapa terbesar di dunia adalah India,” katanya.

Kebun kelapa juga sudah tua, 60% usia tanaman sudah diatas 55 tahun dengan pohon yang menjulang tinggi. Produktivitasnya juga rendah hanya 40 butir/pohon bandingkan dengan Srilanka yang mencapai 76 butir/pohon. Di sentra kelapa seperti Indragilir Hilir, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur banyak yang rusak terendam air pasang karena rusaknya tanggul atau terserang hama.

Padahal nilai ekspor kelapa tahun 2017 Rp30 triliun jauh lebih besar daripada kopi yang mencapai Rp19 triliun. “Tetapi yang sekarang sedang gencar adalah kopi.Banyak pameran untuk mendorong ekspor kopi. Sudah saatnya kelapa juga digencarkan sebagai produk ekspor ,” kata Mawardin.

Komposisi kelapa yang paling sedikit adalah tempurung yaitu 16% sedang sabut 30%, daging buah 30% dan air 24%. Tetapi nilai ekspor briket arang dari tempurung ini mencapai Rp5-6 triliun pertahun.

Sedang situasi di hilir adalah setiap tahun ada 3-4 miliar butir segar diekspor ke Thailand, Malaysia dan Hainan, China. Hainan sendiri punya 36.000 ha kelapa dan punya 300 perusaaan pengolah kelapa. Sekitar 1,5 miliar butir kelapa Hainan diperoleh dari Indonesia.

Industri kelapa dalam negeri banyak yang kekurangan bahan baku sehingga menjadi tersendat. “Selama ini ada 2 merek santan kelapa yang mendominasi pasar di Indonesia. Kita tidak sadar bahwa sudah satu tahun ini satu merek sudah tidak ada di pasar. Pabriknya sudah tutup. Di Pontianak dari 14 pabrik minyak kelapa saat ini tidak ada satupun yang beroperasi karena produksi kelapa Kalbar semakin menurun,” katanya.

Baca Juga  Menkeu Pesan Tiga Hal untuk Pelaku Kelapa Sawit

Industri briket menghadapi masalah arang kelapa sebagai bahan baku naik dua kali lipat harganya dibanding tahun lalu. Akibatnya industri karbon aktif yaitu perusahaan menengah besar tersendat sedang industri briket UMKM banyak yang tutup.

(Visited 98 times, 1 visits today)