Jakarta, mediaperkebunan.id – Dalam laporan tentang pasar kopi dunia dan perdagangannya, USDA (United States Departement of Agriculture), Foreign Agricultural Servis, diperkirakan produksi kopi robusta Indonesia tahun 2025/2026 meningkat 1,7 juta bags (1 bag = 60 kg) menjadi 11 juta bags. Produksi meningkat karena iklim mendukung juga masifnya penggunaan tenaga kerja pada saat panen sehingga bisa optimal.
Indonesia adalah produsen kopi robusta nomor 3 di dunia setelah Vietnam dan Brasil. Sejak tahun 2000/2021 produksi kopi robusta dua negara ini meningkat dengan pesat. Produksi kopi arabika Indonesia diperkirakan naik sedikit jadi 1,5 juta bags, menempati posisi ke sepuluh dunia.
Dalam 10 tahun terakhir luas kebun kopi Indonesia tetap 1,2 juta ha. Tidak ada perluasan lahan untuk memenuhi permintaan kopi dunia yang semakin meningkat. Sekitar 75% produksi kopi Indonesia berasal dari Sumatera, yang didominasi kopi robusta di bagian Selatan dan sedikit kopi arabika di bagian Utara.
Sekitar 95% produksi berasal dari pekebun dengan luas rata-rata 1 ha yang tidak tergantung pada pupuk atau input lain untuk meningkatkan produksi. Pekebun biasanya mengandalkan tenaga kerja keluarganya untuk aktivitas perawatan seperti pemangkasan. Sedang panen biasanya pekebun saling Kerjasama dan sepakat melakukan panen bersama atau tenaga kerja direkrut dan diupah lewat kelembagaan petani.
Ekspor green bean Indonesia diperkirakan naik 1,7 juta bags jadi 7,8 juta bags dengan pasar utama Uni Eropa, Amerika Serikat dan Mesir. Uni Eropa adalah pasar kopi robusta, sedang Amerika Serikat pasar kopi arabka. Ekspor Kopi bubuk turun sekitar 100.000 bags jadi 1 juta bags dengan pasar utama Filipina, Malaysia dan Russia.

