Jakarta, mediaperkebunan.id – Produksi gula Indonesia November 2025/2026 adalah 2,3 juta ton, nomor 14 dunia, sedang konsumsi 7,75 juta ton, atau nomor 6 terbesar dunia. Impor gula Indonesia 5,3 juta ton, nomor 2 setelah China. Stok akhir Indonesia 1,6 juta ton, berada di urutan 6. Demikian laporan tentang pasar guladunia dan perdaganganya yang disampaikan oleh, USDA (United States Departement of Agriculture), Foreign Agricultural Service.
Produksi gula global tahun 2025/2026 diperkirakan naik 8,3 juta ton jadi 189,3 juta ton. Tingginya produksi Brazil, India dan Thailand diharapkan dapat menutupi turunnya produksi di EU. Stock akhir diperkirakan akan naik dengan mengacu pada India dan China.
Produksi Amerika Serikat diperkirakan turun jadi 8,5 juta ton. Impor diperkirakan turun karena ditetapkanya kuota impor minimum yang tidak melanggar WTO dan perjanjian pasar bebas, impor hanya dari Meksiko, reekspor dan tingginya tarif impor. Konsumsi juga akan turun, demikian juga stok karena rendahnya impor.
Uni Eropa produksi diperkirakan turun 5% menjadi 15,5 juta ton sebab luas areal sugar beet turun 8% di negar-negara produsen utama yaitu Perancis dan Jerman. Konsumsi dan stok akhir tidak akan berubah, Impor akan naik sedang ekspor turun.
Produksi Thailand diperkirakan naik 2% jadi 10,3 juta ton karena bertambah luasnya areal tebu dan produksinya. Dengan konsumsi yang sama dengan tahun lalu, ekspor diperkirakan rebound jadi 7 juta ton membuat stok akhir kurang dari 10 juta ton.
Produksi India diperkirakan akan naik 26% jadi 15,5 juta ton karena iklim mendukung, perluasan areal dan produksi, rebound dari tahun lalu yang terkena El Nino sehingga produksi turun. Konsumsi diperkirakan naik karena industri pangan olahan tumbuh tinggi, sedang ekspor dan stok naik.
Produksi Australia diperkirakan meningkat 150.000 ton jadi 4 juta ton. Ekspor diperkirakan naik karena konsumsi tetap. Produksi Cina diperkirakan naik 340.000 ton jadi 11,5 juta ton karena luas penanaman tebu meningkat dan iklim mendukung produksi sugar beet. Dengan produksi lebih besar dari konsumsi maka stok gula diperkirakan mendekati 50% atau 2,4 juta ton.
Tahun 2024/2025 produksi global naik mencapai 181 juta ton. Produksi gula Filipina naik 13% jadi 2,1 juta ton karena penggunaan benih tebu varietas unggul yang hasilnya tinggi, Kesehatan tanah lebih baik dan perbaikan irigasi.
Impor global turun jadi 56,2 juta ton , impor China turun 556.000 ton jadi 4,6 juta ton karena pemerintah mengendalikan impor sugar syrup dan premix powder. Impor EU turun 538.000 ton jadi 1,4 juta ton karena produksi tinggi dan rendahnya permintaan.
Ekspor global turun 4,6 juta ton jadi 63,4 juta ton. India lebih rendah 911.000 ton menjadi 2,6 juta ton karena produksi rendah sehingga sempat melarang ekspor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Ekspor Thailand yang semula diharapkan 5,9 juta ton realisasi hanya 4,2 juta ton karena permintaan dari pasar utama tidak seperti yang diharapkan.
Stock global naik 4,1 juta ton jadi 42,4 juta ton. Stok Thailand naik 3,7 juta ton jadi 10,7 juta ton karena ekspor yang lebih rendah. India naik 300.000 ton jadi 6 juta ton karena ekspor turun.

