https://api.whatsapp.com/send?phone=6281361509763
Petrokimia Gresik
24 April, 2021
Bagikan Berita

Jakarta, Mediaperkebunan.id

Usaha tani kakao saat ini masih menjanjikan. Meskipun saat ini harga kakao di Jawa Rp20.000-21.000 kg yang non fermentasi, tetapi masih mampu memenuhi kebutuhan hidup petani. Hasnan Adnan Zein, petani kakao milenial pengurus Asosiasi Petani Kakao Indonesia yang sering ditugakan menjadi pendamping petani kakao di Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur menyatakan hal ini.

Keunggulan kakao adalah berbuah tidak mengenal musim, setiap hari bisa panen. Selain itu mudah tumbuh dimana-mana baik daerah gersang seperti Gunung Kidul, maupun dataran tinggi seperti Temanggung.

Ada satu kelompok tani di Jateng yang setiap bulannya menghasilkan 150 ton biji kakao. Saat ini permintaan kakao sedang tinggi dari pabrikan sehingga tidak sempat fermentasi sudah ada yang menampung.

Kondisi petani kakao di Jawa yaitu Jateng, Jatim dan DIY pada umumnya sudah tua. Tanamannya juga sudah tua karena lama tidak ada peremajaan tetapi dari biji kakao saja sudah mampu memenuhi kebutuhan hidup.

“Meskipun tanaman sudah tua dan tidak terlalu terurus tetapi tetap menghasilkan, apalagi bida mendapat perhatian khusus. Kakao meskipun merupakan komoditas unggulan tetapi belum mendapat perhatian yang memadai dari pemerintah,” katanya.

Petani juga enggan meremajakan kakaonya karena ketidakpastian masa depan. APKAI berperan untuk menggandeng beberapa kementerian membantu petani.

Menghadapi harga yang turun beberapa kelompok tani mengolah biji kakao menjadi cokelat batangan. Saat ini sudah tumbuh sekitar 30 usaha mikro kecil menengah pengolahan cokelat.

“Mimpi besarnya adalah menperkenalkan cokelat Indonesia. Saat ini cokelat yang terkenal adalah dari Belgia dan Swiss yang tidak punya pohon kakao satu batangpun. Indonesia yang punya pohon kakao dan petani kakao juga harus punya produk cokelat,” katanya.

Baca Juga  Dolomit, Kunci Mendongkrak Produktivitas Rawa

Statistik Ditjen Perkebunan angka tetap 2019 menunjukkan luas kakao rakyat di Pulau Jawa mencapai 64.123 ha dengan produksi 27.153 ton. Terbesar di Jatim 40.059 ha dengan produksi 20.588 ton, kemudian Banten 7.792 ha dengan produksi 2.278 ton, Jawa Tengah 6.128 ha dengan produksi 1.725 ton, DIY 5.281 ha dengan produksi 1.792 ha, Jawa Barat 4.846 ha dengan produksi 799 ton. Luas tanaman menghasilkan 38.286 ha terdiri dari Jawa Timur 25.918 ha, Banten 3.594 ha, Jawa Tengan 3.576 ha, DIY 3.143 ha dan Jawa Barat 2.055 ha.

Harga kakao rata-rata fermentasi tahun 2019 adalah Januari Rp25.676/kg, Pebruari Rp24.203, Maret Rp23.655, April Rp24.143, Mei Rp24.814, Juni Rp25.696, Juli Rp26.101, Agustus Rp26.375, September Rp26.465, Oktober Rp27.503, November Rp26.952, Desember Rp26.175. Sedang non fermentas jauari Rp21.543, Pebruari Rp20.611, Maret Rp20.613, April Rp21.529, Mei Rp21.666, Juni Rp22.163, Juli Rp21.998, Agustus Rp21.791, September Rp21.915, Oktober Rp22.193, November Rp21.675, Desember Rp21.670.

(Visited 50 times, 1 visits today)