Kendari, mediaperkebunan.id – Komoditas kelapa sawit dinilai memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Hal ini disampaikan oleh Dr. Dasmin Sidu, SP, MP., dosen Universitas Halu Oleo dalam acara Workshop & Pasar Benih Sawit: Meningkatkan Perekonomian Daerah 3T dengan Kelapa Sawit di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) pada hari Selasa, 5 Mei 2026.
Dalam pemaparannya, Dasmin menegaskan bahwa kehadiran perkebunan kelapa sawit mampu memberikan dampak sosial dan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Salah satu kontribusi utamanya adalah dalam mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran di daerah.
“Sawit hadir berkontribusi mengurangi angka kemiskinan. Dengan usaha budidaya akan membuka lapangan kerja sehingga mengurangi pengangguran dan menekan urbanisasi,” ujarnya.
Menurutnya, fenomena urbanisasi yang tinggi di kota-kota besar, termasuk di Kendari, salah satunya disebabkan oleh keterbatasan lapangan kerja di daerah. Kehadiran industri kelapa sawit di wilayah pedesaan dinilai mampu menjadi solusi dengan membuka peluang kerja yang lebih luas bagi masyarakat lokal. “Dengan kelapa sawit akan terbuka lapangan kerja yang memadai bagi masyarakat di desa, sehingga tidak perlu berbondong-bondong ke kota,” jelas Dasmin.
Tidak hanya membuka lapangan kerja, pengembangan sawit juga berdampak pada peningkatan infrastruktur di daerah. Akses jalan, transportasi, dan konektivitas antarwilayah menjadi lebih baik, sehingga distribusi hasil pertanian dan aktivitas ekonomi lainnya semakin lancar.
Selain itu, peningkatan pendapatan masyarakat turut berdampak pada akses pendidikan dan kesehatan yang lebih baik. “Petani sawit punya kesempatan yang lebih besar untuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi karena adanya peningkatan pendapatan,” kata Dasmin.
Dari sisi sosial, keberadaan perkebunan sawit juga mendorong terbentuknya modal sosial di masyarakat. Kerja sama antarpetani, baik dalam skema plasma maupun kemitraan dengan perusahaan, memperkuat rasa saling percaya dan gotong royong.
Lebih lanjut, Dasmin menekankan bahwa sawit tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga mendorong tumbuhnya berbagai aktivitas ekonomi baru di pedesaan. “Akan tumbuh kegiatan ekonomi di sekitar kelapa sawit, mulai dari transportasi, perdagangan, hingga usaha mikro lainnya,” ungkapnya.
Aktivitas seperti ojek, kios, hingga usaha jasa lainnya berkembang seiring dengan meningkatnya mobilitas dan daya beli masyarakat. Hal ini menjadikan sawit sebagai motor penggerak ekonomi desa yang mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect).
“Dengan tata kelola yang baik, kemitraan yang adil, dan partisipasi yang kuat, perkebunan kelapa sawit dapat menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat,” tambahnya.
Meski memberikan banyak manfaat, Dasmin juga mengingatkan adanya potensi dampak negatif yang perlu diantisipasi. Salah satunya adalah ketimpangan sosial antara petani inti dan plasma yang dapat memicu kecemburuan sosial.
Selain itu, konflik lahan, perubahan struktur sosial budaya, serta ketergantungan pada satu komoditas (monokultur) menjadi tantangan yang perlu dikelola dengan baik. “Ketergantungan terhadap sawit membuat masyarakat rentan terhadap fluktuasi harga dan risiko kehilangan pendapatan,” ujarnya.
Isu lain yang juga perlu diperhatikan adalah degradasi lingkungan, potensi eksploitasi tenaga kerja, serta ketidakpastian hak atas lahan. Untuk memaksimalkan manfaat dan meminimalkan risiko, Dasmin menekankan pentingnya tata kelola yang baik dan kebijakan yang inklusif. Keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap tahapan pengembangan sawit dinilai menjadi kunci utama keberhasilan.
“Diperlukan tata kelola yang baik, kebijakan yang inklusif, dan partisipasi masyarakat untuk memastikan keadilan sosial dalam pengembangan sawit,” pungkasnya.
Dengan pendekatan yang tepat, kelapa sawit tidak hanya menjadi komoditas unggulan, tetapi juga solusi strategis dalam mendorong pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, khususnya di wilayah 3T Indonesia.

