31 August, 2020

Bekasi, Media Perkebunan.id

Kota Bekasi saat ini memiliki kedai kopi sampai 1.300. Meskipun tidak menghasilkan kopi tetapi mampu berinovasi meracik kopi dari berbagai daerah menjadi sajian kopi yang menarik. Contohnya di Gedung Biru Pemkot Bekasi ada kopi Black Bekasi yang punya ciri khas sendiri. Abdilah Hamta, Kepada Dinas Koperasi dan UMKM Kota Bekasi menyatakan hal ini dalam Ngopi Kemerdakaan “Kopi. Gaya Hidup dan UMKM” yang diselenggarakan Media Perkebunan bekerjasama dengan Pemkot Bekasi di Blue Pea Cafe (Minggu , 30 Agustus).

Produk kopi di kafe-kafe kota Bekasi juga tidak kalah dengan daerah lain. Penggiat kopi yang pada umumnya UMKM juga sangat antusias. Kegiatan UMKM kopi Bekasi ini mampu meyajikan ciri khas sendiri. “Kalau Belitung disebut kota 1000 warung kopi maka Bekasi bisa jadi kota 1001 warung kopi,” katanya.

Pada kesempatan itu juga ditampilkan 3 contoh inovasi kopi UMKM Bekasi. Kopi raga menampilkan mocktail coffee yaitu kopi cold brew selama 8-12 jam ditambah dengan sirup dan ekstrak buah lainnya.

Kopi lainnya adalah kopi rempah A Latif. Kopi ini merupakan resep warisan leluhur, bangsa Indonesia sudah sejak jaman dulu minum kopi dicampur rempah. Kopi yang dicampur jahe, adas, kunyit, cengkeh dan cabe jawa ini cocok dikonsumsi pada masa pandemi karena meningkatkan imunitas tubuh.

Kopi lain yang akan dijadikan unggulan Kota Bekasi adalah kopi bunga telang. Bunga telang banyak tumbuh di pagar rumah. Bunga telang merupakan pewarna alami yang tidak mempengaruhi rasa kopi.

Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar Ditjen Perkebunan, Heru Tri Widarto menyatakan ada pergeseran pasar kopi yang tadinya untuk ekspor sekarang mulai bergeser ke dalam negeri. Kopi sudah menjadi gaya hidup.

“Sekarang pada kalangan milenial mereka punya istilah kopi itu digiling bukan digunting, jadi ada pergeseran dari semula kopi sachet ke kopi roasted. Mereka sampai bawa gilingan lengkap dengan peralatan minum kopinya ke mana-mana,” katanya.

Fenomena ini sangat menggembirakan sebab yang ideal memang orang datang ke sini, merasakan kopi setempat. Devisa menjadi lebih banyak karena mereka menginap di hotel, berkunjung ke kebun dan lain-lain.

Beberapa jenis kopi juga lebih bagus dipasarkan di dalam negeri karena harganya lebih mahal sedang kalau ekpor justru harganya lebih murah. “Saya pernah menangani desa organik kopi di Bandung dengan kopi Gunung Halu Preanger. Di pasarkan di dalam negeri grade satu harganya Rp350.000 kg/kg sedang green bean Rp120.000/kg. Tetapi ketika coba ekspor ke Austrlia mereka hanya sanggup beli dengan Rp70.000/kg,” katanya.

Sesuai tupoksinya maka bantuan Ditjenbun adalah lebih ke hulu yaitu bantuan benih kopi unggul bersertifikat dan sarana produksi pada kelompok tani kopi baik dalam program peremajaan dan perluasan. Program lainnya adalah membuat desa kopi organik untuk lebih menyesuaikan kecederungan masa kini.Kalau kafe di Kota Bekasi berminat maka bisa mencari k0pi organik binaan Ditjenbun di Majalengka, Bandung dan Garut.

(Visited 54 times, 1 visits today)