Bandung, Mediaperkebunan.id– Indonesia, negeri agraris yang kaya akan sumber daya alam, justru menghadapi ironi— kita memiliki jutaan hektare lahan, namun ketahanan pangan kita masih rapuh. Demikian pembukaan paparan keilmuan jabatan Guru Besar Ekofisologi Tanaman Perkebunan Penghasil Getah dan Minyak, Fakultas Pertanian UNPAD, Cucu Suherman Victor Zar.
Data menunjukkan bahwa lahan pertanian kita terus mengalami penyusutan akibat alih fungsi menjadi permukiman dan industri. Sementara itu, lahan perkebunan terus berkembang, kini mencapai lebih dari 27 juta hektar. Sebagian besar lahan perkebunan tersebut ditanami kelapa sawit (16,38 juta ha).
Namun, sebagian besar lahan tersebut dimanfaatkan secara monokultur, kurang produktif untuk mendukung ketahanan pangan.. Praktik ini umum dilakukan dalam pertanian, namun biasanya menyebabkan kerugian secara ekonomi akibat adanya degradasi tanah yang nutrisinya terkuras, penurunan bahan organik, erosi yang signifikan, alhasil terjadi penurunan hasil dan kualitas tanaman, serta peningkatan serangan hama dan penyakit.
Pada umumnya, jarak tanam pada tanaman perkebunan antar barisan dan antar tanaman berjauhan, misalnya pada perkebunan sawit, mencapai 9 x 9 m, sehingga pada tahun-tahun awal atau ketika fase Tanaman Belum Menghasilkan (0—3 tahun), terdapat ruang terbuka yang harus dikelola dengan baik. Ruang terbuka bila dibiarkan, berpotensi ditumbuhi gulma dan dapat menurunkan produksi tandan buah segar antara 20—80%.
Salah satu solusi strategis yang layak diterapkan untuk optimasi lahan terbuka, pada perkebunan adalah pola tumpangsari, yakni menanam tanaman pangan di antara tanaman perkebunan. Pola tumpangsari dapat menjadi strategi integratif untuk mendukung keberlanjutan dan stabilitas pangan.
Beberapa tanaman pangan yang dapat dijadikan tanaman sela pada tanaman perkebunan adalah : Padi, jagung, kacang tanah, atau kedelai, cabai yang dijadikan tanaman sela dari pertanaman kelapa sawit usia TBM. 2. Umbi-umbian dan sayuran ditanam di bawah karet atau kakao.
“Riset terkait pola tumpangsari telah saya kaji pada tanaman kelapa sawit dan tanaman pangan, dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas lahan dan meningkatkan ketahanan pangan. Beberapa pola tumpang sari pada perkebunan kelapa sawit yang telah saya dan tim lakukan adalah dengan tanaman padi, jagung, dan kedelai. Ketiga tanaman pangan tersebut merupakan 3 komoditas strategit terpenting penyedia pangan di Indonesia,” kata Cucu.
Berdasarkan hasl-hasil penelitin tersebut, diperoleh bahwa dengan dilakukannya tumpang sari pada pertanaman kelapa sawit, tidak mempengaruhi tinggi dan stabilnya produktivitas kelapa sawit per hektar. Pemanfaatan lahan menjadi optimal dengan ditanamnya tanaman pangan di sela tanaman kelapa sawit. Praktik ini terbukti meningkatkan produktivitas lahan, yang tidak hanya menghasilkan tanaman utama berupa sawit, tetapi juga tanaman pangan sebagai nilai tambah dalam pemenuhan kebutuhan pangan.
Dengan melakukan tumpang sari tanaman pangan pada tanaman kelapa sawit, di luasan lahan yang sama produktivitas lahan meningkat, karena tidak hanya diperoleh hasil panen dari kelapa sawit tetapi juga palawija. Efisiensi input juga lebih baik dibandingkan kedua tanaman ditanam secara monokultur.
Penerapan sistem tumpangsari turut menciptakan agroekosistem yang lebih seimbang dengan menekan kemunculan gulma, hama, dan penyakit yang dapat menurunkan produktivitas serta hasil tanaman kelapa sawit. Selain itu, hasil panen dari tanaman pangan yang ditanam pada lahan yang sama turut berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.
Untuk mengakomodir besarnya potensi tumpangsari dalam optimasi lahan perkebunan dalam menunjang ketahanan pangan nasional dibutuhkan kebijakan yang: Mendorong integrasi tumpangsari dalam RPJMN dan program Kementan; Memberikan insentif bagi petani dan korporasi yang melaksanakannya.; Meningkatkan pendampingan penyuluh dan riset adaptif.
“Ketahanan pangan tidak cukup mengandalkan sawah. Kita butuh transformasi ruang, dari monokultur ke agrodiversitas. Pola tumpangsari terbukti mampu mengoptimalkan lahan perkebunan secara produktif dan berkelanjutan. Sistem ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi petani, tetapi juga berkontribusi besar terhadap stabilitas dan ketahanan pangan nasional,” kata Cucu menutup paparannya.

