Palembang, mediaperkebunan.id – Co-Founder AI+, Syarifarudin Afa, menegaskan bahwa penerapan Artificial Intelligence (AI) dan automation di sektor industri, termasuk perkebunan dan pabrik kelapa sawit, bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan sebuah kebutuhan strategis untuk memastikan efisiensi operasional, pengendalian biaya, serta ketepatan pengambilan keputusan. Hal tersebut disampaikan dalam paparannya pada Pertemuan Teknis Kebun dan Pabrik Kelapa Sawit bertajuk “Kiat Sukses Meningkatkan Produktivitas Sawit” yang diselenggarakan oleh Indonesian Planters Society (IPS).
Menurut Syarifarudin, pemahaman terhadap AI sering kali masih keliru. AI kerap dipersepsikan sebagai teknologi yang “terlihat canggih dan kompleks”, padahal pada dasarnya AI bekerja layaknya sebuah program yang membutuhkan database, rumus, dan logika yang terstruktur untuk menghasilkan output yang diinginkan.
“AI tidak akan bekerja tanpa data. Sama seperti automation, AI membutuhkan input yang jelas dan berkualitas agar hasilnya akurat dan bisa diandalkan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa riset dan pengembangan (R&D) menjadi kunci utama agar perusahaan tidak tertinggal dalam menghadapi percepatan teknologi. Tanpa investasi yang serius pada R&D, organisasi akan kesulitan melakukan upgrade sistem dan kapabilitas sumber daya manusia.
“Teknologi berkembang sangat cepat. Kalau kita tidak menyiapkan diri melalui R&D, kita akan tertinggal, bukan hanya dari sisi teknologi, tetapi juga dari sisi daya saing,” tegasnya.
Dalam pemaparannya, Syarifarudin menjelaskan konsep piramida automation yang menjadi fondasi penerapan AI dan sistem digital secara menyeluruh. Pada level paling bawah terdapat sensor yang berfungsi sebagai titik awal pengumpulan data. Di lingkungan pabrik, sensor dapat berupa pengukuran suhu (multi-point temperature), tekanan, aliran, dan parameter operasional lainnya.
Level berikutnya adalah control level, di mana sistem seperti PID controller pada boiler bekerja untuk menjaga kestabilan proses. Di atasnya terdapat supervisory level yang umumnya menggunakan sistem SCADA untuk pemantauan dan pengendalian proses secara terpusat. Selanjutnya adalah planning level, tempat data digunakan untuk perencanaan produksi dan operasional. Pada puncaknya terdapat management level, di mana seluruh data operasional dikonsolidasikan untuk mendukung pengambilan keputusan strategis.
“Semua data dari level paling bawah akan mengalir ke atas. Ketika sistem sudah berjalan dengan baik, data tersebut dikirim ke ERP dan memungkinkan terjadinya centralized monitoring. Inilah yang menjadi dasar bagi manajemen untuk melihat kondisi operasional secara utuh dan real-time,” jelas Syarifarudin.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu bukan tujuan akhir. AI bekerja berdasarkan data historis dan data aktual yang dikumpulkan oleh sistem automation. Tanpa data yang konsisten dan terkontrol, AI tidak akan mampu memberikan rekomendasi yang tepat.
“AI hanyalah program yang menjalankan logika sesuai dengan apa yang kita input. Jika database dan formulanya benar, maka output-nya akan sesuai dengan yang kita harapkan,” ujarnya.
Syarifarudin menjelaskan bahwa peran utama automation adalah mengirimkan data yang valid dan real-time ke sistem ERP, sementara ERP bertugas mengolah data tersebut menjadi informasi yang bernilai bagi bisnis. Ketika seluruh data terkontrol dengan baik, perusahaan dapat mengidentifikasi sumber masalah secara lebih jelas, baik di kebun maupun di pabrik.
“Tujuan akhirnya adalah menghasilkan output yang maksimal dengan biaya yang minimum. Untuk mencapai itu, kontrol terhadap data dan proses tidak bisa dihindari,” tegasnya. Dengan sistem yang terintegrasi, manajemen tidak lagi mengambil keputusan berdasarkan asumsi melainkan berdasarkan data yang akurat dan terverifikasi.
Menutup paparannya, Syarifarudin Afa menegaskan bahwa transformasi digital yang sukses harus dimulai dari data yang berkualitas, sistem automation yang terintegrasi, serta pemanfaatan AI secara tepat guna.
“AI, automation, dan ERP adalah satu ekosistem. Ketika ketiganya berjalan selaras, perusahaan akan memiliki visibilitas penuh terhadap operasionalnya dan mampu mengambil keputusan yang lebih cepat, tepat, dan efisien,” pungkasnya.

