Bandung, mediaperkebunan.id – Dalam sesi pemaparan hari ketiga 3rd Technologi and Talent Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) 2025, Kurniawan Siregar, ST. MM dari PT Kencana Agri sekaligus praktisi P3PI, memaparkan pentingnya penerapan Total Preventive Maintenance (TPM) di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) untuk meningkatkan efisiensi operasional dan menjaga keberlanjutan industri.
“Fungsi TPM adalah menjaga mesin tetap dalam kondisi stabil agar performanya tidak menurun, sehingga dampak seperti penurunan yield, peningkatan biaya, dan gangguan terhadap aspek safety, environment, dan health bisa diminimalkan,” ujar Kurniawan dalam presentasinya yang mengusung tema Total Preventive Maintenance (TPM) untuk Efisiensi PKS.
TPM merupakan sistem perawatan menyeluruh yang melibatkan partisipasi semua pihak, dari operator hingga manajemen puncak. Pendekatan ini dirancang untuk menghindari terjadinya empat kerugian besar: Accident, Breakdown, Crisis, dan Defect, atau yang dikenal dengan sasaran “Zero ABCD”.
“Dasar TPM adalah partisipasi semua. Total berarti semua terlibat, bukan hanya teknisi maintenance saja,” tegas Kurniawan.
Berbeda dari sistem breakdown maintenance (“just let it break”) atau preventive maintenance konvensional, TPM menggabungkan pendekatan pencegahan, prediktif, dan perbaikan berkelanjutan.
TPM terdiri dari empat pilar utama:
- Operator Maintenance (OM) – Pembersihan adalah inspeksi. Operator bertanggung jawab untuk cleaning, checking, hingga small repair. “Cleaning is inspection, dari kebersihan kita bisa tahu kondisi mesin,” jelas Kurniawan.
- Monitoring Maintenance (MM) – Pemantauan kondisi mesin secara berkala berdasarkan parameter tertentu, untuk deteksi dini masalah dan perencanaan perbaikan.
- Corrective Maintenance (CM) – Perbaikan berdasarkan temuan OM dan MM. Termasuk analisis Economic Order Quantity (EOQ) dan evaluasi Overall Equipment Effectiveness (OEE).
- Improvement Maintenance (IM) – Peningkatan dan modifikasi berkelanjutan (kaizen) guna meningkatkan keandalan dan efisiensi mesin.
Efektivitas TPM Dibuktikan Lewat Perhitungan OEE
Dalam presentasinya, Kurniawan menunjukkan contoh perhitungan Overall Equipment Effectiveness (OEE) yang digunakan sebagai indikator efektivitas mesin. Dari data yang ditampilkan, sebuah pabrik dengan jam olah 250 jam, breakdown selama 5 jam, dan kapasitas olah 14.000 ton TBS per bulan, berhasil mencapai OEE sebesar 88,27%, angka yang menunjukkan performa sangat baik dalam industri kelapa sawit.
“Kita ingin agar breakdown turun, performa meningkat, dan kualitas terjaga. Di sinilah TPM menjadi kunci,” tambah Kurniawan.
Menurutnya, TPM dibangun di atas budaya kerja 5S Jepang: Seiri (Ringkas), Setton (Rapi), Seiso (Resik), Seiketsu (Rawat), dan Shitsuke (Rajin). Penerapan 5S membantu menciptakan lingkungan kerja yang bersih, aman, dan teratur yang merupakan faktor penting dalam menekan Six Big Losses dalam operasional pabrik.

