Jakarta, mediaperkebunan.id – Di beberapa daerah saat ini nilai fruit set relatif rendah (<30%). Kondisi ini membuat produktivitas sawit menurun. Beberapa penelitian sudah dilakukan untuk mengatasinya. Penentu fruit set adalah bahan tanaman varietas sex ratio tinggi, iklim, agen polinator (populasi, variasi morfologi, agresivitas, variasi genetik) dan kultur teknis. Cahyo Sri Wibowo, Wakil Ketua PIPPSI (Perhimpunan Ilmu Pemuliaan dan Pembenihan Sawit Indonesia) menyatakan hal ini.
Assisted pollination merupakan solusi jangka pendek untuk meningkatkan fruit set di Indonesia. Solusi lainnya adalah over pruning, hatchery, hatch and carry technique, atractan dan lain-lain. Perlu solusi jangka panjang untuk menjamin penyerbukan berjalan secara alami seperti 25 tahun pasca introduksi E kamerunicus yang kinerjanya semakin menurun.
E kamerunicus di introduksi ke Indonesia tahun 1983 dengan populasi 508, lebih dari 40 tahun sekarang sudah >1000 generasi dan tetap menjadi andalan meskipun kinerjanya dinilai semakin menurun. Kumbang E kamerunicus datang ke bunga jantan dan betina karena adanya bau kairomon sehingga dengan tidak sengaja dapat memindahkan polen dari bunga jantan ke bunga betina. Serangga ini dapat berkembang biak pada bunga jantan Elaeis guinensis.
Dr Fizrul Indra Lubis, SP, MP Head of Resereach Sulung Reserach Station, PT Sawit Sumber Mas Tbk d menyatakan selama ini fruit set selalu dihubungkan dengan populasi serangga penyerbuk Elaeidobius kamerunicus dan jumlah bunga jantan. Tetapi di beberapa lokasi meskipun populasi E.kamerunicus dan bunga jantan cukup, tetapi pembentukan fruit set tetap rendah. Karena itu ada faktor lain yang berpengaruh.
Faktor penentu lainnya adalah keberadaan senyata volatile yang dihasilkan bunga jantan dan bunga betina sawit. Selain populasi, ketertarikan E kamerunicus terhadap senyawa volatile ini sangat menentukan.
Kepala Departemen Proteksi Tanaman SMART Research Institute, Mohammad Naim menyatakan penyerbuk utama ini sawit ini sedang berada di ambang krisis, di tengah kekhawatiran global mengenai perubahan iklim memperingatkan tentang dampak signifikan gelombang panas terhadap efektivitas kumbang ini dalam penyerbukan. Dengan adanya tantangan ini, siklus hidup dari kumbang penyerbuk pun akan sangat sulit untuk bertahan. Penelitian menunjukkan bahwa suhu ekstrem dan gelombang panas yang semakin sering terjadi dapat mengganggu kemampuan penyerbukan kumbang.
Indra Syahputra, Kepala Riset PT Socfindo menyatakan Jumlah janjang yang banyak pada kelapa sawit berproduksi tinggi secara tidak langsung meniadakan bunga jantan yang dibutuhkan untuk terjadinya penyerbukan. Terjadi ketidakseimbangan antara populasi kumbang penyerbuk dengan jumlah bunga betina yang akan diserbuk. Dalam kondisi tertentu produksi hasil yang tinggi tidak optimal sesuai potensinya karena rendahnya pembentukan buah.
Kondisi tertentu itu adalah kepadatan tanaman yang tinggi, pengendalian kimia yang berlebihan, serangan tikus, terlambat tunasan (pruning), penanaman/peremajaan dalam skala luas, daerah rendahan/tertutup, tanaman/lingkungan sekelilingnya, faktor iklim (curah hujan, suhu ekstrim). Usaha yang pernah dilakukan adalah penyerbukan bantuan (aspol), hive system, pokok polinator/pruning, hatch and carry static, estragole (feromon), NAA, hatch and carry mobile dan super male.
Hatch and carry dengan penangkaran Elaeidobius terpusat, dilakukan disatu tempat tiap kebun atau unit lebih kecil (divisi). Penangkaran bertujuan untuk mempermudah pengendalian proses perkembangbiakan kumbang dalam rangka memaksimalkan hasil penetasan. Masalah low fruit set dan peningkatan populasi E kamerunicus menjadi salah satu bahasan dalam TKS Sampit yang diselenggarakan Media Perkebunan dan GAPKI Kalteng.

