Pangkalan Bun, mediaperkebunan.id – Upaya meningkatkan produktivitas kelapa sawit nasional tidak bisa lagi hanya bergantung pada perluasan lahan, Agronomy Division Head PT. Union Sampoerna Triputra Persada dan Praktisi P3PI, Marlon Sitanggang, S.P., M.Si., dalam pemaparan materinya di acara Teknis Kelapa Sawit (TKS) 2026 Pangkalan Bun menegaskan bahwa kunci utama justru terletak pada intensifikasi produksi dan keberhasilan program replanting yang dilakukan secara tepat.
Menurutnya, produktivitas sawit Indonesia saat ini masih berada pada kisaran rata-rata 18 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun. Padahal, dengan pengelolaan yang optimal, angka tersebut sangat mungkin ditingkatkan hingga 30 ton per hektare bahkan lebih.
“Secara nasional yield kita masih sekitar 18 ton per hektare per tahun, padahal dengan manajemen yang baik kita bisa mencapai 30 ton bahkan potensi di lapangan bisa 32 sampai 40 ton,” ujar Marlon Sitanggang di acara TKS 2026 pada hari Rabu (29/04/2026).
Ia menjelaskan bahwa kesenjangan hasil (yield gap) masih menjadi tantangan utama. Dengan luas areal sawit sekitar 13,8 juta hektare, Indonesia saat ini menghasilkan sekitar 296 juta ton TBS. Namun, jika potensi produksi dapat dioptimalkan, angka tersebut bisa meningkat hingga lebih dari 400 juta ton.
“Dengan luas yang sama sebenarnya kita bisa menghasilkan hingga 414 juta ton TBS atau meningkat sekitar 40 persen,” jelas Marlon.
Marlon mengungkapkan bahwa rendahnya produktivitas sawit nasional disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari penggunaan bibit tidak berkualitas, kesalahan pola tanam, hingga praktik budidaya yang belum optimal.
“Banyak kebun masih menggunakan benih yang tidak jelas asal-usulnya, jarak tanam tidak sesuai, dan persiapan lahan yang kurang tepat. Kesalahan ini hanya bisa diperbaiki saat replanting,” kata Marlon.
Selain itu, faktor lingkungan seperti kekeringan juga turut memengaruhi, mengingat sebagian besar kebun sawit di Indonesia masih bergantung pada curah hujan (tadah hujan).
Marlon Sitanggang Ungkap Tahapan Replanting yang Tepat di TKS 2026
Dalam materi yang disampaikan pada acara TKS 2026, Marlon Sitanggang menekankan pentingnya mengikuti tahapan replanting secara disiplin. Proses dimulai dari penentuan blok, penumbangan pohon, penggalian lubang bonggol, hingga penanaman kembali.
Ia mengingatkan agar proses chipping (pencacahan batang) tidak dilakukan secara sembarangan, karena berpotensi memperparah penyebaran penyakit Ganoderma. “Jangan sampai hasil chipping menutup lubang galian karena itu bisa menjadi tempat berkembangnya inokulum Ganoderma tanpa kita sadari,” jelas Marlon.
Lubang tanam juga menjadi faktor krusial yang sering diabaikan. Ia menyarankan ukuran lubang yang sesuai standar dan harus diverifikasi sebelum penanaman dilakukan. “Kesalahan tanam banyak terjadi karena lubang tanam yang tidak sesuai. Kalau lubangnya benar, penanaman biasanya juga benar,” ujar Marlon.
Membuat lubang tanam yang benar menggunakan hole digger ukuran 50 x 60, verifikasi sebelum tanam, titik tanam di antara pokok sebelumnya.
Penanaman:
- tanam pada musim hujan
- RP 250 gr dan tricoderma 100 gr di dasar lubang tanam kemudian padatkan
- Berikutnya RP 250 gr dan tricoderma 100 gr di dasar lubang tanam dan padatkan
- NPK 15 15 6 : 200 gram sekitar tanaman. Standar kita harus menutup 80 persen dengan kacangan. Kalau belum menutup itu kesia-siaan nanti.
Peran Tanaman Penutup dan Pola Tanam
Penggunaan tanaman penutup tanah seperti Mucuna juga menjadi bagian penting dalam proses replanting. Tanaman ini berfungsi menekan erosi, menjaga kelembapan tanah, serta mengurangi populasi hama.
“Standar kita minimal 80 persen areal harus tertutup kacangan, kalau tidak itu menjadi sia-sia,” tegas Marlon.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pola tanam zig-zag atau selang-seling antar blok untuk menjaga populasi serangga penyerbuk alami seperti Elaeidobius kamerunicus. “Areal-areal rendahan yang nanti akan menjadi tempat losses, buat saja jadi tempat air, jangan dipaksakan tanam disitu. air disitu akan mengkompensasi produksi di areal sekitarnya,” jelasnya.
Blok replanting harus zig-zag/selang-seling karena:
- menjaga ketersediaan populasi elaeidobius kamerunicus yang sangat bergantung pada ketersediaan bunga jantan. sehingga kontinuitas bunga antar blok dan minimnya gangguan (misalnya insektisida) menjadi kunci mempertahankan populasinya.
- Terbukti BJR lebih berat
- selisih 24 bulan
Kemudan lakukan pengaplikasian atraktan yang teruji dan terbukti untuk menarik elaeidobius kamerunicus dari tanaman tua ke tanaman replanting.
Strategi Preventif Ganoderma
Salah satu fokus utama dalam replanting adalah pengendalian penyakit Ganoderma yang menjadi ancaman serius bagi produktivitas sawit. Marlon menekankan bahwa pendekatan preventif jauh lebih efektif dibandingkan pengobatan. “Sensus Ganoderma harus dilakukan minimal dua kali setahun sebelum replanting untuk mengetahui sebaran dan tingkat risikonya,” jelas Marlon.
“Hasil nyata penerapan di tempat kami dari tahun 2019-2023 usia 8-13 tahun hasilnya menurun tingkat serangan. Tapi sayang di atas usia 13 tahun belum berhasil, sehingga dilakukan kutip semua fruiting body dan lakukan isolasi, campur trichoderma,” jelasnya lagi.
Lebih lanjut, Marlon menjelaskan pada tahun 2018 timnya melakukan sensus kemudian dilakukan replanting ini adalah tahun tanam replanting kami mulai Feb 2019 pertama sekali replanting seluas 318 hektar, pada 2020 seluas 352 hektar, total sampai 2021 seluas 1300 hektar ditemukan total 24 pokok sebelum replanting. “Tetapi setelah melakukan replanting dengan perlakuan-perlakuan sebelumnya kemudian disensus setelah tanam sampai saat ini nihil, bahkan kita sudah petakan titik-titik pokok yang kena ganoderma hasilnya pada sensus 2019 semester 2 titik pokok-pokok ganoderma dan dilakukan sensus pada titik yang sama setelah replanting syukurlah tidak ada lagi ganoderma satupun dari 169.412 pokok,” jelas Marlon.
Kemudian, Marlon menjelaskan bahwa sebelum melakukkna replanting ia juga melakukan risk assesmen dengan membuat lubang-lubang kecil, satu lubang per hektar dengan ukuran 0,7 m x 0,7 m x 1 m dan jarak pokok dengan lubang risk assessment adalah sektiar 1,5 m kemudian diamati apa yang muncul “Di ujung akar di pinggir-pinggir lubang tadi muncul fruiting body ganoderma: indikasi bahwa areal tanah kita sudah mengandung inokulum ganoderma yang tidak bisa dihindari, berarti harus diatasi,” jelasnya.
“Kami sudah memiliki 51 isolat Trichoderma spesifik yang dikembangkan dari areal sendiri untuk pengendalian Ganoderma. Kami sudah menemukan satu specifik trichoderma yang bersifat endofin, bisa berkolaborasi dengan akar tanaman dan masuk ke dalam jaringan tanaman, penting untuk ke depan.” kata Marlon.
Tantangan berikutnya dari areal replanting yang ktia tanam kita menemnukan kekurangan hara tembaga (Cu). “Kita analisa mill by product ternyata di tankos itu ada 6,69, di abu boiler ara 0,01, di solid ada 0,01, dan di POME ada 3,03. Ternyata selama 20-25 tahun tanaman terus mengambil Cu dari tanah tetapi kita tidak pernah berikan sehingga saat replanting kekurangan Cu,” jelasnya.
Lebih lanjut Marlon menjelaskan ada juga tanaman yang kekurangan nitrogen. “Karena bakteri pengurai berebut untuk mendapatkan nitrogen di dalam proses perkembangannya. Banyak serasah-sarasah hasil pelapukan batang, pelepah, dan sebagainya perlu dilapukkan oleh bakteri yang energinya adalah nitrogen shingga tanaman dengan bakteri berebut nitrogen. Untuk itu perlu diaplikasi pupuk urea 150 gr setelah satu bulan,” kata Marlon.
Mengenai Ablasi . Marlon mengatakan bahwa membuang bunga jantan dan betina jangan berdasarkan umur tetapi berdasarkan jika 60 persen dari populasi tanaman sudah mengeluarkan bunga lakukan ablasi.
Hasil implementasi replanting yang dilakukan secara sistematis menunjukkan peningkatan produksi yang signifikan. Data produksi menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun, baik dari sisi berat janjang (BJR), jumlah janjang, hingga yield per hektare.

Melalui penerapan praktik terbaik ini, potensi besar sawit Indonesia untuk menjadi produsen dengan produktivitas tertinggi di dunia bukan lagi sekadar wacana, melainkan target yang realistis untuk dicapai.

