Jakarta, mediaperkebunan.id – Menteri Dalam Negeri RI, Muhammad Tito Karnavian menegaskan pentingnya percepatan hilirisasi komoditas perkebunan sebagai strategi utama Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap. Hal itu ia sampaikan dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pelaksanaan Program Hilirisasi Komoditas Prioritas Perkebunan di Kementerian Pertanian, Jakarta.
Menurut Tito, Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya alam dan pasar domestik yang luas. “Kita sebenarnya cukup dengan air yang merupakan bahan penting bagi pertanian dan perkebunan. Kita juga dianugerahi gunung. Kenikmatan dan privilege yang diberikan Tuhan kepada Indonesia ini modal penting untuk mengembangkan industri di bidang pertanian dan perkebunan,” kata Tito Karnavian.
Tito menilai industrialisasi tidak melulu soal pabrik otomotif atau elektronik. Ia mencontohkan Selandia Baru yang berhasil membangun kekuatan ekonominya berbasis industri pertanian. Dalam paparannya, Tito menyoroti pandangan umum bahwa industrialisasi identik dengan pembangunan pabrik otomotif, elektronik, dan manufaktur berat lainnya. Ia menilai pengertian tersebut perlu diperluas.
“Untuk keluar dari middle income trap harus lakukan industrialisasi dan itu biasanya identik dengan pabrik pembuatan motor, pembuatan elektronik, dan sebagainya. Mengenai hal tersebut tentunya saya setuju. Namun, saya tidak setuju karena saya melihat New Zealand itu negara yang tidak melakukan industrialisasi kayak mobil dan elektronik tapi berbasis industri pertanian,” jelasnya.
Tito memaparkan dua modal besar yang dimiliki Indonesia untuk mendukung industrialisasi berbasis pertanian dan perkebunan. Pertama adalah kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan dapat dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan industri. Kedua, pasar domestik yang besar dengan daya beli yang terus meningkat.
“Potensi kita untuk bisa keluar dari middle income trap sangat besar. Yang pertama kita memiliki sumber daya alam yang sangat besar yang bisa kita pakai untuk memacu industrialisasi. Yang kedua kita memiliki sebuah pasar besar, baik dari sisi jumlah penduduk maupun daya belinya karena masyarakat yang berpendapatan menengah sekarang ini naik sangat drastis sekali di negara kita Indonesia,” ungkap Tito Karnavian.
Tito menyebut hilirisasi sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan ketahanan pangan dan swasembada sebagai prioritas nasional. Pemerintah pun menyiapkan anggaran besar untuk sektor pangan.
“Strategi Bapak Presiden nomor satu itu swasembada pangan dan ketahanan pangan karena kita perlu dan kita mampu. Visi ini tidak main-main termasuk pembiayaan anggaran 317 triliun yang merupakan bagian besar dari rencana anggaran,” tegasnya.
Dalam rapat koordinasi ini, Tito juga mengingatkan pentingnya sinergi antara pusat dan daerah. Menurutnya, keberhasilan hilirisasi tidak hanya ditentukan kebijakan pemerintah pusat tapi juga komitmen kepala daerah.
“Apakah pemerintah daerahnya punya pemikiran yang sama? Kalau ini terjadi, selain bisa isi perut kita sendiri, kita juga bisa menjadi eksportir dan pemain dominan serta keluar dari middle income trap. Saya harapkan gubernur, bupati, dan wali kota punya pemikiran yang sama dengan Presiden,” ujarnya.

