Medan, mediaperkebunan.id – Sebanyak 56 peserta yang terdiri dari pekebun, Aparatur Sipil Negara (ASN), dan penyuluh dari Kabupaten Batubara dan Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara, baru saja menyelesaikan Pelatihan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang inovatif. Program ini, yang merupakan bagian integral dari Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDM-PKS) Tahun 2025, berhasil terselenggara berkat kolaborasi dan dukungan penuh dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Kementerian Pertanian RI.
Berlangsung intensif sejak 14 Juli hingga 20 Juli di Hotel AIHO Medan, pelatihan ini didesain khusus untuk membekali para peserta dengan pengetahuan mendalam demi mendukung percepatan sertifikasi ISPO di wilayah mereka.
Pelatihan ini menawarkan kurikulum yang sangat komprehensif, bertujuan membekali peserta dengan pemahaman menyeluruh tentang berbagai aspek krusial dalam implementasi ISPO. Para peserta mendalami beragam materi penting, mulai dari memahami kebijakan, prinsip, dan kriteria ISPO, legalitas lahan dan kebun, manajemen kebun yang efektif, pengelolaan dan pemantauan lingkungan, hingga strategi peningkatan usaha secara berkelanjutan. Tidak hanya itu, mereka juga mempelajari prosedur detail untuk memperoleh sertifikasi ISPO bagi pekebun, serta menganalisis peluang dan tantangan yang menyertai implementasi ISPO di lapangan.
Sesi pelatihan juga secara khusus membahas langkah-langkah praktis bagi pekebun untuk mendapatkan sertifikasi ISPO, memastikan praktik perkebunan kelapa sawit mereka berkelanjutan. Para peserta mendapatkan pembaruan tentang kebijakan terbaru terkait ISPO, serta mendiskusikan peluang dan tantangan yang dihadapi para pekebun dalam mengimplementasikan standar keberlanjutan ini.
Puncak dari program pelatihan ini adalah kunjungan lapangan (field trip) yang diadakan pada Jumat, 18 Juli 2025. Para peserta berkesempatan mengunjungi Perkebunan Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Bintang Simalungun (PPKSBBS) di Tanah Jawa, Simalungun. Di lokasi ini, mereka secara langsung mengamati penerapan materi pelatihan di lapangan, terlibat dalam diskusi interaktif dengan pengelola perkebunan, dan merangkum poin-poin pembelajaran kunci. Aktivitas yang dilakukan meliputi kunjungan ke lahan pekebun yang menerapkan Good Agricultural Practices (GAP), peninjauan gudang Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (LB3), area sempadan sungai, serta pemeriksaan dokumen terkait.
Dengan kombinasi materi yang terstruktur apik, metode pengajaran yang menarik dan interaktif, serta pengalaman praktik langsung yang mendalam di lapangan, pelatihan ini secara efektif membekali para pekebun dengan pengetahuan dan keterampilan praktis yang memadai. Harapannya, bekal ini akan memberdayakan mereka untuk sukses mendapatkan sertifikasi ISPO dan menghadapi berbagai tantangan masa depan di sektor perkebunan kelapa sawit dengan lebih percaya diri.

