Jakarta, mediaperkebunan.id– Tim Pelepasan Varietas Tanaman Ditjen Perkebunan pada Sidang Pelepasan Varietas Tanaman tanggal 16 Juni 2025 setuju melepaskan dua varietas baru tebu. Varietas itu adalah JSR 13-2161 yang diusulkan PT Sinergi Gula Nusantara (KSO Kebun Dhoho) menjadi SGN 01 dan Joyo Rosan 16 yang merupakan varietas unggul lokal diusulkan oleh Kelompok Tani Sri Lestari,Pemkab Kediri bekerjasama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional dan Balai Besar Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Perkebunan Surabaya menjadi Panjalu 1.
Menurut Ebi Rulianti, Direktur Perbenihan Perkebunan/Ketua TPV Tanaman Perkebunan un tuk mencapai swasembada gula yang ditargetkan tahun 2027 diperlukan banyak ketersediaan benih unggul. Petani selama ini banyak meminta Bula Lawang , karena digunakan secara terus menerus di lahan yang sama maka sudah banyak yang terserang luka api. Popularitasnya mulai berkurang.
Karena itu perlu varietas – varietas unggul lain. Sudah ada 117 varietas unggul tebu yang dilepas oleh Kementan tetapi adopsinya ditingkat petani masih rendah. Ditjenbun akan gencar melakukan sosilaisasi sehingga adopsi varietas unggul yang banyak ini bisa meningkat
Baginda Siagian, Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan Ditjenbun/anggota TPV menyatakan tahun depan produksi gula ditargetkan 4 juta ton, sedang tahun 2027 5 juta ton. Taksasi produksi gula tahun 2025 2,9 juta ton, sehingga untuk mencapai target 2026 perlu tambahan produksi 1,1 juta ton. Harus banyak yang dilakukan untuk mencapai target ini.
Selama ini petani terlalu menyukasi varietas BL, padahal sudah banyak varietas unggul lain tetapi belum banyak diadopsi petani. “Saya tidak tahu apakah varietas unggul yang sudah dilepas ini masih disempurnakan lagi oleh pemiliknya sehingga tidak kunjung diadopsi petani atau masih ada faktor lain,” katanya.
BL dengan produksi tebu 70 ton/ha dan rendemen rata-rata 7, dengan proporsi masak akhir 60-70% kalau ada benih unggul yang bisa menggantikan dengan produksi 100 ton dan rendemen 8% maka target akan bisa dicapai.
Kebutuhan benih akan semakin meningkat sebab tahun depan akan dilaksanakan bongkar ratoon 200.000 ha dengan pelaksana utama PT Sinergi Gula Nusantara. Dalam dua tahun juga ada perluasan sampai 500.000 ha. Karena itu Baginda menyambut baik benih unggul baru yang mendapat persetujuan untuk dilepas.
SGN 01 merupakan varietas dengan karateristik masak tengah lambat , potensi produksi dan rendemen tinggi , unggul di lahan regosol (ringan) dan alluvial (berat), mampu meningkatkan pendapatan petani. Sedang Panjalu 1 hasil pengamatan petani tebu Joyo Irawan ini produktivitas tinggi dan relatif tahan terhadap luka api. Sebagai varietas lokal sudah banyak diadopsi petani tebu di Jatim.
TPV tanaman perkebunan minta kedua pengusul memberikan dokumen perbaikan sebelum mengeluarkan surat rekomendasi kepada Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian untuk menerbitkan Keputusan Menteri Pertanian soal pelepasan varietas tebu SGN 01 dan Panjalu 1.

