Medan, mediaperkebunan.id – Setidaknya ada tiga komponen dalam pengendalian hama terpadu (HPT) yang diyakini bisa digunakan untuk mengatasi ganoderma di perkebunan kelapa sawit, baik milik petani maupun perusahaan.
“Tiga komponen PHT tersebut sudah diterapkan dalam pengendalian ganoderma secara terpadu di perkebunan sawit milik salah satu petani di Kabupaten Simalungun,” ucap Ketua Umum Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI), Dr Ir Darmono Taniwiryono, kepada Mediaperkebunan.id, Sabtu (12/7/2025).
Dirinya berada di Kecamatan Hutabayuraja, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) beberapa hari yang lalu dalam rangka Safari Ganoderma 4 yang didukung sepenuhnya oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Safari Ganoderma 4, kata dia, juga dilakukan di Desa Bangun Purba, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai). “Saya didampingi Pak Fery Harianja selaku pengurus MAKSI selama menjalani Safari Ganoderma 4 ini,” kata Darmono Taniwiryono.
Dia menjelaskan, tiga komponen PHT dalam pengendalian ganoderma itu adalahroot prunning for root rejuvenation, aplikasi tichoderma pemantik induced systemic resitance (ISR) yang juga berperan sebagai biofertilizer.
“Serta aplikasi bahan organik seperti tandan kosong (tankos) sawit. Bahkan tankosnya pun tidak perlu yang sudah yang sudah terkomposkan,” kata Darmono Taniwiryono.
Kata Darmono, proses root prunning dilakukan dengan membuat parit melingkar di tepi piringan tanaman sawit minimal sedalam 30 sentimeter (cm) selebar cangkul. “Semakin dalam semakin bagus karena berarti akan banyak akar tanaman sawit yang diremajakan,” tutur Darmono Taniwiryono lebih lanjut.
Adapun sasaran aplikasi ini adalah tanaman yang tajuknya sudah meluruh atau panjang dan ukuran pelepah daun dewasa relatif kecil, terbentuk lebih dari dua daun tombak dan belum terbentuk banyak tubuh buah.
Nah, kata Darmono Taniwiryono, selanjutnya dilakukan pengamatan selama dua bulan setelah aplikasi, yaitu dengan mengecek pembentukan akar serabut di parit perlakuan.
Lalu pengamatan kembali dilakukan tiga bulan pascapenerapan aplikasi, yaitu dengan mengecek kesehatan tajuk. Lalu pengamatan dilakukan lagi 12 bulan dengan mengecek perkembangan tandan buah segar (TBS).Yang menarik, kata Darmono Taniwiryono, dalam Safari Ganoderma 4 tersebut terungkap juga soal mitos yang menyebutkan bahwa alat sawit yang sehat bila terpotong akan menjadi tempat infeksi ganoderma.
“Faktanya adalah, selain trichoderma lebih cepat dari pada ganoderma, apalagi pada kondisi tersedia bahan organik yang cukup. Justru terjadi proliferasi akar rambut atau feeding roots,” tegas Darmono Taniwiryono.
Sebagai informasi, perwakilan dari Unit Pelayanan Terpadu Daerah (UPTD) Kecamatan Hutabayuraja menyampaikan apresiasi yang tinggi atas terselenggaranya Safari Ganoderma 4 itu.
Pihak UPTD sangat berterimakasih kepada Tim MAKSI dan adanya fasilitasi pendanaan dari BPDP terhadap kegiatan itu, serta mengapresiasi proses pembagian ilmu pengetahuan soal cara menangani ganoderma kepada para petani sawit.
Pihak UPTD berharap kegiatan seperti yang dilakukan MAKSI dan BPDP bisa dilakukan di tingkat kecamatan, sehingga lebih banyak lagi petani penerima manfaat tentang pengendalian ganoderma ini.

