Bogor, mediaperkebunan.id – Sawit yang berkembang di Indonesia dan Malaysia juga memberi makan dunia sekarang adalah Elaeis guineensis yang berasal dari Afrika. Species lain sawit adalah E Oleifera dari Amerika Latin.
“Species dari Amerika Latin ini sangat bernilai tetap berisiko tinggi. Keunggulan genetiknya kadar minyak tinggi dan lebih tahan terhadap beberapa penyakit sawit tetapi berisiko membawa penyakit baru,” kata Dwi Asmono, Direktur Sustainability, Penelitian dan Pengembangan PT Sampoerna Agro Tbk/ Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan GAPKI.
Inovasi dengan melakukan pemulian dari sumber daya genetik yang lebih beragam keharusan sebab saat ini yang dihadapi adalah produktivtas yang stagnan antara 2,5-3,5 ton selama 15 tahun. Tekanan yang kuat dari OPT, perubahan iklim, EUDR dan naiknya biaya input. Hanya mengejar produksi tinggi saja hanya membuat sistem yang rapuh dan tidak berkelanjutan
“Pemuliaan sawit kita yang tersebar di 21 produsen kecambah sawit adalah salah satu yang terbaik di dunia. Indonesia juga punya varietas unggul sawit paling banyak di dunia. Potensi produktivitas CPO hasil pemulia Indonesia sudah mencapai 10 ton/ha. Masalahnya Indonesia memiliki sumber daya genetik sawit paling lemah/sedikit. Karena itu introduksi varietas sawit dari luar sangat penting,” katanya.
Pentingnya introduksi sumber daya genetik sawit sebab Indonesia jauh ketinggalan dari Malaysia. Malaysia lewat MPOB punya 1.964 aksesi Elaies guineensis yang berasal dari Nigeria, Kamerun, Zaire, Tanzania, Madagaskar, Angola, Senegal, Gambia, Sierra Leone, Guinea, Ghana. Sedang Indonesia lewat konsorsium Plasma Nutfah Kelapa Sawit Indonesia hanya punya 332 aksesi yang berasal dari Nigeria, Angola dan Tanzania. Sekarang sedang dalam usulan untuk eksplorasi ke Zambia.
Elaeis olieifra, Malaysia punya 184 aksesi dari Amerika Selatan/latin yaitu dari Honduras, Nikaragua, Kostarika, Panama, Kolombia, Suriname, Ekuador. Sedang Indonesia hanya punya 12 aksesi dari Ekuador, sedang dalam usulan untuk eksplorasi di Honduras.
Sawit bukan tanaman asli Indonesia sehingga keragaman genetiknya lemah. Ini merupakan problem yang harus diselesaikan. Memasukan materal genetik menjadi keharusan tetapi sisi lain ada prosedur karantina yang harus diikuti. Di Afrika sawit tidak bisa berkembang karena ada fusarium. Kalau sampai lolos ke sini maka sawit Indonesia bisa habis. Demikian juga Amerika Tengah penyakit kuning.
Solusinya adalah titik keseimbangan produktivitas berkelanjutan yang menyeimbangan proteksi/biosecurity dengan inovasi/litbang. “Tantangannya bukan mendukung yang satu dan meniadakan yang lain tetapi membuat sistem yang menjadikan produktivitas berkelanjutan dan perlindungan berdampingan,” katanya.

