Jakarta, mediaperkebunan.id – Di tengah menurunnya kualitas lahan pertanian, meningkatnya biaya produksi, serta ketidakpastian pasar yang dihadapi petani kecil, transformasi sistem pertanian Indonesia menjadi semakin mendesak. Pendekatan pertanian regeneratif dinilai mampu menjadi strategi pemulihan lahan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi petani.
Isu tersebut menjadi fokus Webinar Series Episode 1 bertajuk “Pemulihan Lahan sebagai Peluang Ekonomi dalam Transformasi Menuju Pertanian Regeneratif” yang diselenggarakan oleh Kaleka Indonesia.
Pertanian regeneratif merupakan pendekatan yang tidak hanya bertujuan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, tetapi juga secara aktif memperbaiki kesehatan tanah, meningkatkan keanekaragaman hayati, memperkuat siklus air, serta membangun sistem usaha tani yang lebih produktif dan tangguh terhadap perubahan iklim. Pendekatan ini juga berpotensi mengurangi ketergantungan petani terhadap input kimia sintetis dengan memanfaatkan sumber daya lokal dan praktik budidaya yang lebih adaptif.
Namun demikian, adopsi pertanian regeneratif di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan akses terhadap sarana produksi, kesenjangan pengetahuan di tingkat petani, hingga belum optimalnya model bisnis yang mampu menjamin keberlanjutan ekonomi petani kecil
Mila Oktavia Mardiani, Koordinator Sistem Pangan Kaleka, memaparkan pengalaman pendampingan petani sawit swadaya di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah melalui program Gawi Bapakat yang mengintegrasikan praktik pertanian regeneratif dengan penguatan rantai pasok komoditas berkelanjutan.
“Fungsi tanah sebagai media tumbuh, tempat kita berpijak, penyimpan air dan tempat tumbuh habitat rusak dan kesuburan tanah kian menurun karena alih guna lahan. Melalui Gawi Bapakat, petani mendapatkan pendampingan di tingkat lahan dan lanskap guna melindungi serta memulihkan ekosistem yang menopang sektor pertanian dan keanekaragaman hayati,” katanya.
Penerapan pertanian regeneratif pada sistem kelapa sawit monokultur skala kecil terbukti secara signifikan meningkatkan produksi sebesar 12%. Praktik pertanian regeneratif meningkatkan kesuburan tanah melalui peningkatan nilai C organik. Dengan pergeseran dari ketergantungan pupuk anorganik ke pemanfaatan limbah lokal seperti sisa panen, gulma, dan limbah rumah tangga sebagai bahan baku pupuk organik, petani dapat meningkatkan efisiensi manajemen kebun secara mandiri.
Dr. Heru Bagus Pulunggono dari Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB University menyatakan kondisi tanah di Indonesia pada umumnya bersifat masam dengan tingkat kesuburan yang relatif rendah, sementara curah hujan tinggi menyebabkan pencucian unsur hara berlangsung cepat. Dalam situasi seperti ini, praktik pertanian yang hanya mengejar produksi tinggi tanpa pengelolaan lahan yang baik akan mempercepat degradasi tanah.
“Karena itu, pendekatan yang lebih berkelanjutan—yang memadukan perbaikan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah serta praktik pertanian yang ramah lingkungan—menjadi kunci untuk menjaga produktivitas,” katanya.
Mansuetus Darto dari Tani Baik menyatakan sejak revolusi industri, banyak petani terdorong mengadopsi sistem pertanian konvensional yang menekankan peningkatan produksi melalui penggunaan teknologi dan input kimia. Padahal, jauh sebelum itu, petani Indonesia telah mengenal berbagai praktik yang menjaga keseimbangan alam dan kesuburan tanah.
“Melalui Tani Baik, kami ingin mengingatkan kembali bahwa pertanian regeneratif bukanlah hal baru, melainkan pengetahuan yang sudah lama dimiliki petani dan kini perlu dihidupkan kembali untuk masa depan sawit yang lebih berkelanjutan,” kata Darto.
Darto menekankan pentingnya penguatan kelembagaan petani dan keterhubungan dengan pasar untuk memastikan praktik pertanian berkelanjutan dapat memberikan manfaat ekonomi nyata bagi petani kecil.
Rosita Istiawan, penggiat lingkungan sekaligus pengelola Hutan Organik Megamendung, berbagi pengalaman rehabilitasi lahan terdegradasi melalui pendekatan organik. Sejak tahun 2000, ia berhasil memulihkan lahan bekas perkebunan teh yang sangat asam menjadi kawasan berhutan seluas sekitar 30 hektare dengan puluhan ribu pohon, yang kini juga berfungsi sebagai laboratorium alam untuk pembelajaran restorasi lahan.
“Dulu lahan yang kami kelola adalah tanah gersang dan sangat asam. Kami menanam pohon satu per satu, merawatnya dengan sabar, dan menggunakan teknik tumpang sari dengan sayuran agar tanah tetap lembap tanpa bahan kimia. Setelah bertahun-tahun, lahan yang dulu kritis kini berkembang menjadi lebih dari 30 hektare hutan organik,” katanya.
Setiap kali ada pohon yang mati, segera diganti. Pohon endemik dari seluruh Indonesia ada di sini. Semuanya tumbuh tanpa campuran bahan kimia, murni organik. Dulu tetangga kesulitan air, sekarang bisa mengalir dari mata air di sini.

