Jakarta, mediaperkebunan.id – Mengutip Apkasindo, Petrus Tjandra, Inovator PKS teknologi SPOT menyatakan ada 6,4 juta ha kebun petani yang kesulitan menjual TBSnya. Akibatnya petani sawit mendapat harga TBS yang relatif rendah. Sebarannya terdapat di Banten, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Bengkulu, Papua Barat, Lampung, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Kalimantan Utara, Aceh.
Pabrik Kelapa Sawit terintegrasi dengan kebun di daerah-daerah ini kapasitasnya sudah hampir terpenuhi dari kebun inti dan plasma mitranya. Pabrik tanpa kebun dan pabrik brondolan juga tidak banyak berinvestasi di daerah-daerah ini.
Kelembagaan petani dengan kondisi seperti ini tidak mungkin berinvestasi membangun PKS seperti yang dikenal sekarang. Karena itu Petrus Tjandra membawa teknologi yang memungkinkan petani membangun PKS.
Teknologi ini adalah SPOT (Steamless Palm Oil Technology), konsep baru pengolahan sawit tanpa uap. Teknologi ini diyakini dapat memangkas biaya operasional dan membuat proses pengolahan lebih efisien. Saat ini, SPOT sedang dalam tahap persiapan uji coba di Indonesia sebelum benar-benar diterapkan secara luas.
Berbeda dengan sistem pabrik kelapa sawit konvensional yang mengandalkan pengolahan tandan buah segar (TBS) utuh menggunakan proses perebusan dengan uap (sterilizer), SPOT hanya menggunakan berondolan sebagai bahan baku utama. Dengan sistem ini, TBS tidak lagi harus diangkut ke pabrik. Begitu panen dilakukan, tandan kosong langsung ditinggalkan di kebun sebagai pupuk organik, sementara hanya berondolan yang dibawa ke pabrik.
“Cara ini mengubah alur logistik secara fundamental,” jelas Petrus. “Selama ini, kita mengangkut TBS utuh ke pabrik, memisahkan berondolan dari tandan menggunakan thresher, lalu mengangkut tandan kosong kembali ke kebun. Itu berarti dua kali biaya transportasi hanya untuk tandan kosong. Dengan SPOT, biaya itu bisa dipangkas habis karena tandan kosong sudah tertinggal di kebun sejak awal.”
Selain efisiensi transportasi, Petrus juga menekankan bahwa SPOT dirancang agar pabrik dapat beroperasi lebih stabil sepanjang tahun. Dengan kapasitas yang diatur khusus, pabrik berbasis SPOT diklaim mampu menjaga utilitas di atas 80%, bahkan pada musim produksi rendah (low crop). Hal ini dimungkinkan karena berondolan bisa ditumpuk lebih lama dan tetap diolah ketika pasokan buah segar menurun.
Menanggapi hal ini, Ir. Posma Sinurat, MT, Ketua P3PI (Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia) Bidang Pabrik Kelapa Sawit, menyatakan ide SPOT cukup menarik, namun tetap membutuhkan pembuktian teknis di lapangan.
“Jika mesin pelepas berondol benar-benar bisa bekerja efektif dan efisien di kebun, tentu keuntungan bagi industri cukup besar,” ujarnya. “Saat ini mayoritas pabrik masih menggunakan sistem konvensional. TBS diangkut ke pabrik dengan tandan kosongnya, berondolan dilepas di thresher, lalu tandan kosong diangkut kembali ke kebun sebagai pupuk. Itu artinya ada dua kali transportasi untuk tandan kosong. SPOT bisa memutus rantai ini.”
Meski demikian, Posma juga mengingatkan adanya tantangan yang tidak bisa diabaikan. Salah satunya adalah risiko peningkatan kadar asam lemak bebas (FFA) pada berondolan yang disimpan terlalu lama. “Jika konsep menumpuk berondolan saat panen raya lalu mengolahnya di musim low crop benar-benar diterapkan, maka FFA berpotensi naik tajam. Tentu ini harus dipertimbangkan dengan matang,” jelasnya.
Namun Posma tidak menutup diri terhadap inovasi baru ini. “Apabila kenaikan FFA tidak menjadi masalah dalam sistem pengolahan SPOT, maka ini layak dicoba. Kita harus membuktikannya langsung dalam skala nyata di pabrik, bukan hanya di atas kertas,” tambahnya.
Hadirnya teknologi SPOT menambah warna baru dalam diskusi mengenai masa depan pabrik kelapa sawit di Indonesia. Selama ini, isu produktivitas dan efisiensi menjadi perbincangan utama, mengingat biaya operasional yang terus meningkat dan tuntutan pasar global terhadap produk sawit yang lebih berkelanjutan.
Jika SPOT terbukti efektif, maka Indonesia bisa menjadi salah satu pionir dalam penerapan teknologi pengolahan sawit tanpa uap. Efisiensi transportasi, pengurangan penggunaan energi, serta potensi pemanfaatan tandan kosong sebagai pupuk langsung di kebun akan menjadi nilai tambah.
Pada saat yang sama, industri juga menunggu pembuktian apakah SPOT mampu menjaga kualitas minyak yang dihasilkan, khususnya terkait dengan kendala kenaikan FFA. Bagaimanapun juga, konsistensi kualitas tetap menjadi syarat utama agar teknologi baru ini dapat diterima oleh pasar.
“Inovasi seperti SPOT menunjukkan bahwa industri sawit tidak pernah berhenti bergerak. Dari kebun hingga pabrik, selalu ada ruang untuk efisiensi, pembaruan, dan terobosan teknologi. Jika uji coba berjalan baik, SPOT bisa menjadi salah satu tonggak baru dalam sejarah pengolahan sawit di Indonesia,” kata Posma lagi.
Topik ini akan dibahas juga di 5th IPOSC (Indonesian Palm Oil Smallholder Conference an Expo) yang dilaksanakan tanggal 24-25 September di Hotel Q Qubu Resort, Kubu Raya, Kalbar. Petrus Tjandra dan Posma Sinurat akan membawakan topik ini. Kesempatan baik bagi kelembagaan petani untuk mengenal dan menjajaki kerjasama pendirian PKS SPOT.

