Jakarta, mediaperkebunan.id – Menurut Dini Astika Sari, Kepala Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, tantangan kakao rakyat di Indonesia adalah 88% hama, 85% penyakit, 40% kekeringan panjang, 10% kurangnya akses pendanaan. Sedang di Ghana hama 65%, penyakit 43%, kurangnya akses pendanaan 43%. Pantai Gading hama 68%, penyakit 40%, kekeringan panjang 38%, kurangnya akses pendanaan 5%.
Perubahan iklim global berdampak kepada degradasi kesehatan lahan dan pergeseran kesesuaian lahan, yang meningkatkan kejadian hama dan penyakit masif (VSD, PPR, PCB), dibutuhkan upaya rekayasa budidaya tangguh iklim dan ketersediaan bahan tanam adaptif. Kesenjangan adopsi tingkat petani, contoh penggunaan monoklonal masif penyebab turunnya produksi nasional, dibutuhkan substation teknologi pada area sentra kawasan dan skema penyuluh perkebunan yang kompeten.
Kondisi eksisting petani kakao dan tantangan pengembangannya adalah produktivitas rendah <0,6 ton/ha, disebabkan penggunaan benih asalan yang tidak berkualitas, >60% tanaman kakao tua dan rusak, pertanaman kakao diabaikan, menggunakan skema penanaman monoklonal dan praktek budidaya belum optimal. Ketersediaan teknologi dan akses untuk peningkatan kapasitas SDM terampil, perlu penguatan ekosistem riset dan pengembangan teknologi yang terus dikinikan berdasarkan isu-isu strategis mengatasi permasalahan petani.
Petani memiliki keterbatasan modal dan akses permodalan untuk budidaya. Kakao sangat rentan terhadap serangan hama penyakit seperti penggerek buah kakao dan jamur. Rekomendasi pengendalian yang efektif memerlukan pengetahuan yang mendalam dan akses terhadap pestisda yang aman dan efisien.
Sebagian besar petani tidak mempraktikkan pengolahan standar, terlebih fermentasi. Penyebabnya keterbatasan alat pengolahan, kebutuhan cashflow yang cepat. Perlu integrasi tumpang sari dengan aktivitas budidaya tanaman lain yang meningkatkan pendapatan petani dan valorisasi. Tantangan pengembangan tata kelola komoditas kakao berkelanjutan adalah ketersediaan data faktual dan akuntabel.
Ekosistem riset dan pengembangan teknologi secara kolektif untuk peremajaan tanaman terprogram, peningkatan produktivitas, resiliensi terhadap perubahan iklim, akses pembiayaan khusus petani kakao, farm gate price untuk hadapi fluktuasi harga, dukungan infrastruktur dan sarpras kebun, peningkatan kelembagaan pekebun kakao, peningkatan kualitas produk.
“Peran pemerintah sangat penting untuk dalam merancang renstra komoditas berkelanjutan dan sinergi multistakeholder,” kata Dini.
Skema rehabiltasi tanaman kakao dengan mengkonversi tanaman inferior menjadi superior , upgrade dengan self fenotif. Harus ada intervensi untuk menentukan pohon induk terpilih, transpalantasi entres, menentukan kompabilitas dan variasi komposisi genetik/klon. Harus didukung dengan penyediaan batang bawah atau memanfaatkan vegetasi tanaman yang ada (rehabilitasi), pemenuhan vegetasi tanaman, peningkatan kemampuan dan pengetahuan petani, pendampingan dan penyediaan konsultasi petani. Risikonya adalah outbreak HPT dan penerapan GAP.
Membandingkan produksi dan harga kakao dunia dari tahun 2008/2009- 2023/2024 pada umumnya tren penurunan harga kakao dunia akan sangat dipengaruh tren keberlimpahan stok (oversupply) yaitu tahun 2016-2017. Stagnasi produksi bahkan yang mengarah pada penurunan produksi global akan menginduksi kenaikan harga yang volatile seperti yang terjadi tahun 2023/2024. Suplai global dan stok permintaan berdampak signifikan terhadap harga kakao global, diperlukan upaya menjaga keberlanjutan stok guna menjaga neraca stok dan harga yang stabil.

